Banyuwangi Dapat Tiga Program Inklusi Liliane Foundation hingga 2028

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 05:40 WIB
JALIN KERJA SAMA: Programme Manager Liliane Foundation Belanda Classina Nicole saat berada di Lounge Pelayanan Publik Kantor Pemkab Banyuwangi pada Selasa (22/9). (Istimewa)
JALIN KERJA SAMA: Programme Manager Liliane Foundation Belanda Classina Nicole saat berada di Lounge Pelayanan Publik Kantor Pemkab Banyuwangi pada Selasa (22/9). (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi menjadi satu-satunya daerah yang mendapat tiga program sekaligus dari Liliane Foundation (LF) Belanda dalam program Building Effective Networking (BEN). Kolaborasi yang berlangsung pada periode 2025–2028 itu menyasar pemenuhan hak, pemberdayaan, dan partisipasi anak serta pemuda penyandang disabilitas.

Dukungan tersebut menguatkan upaya Pemkab Banyuwangi membangun lingkungan yang lebih inklusif. Program itu dijalankan Liliane Foundation bersama NLR Indonesia serta mitra lokal di Banyuwangi, yakni Aura Lentera dan Rumah Literasi.

Dukungan tersebut disampaikan Programme Manager Liliane Foundation Belanda Classina Nicole saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Selasa (22/9).

Pertemuan itu turut dihadiri tim pelaksana nasional NLR Indonesia dan tim pelaksana program BEN di Banyuwangi.

Classina mengatakan Liliane Foundation selama ini mendukung anak dan pemuda penyandang disabilitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pelaksanaan program dilakukan melalui kerja sama dengan mitra lokal.

Di Indonesia, program tersebut dijalankan NLR Indonesia melalui Building Effective Networking (BEN). Saat ini BEN telah berjalan di delapan kabupaten/kota yang tersebar di tiga provinsi.

Namun, Banyuwangi memiliki posisi khusus karena memperoleh tiga program sekaligus.

“Karena komitmen tinggi dari pemerintah dan stakeholder, Banyuwangi menjadi satu-satunya daerah yang mendapatkan tiga program sekaligus,” ujar Classina.

Tiga Program untuk Perkuat Inklusi

Tiga program yang digulirkan tersebut memiliki fokus berbeda tetapi saling berkaitan.

Pertama, Community Based Rehabilitation (CBR) atau rehabilitasi bersumber daya masyarakat. Program ini diarahkan untuk memastikan anak penyandang disabilitas memperoleh pendampingan dan akses terhadap layanan yang dibutuhkan.

Kedua, Meaningful Youth Participation yang mendorong pemberdayaan sekaligus membuka ruang partisipasi bermakna bagi anak dan remaja.

Ketiga, Body Talk, program yang berfokus pada pencegahan kekerasan seksual berbasis gender.

Ketiganya dilaksanakan dalam periode 2025 hingga 2028.

Menurut Classina, keterlibatan pemerintah daerah menjadi faktor penting agar program tidak berhenti sebagai intervensi jangka pendek. Kolaborasi diharapkan mampu membuat layanan yang dibangun lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

“Karena dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, kita dapat membuat program yang benar-benar berkelanjutan dan saling melengkapi,” katanya.

155 Anak Sudah Didampingi

Dampak program BEN mulai terlihat di tingkat desa. Indah Catur Cahyaningtyas dari Aura Lentera menyebut, saat ini program di Banyuwangi telah menjangkau 155 anak penyandang disabilitas di tujuh desa.

Setiap anak mendapatkan pendampingan dari Community Based Rehabilitation (CBR) Worker.

Pendampingan tidak dilakukan dengan pola seragam. Setiap anak memiliki kebutuhan berbeda sehingga intervensi disusun secara individual melalui Individual Rehabilitation Plan (IRP) Logbook.

Dokumen tersebut memuat identitas anak, hasil identifikasi dan asesmen, hingga kebutuhan intervensi yang diperlukan.

Pendekatan tersebut memungkinkan CBR Worker tidak hanya melihat kondisi disabilitas seorang anak, tetapi juga memetakan hambatan yang membuat mereka kesulitan mendapatkan layanan.

Salah satu contohnya terjadi pada seorang anak di Klatak yang mengalami cerebral palsy dan membutuhkan terapi.

Persoalannya bukan semata kebutuhan medis. Kondisi ekonomi keluarga membuat akses terhadap terapi menjadi sulit.

Dalam situasi tersebut, CBR Worker terlebih dahulu memastikan anak memiliki administrasi kependudukan yang lengkap. Setelah itu, pendamping membantu keluarga mengakses berbagai layanan yang tersedia.

Mulai administrasi kependudukan, jaminan sosial, hingga layanan terapi gratis.

“Contohnya ada salah satu anak di Klatak yang menyandang cerebral palsy dan membutuhkan terapi. Namun karena berasal dari keluarga kurang mampu, mereka kesulitan membiayai terapi,” terang Indah.

Menurut dia, pendampingan kemudian diarahkan agar anak dan keluarga bisa terhubung dengan layanan yang sesuai kebutuhannya.

Pemkab: Semangatnya Setara

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi dukungan Liliane Foundation, NLR Indonesia, serta para mitra pelaksana program di Banyuwangi.

Menurut Ipuk, pembangunan inklusif membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyediakan kebijakan dan layanan, tetapi keterbatasan sumber daya membuat kolaborasi menjadi kebutuhan.

“Pemkab terus berkomitmen menjadi daerah inklusi melalui berbagai program. Namun, tentunya tangan pemerintah sangat terbatas. Karena itu, adanya dukungan dari Liliane Foundation dan segenap tim sangat kami apresiasi,” kata Ipuk.

Komitmen tersebut selama ini diwujudkan melalui sejumlah kebijakan. Salah satunya Rembug Disabilitas yang digelar setiap tahun untuk membuka ruang komunikasi dan menyerap kebutuhan penyandang disabilitas.

Pemkab juga mengembangkan sistem pendidikan inklusif, membuka kesempatan karier bagi penyandang disabilitas melalui formasi ASN, serta memberikan pelatihan kerja terapan.

Pelatihan tersebut antara lain mencakup keterampilan pertukangan. Di sektor ekonomi, Pemkab juga memfasilitasi legalitas usaha bagi UMKM penyandang disabilitas, mulai Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, hingga sertifikasi halal.

Berbagai program tersebut diarahkan pada satu gagasan besar: memastikan penyandang disabilitas tidak sekadar menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi memiliki akses dan kesempatan yang setara.

“Semangatnya adalah setara,” pungkas Ipuk. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Liliane Foundation Disabilitas Banyuwangi NLR Indonesia Program BEN pembangunan inklusif