RADAR BANYUWANGI - Suara ketukan mesin tik memang tak lagi akrab terdengar di perkantoran.
Komputer dan printer telah menggantikan perangkat mekanis yang dahulu menjadi andalan untuk membuat berbagai dokumen.
Namun, bagi Suharto, mesin tik masih menjadi bagian dari kesehariannya.
Pria asal Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi itu tetap menekuni jasa servis mesin tik.
Keahlian tersebut sudah dipelajarinya sejak 1987.
Bukan dari kursus maupun sekolah khusus, melainkan langsung dari orang tuanya.
Awalnya, Suharto hanya ingin membantu pekerjaan orang tua.
Dari situlah ia mulai mengenali komponen mesin tik, memahami cara kerjanya, hingga mampu memperbaiki kerusakan sendiri.
“Belajarnya dari orang tua. Awalnya membantu orang tua juga supaya pekerjaannya lancar,” ujarnya pada Radar Banyuwangi, Selasa (29/9).
Menurut Suharto, memperbaiki mesin tik sebenarnya tidak terlalu sulit.
Kuncinya adalah ketekunan.
Semakin sering mengamati dan menangani kerusakan, seseorang akan semakin mengenali karakter setiap komponen.
Masa kejayaan jasa servis mesin tik masih melekat dalam ingatannya.
Suharto menyebut periode 1990 hingga 1995 sebagai masa ketika permintaan perbaikan cukup ramai.
Saat itu, mesin tik masih banyak digunakan di berbagai tempat.
Otomatis, kebutuhan terhadap jasa perawatan dan perbaikannya juga tinggi.
Situasi mulai berubah pada akhir 1990-an.
Sekitar 1997 hingga 1998, permintaan servis mulai menurun. Komputer semakin banyak digunakan.
Printer dot matrix pun mulai menggantikan sebagian fungsi mesin tik.
“Sekarang sudah musim komputer dan printer. Jadi, tidak seperti dulu,” katanya.
Perubahan teknologi itu membuat pelanggan Suharto kini jauh berkurang.
Meski demikian, bukan berarti jasa servis mesin tik benar-benar hilang.
Sampai sekarang masih ada orang yang datang membawa mesin tik untuk diperbaiki.
Pelanggannya tersebar di wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Suharto pun tidak mengandalkan promosi melalui media sosial atau iklan.
Pelanggan biasanya mengetahui jasanya melalui jaringan pertemanan dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Kerusakan yang ditangani beragam.
Salah satu yang cukup sering dijumpai adalah bagian huruf atau letter yang terlepas.
Komponen tersebut termasuk bagian yang rentan mengalami masalah.
Selain itu, ada pekerjaan yang lebih sederhana, seperti mengganti pita atau ribbon mesin tik.
Tarif servis disesuaikan dengan tingkat kerusakan.
Saat ini, Suharto mematok biaya jasa sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu.
Besarnya biaya tersebut juga disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan pekerjaan yang harus dilakukan.
Meski telah puluhan tahun menekuni pekerjaan itu, Suharto mengaku tidak ada anaknya yang meneruskan keahlian tersebut.
Ia menyampaikannya sambil tertawa kecil.
“Tidak ada yang meneruskan,” ujarnya.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan jasa servis mesin tik.
Apalagi, jumlah pengguna mesin tik terus menyusut seiring perkembangan perangkat digital.
Bagi Suharto, perubahan zaman memang tidak bisa dihindari.
Mesin tik yang dahulu menjadi perlengkapan penting di meja kerja kini lebih banyak tersimpan atau digunakan untuk kebutuhan tertentu.
Namun, selama masih ada mesin tik yang membutuhkan perbaikan, keterampilan yang dipelajarinya sejak 1987 itu tetap memiliki tempat.
Di tengah dominasi komputer dan printer, Suharto masih setia berkutat dengan tombol, pita, dan deretan huruf mesin tik.
Sebuah pekerjaan yang kini semakin jarang ditemui, tetapi menyimpan jejak perjalanan teknologi dari masa ke masa.
Editor : Lugas Rumpakaadi