RADAR BANYUWANGI — Ketika hujan belum juga datang dan sebagian warga Banyuwangi mulai mengandalkan pasokan air bersih, ikhtiar dilakukan dari berbagai sisi. Tak hanya mendatangkan bantuan air, petugas dan warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi kemarin (20/9) juga menengadahkan tangan melalui Salat Istisqa, memohon agar hujan segera turun membawa manfaat bagi masyarakat.
Salat Istisqa digelar di Lapangan Blambangan Lapas Banyuwangi. Kepala Lapas Banyuwangi Solichin bersama jajaran petugas dan warga binaan mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk hingga ditutup doa bersama.
Momen tersebut menjadi gambaran bagaimana kemarau tidak hanya dihadapi dengan langkah teknis, tetapi juga dengan ikhtiar spiritual.
Saat Air Bersih Mulai Jadi Persoalan
Kemarau yang berlangsung beberapa bulan terakhir mulai terasa di sejumlah wilayah Banyuwangi. Beberapa desa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sehingga pasokan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan elemen terkait menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Situasi tersebut membuat ketersediaan air menjadi persoalan yang semakin mendapat perhatian.
Kondisi kemarau juga dapat dipengaruhi fenomena iklim seperti El Niño, yang berkaitan dengan perubahan pola curah hujan dan dapat membuat sejumlah wilayah Indonesia mengalami periode lebih kering.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan air untuk rumah tangga, lingkungan, hingga aktivitas masyarakat menjadi semakin penting.
Dari Lapangan Lapas, Doa untuk Hujan
Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dilaksanakan ketika terjadi kekeringan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.
Bagi warga Lapas Banyuwangi, pelaksanaan salat tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menguatkan kebersamaan di tengah kondisi kemarau.
Solichin mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk ikhtiar bersama. Upaya menghadapi kemarau, menurut dia, tidak hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi juga melalui doa.
“Salat Istisqa ini menjadi ikhtiar kita bersama. Di tengah kondisi kemarau dan minimnya hujan, kita tidak hanya berusaha secara lahiriah, tetapi juga memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” katanya.
Petugas dan warga binaan mengikuti prosesi dengan tertib. Setelah salat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama.
Tidak ada sekat antara petugas dan warga binaan dalam momen tersebut. Keduanya berdiri dalam satu barisan, memanjatkan harapan yang sama: hujan segera turun dan membawa manfaat bagi kehidupan.
Menguatkan Kepedulian di Balik Kekeringan
Bagi Lapas Banyuwangi, Salat Istisqa tidak semata-mata menjadi kegiatan keagamaan. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual, kepedulian, dan rasa kebersamaan di lingkungan lapas.
Solichin mengajak petugas dan warga binaan menghadapi kondisi sulit dengan tetap menjaga ketakwaan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak seluruh petugas dan warga binaan bersama-sama memohon kepada Allah SWT. Semoga hujan segera turun, memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, serta menjadi pengingat bagi kita untuk selalu bersyukur dan menjaga apa yang telah diberikan oleh-Nya,” pungkasnya.
Bagi Banyuwangi yang mulai merasakan dampak kemarau, datangnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Hujan berarti kembali terisinya sumber air, berkurangnya ketergantungan terhadap distribusi air bersih, sekaligus sedikit ruang bernapas bagi warga yang menghadapi kekeringan.
Dan dari Lapangan Blambangan Lapas Banyuwangi, harapan itu dipanjatkan bersama—ketika ikhtiar manusia bertemu dengan doa untuk langit yang kembali menurunkan air. (*)
Editor : Ali Sodiqin