Tak Mau Tutup, Pabrik Tahu di Sempu Bongkar dan Cor Ulang Lima Kolam IPAL

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 01:30 WIB
Kolam limbah pabrik tahu di Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu kini ditutup rapat, Minggu (20/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Kolam limbah pabrik tahu di Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu kini ditutup rapat, Minggu (20/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Keluhan warga Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, terkait bau menyengat limbah industri tahu mulai menemukan titik terang. Pemilik pabrik tahu bergerak memperbaiki sistem pengolahan limbah sesuai rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, sementara pengawasan di lapangan terus dilakukan untuk memastikan perbaikan benar-benar berdampak.

Perubahan itu mulai terlihat setelah mediasi antara pemilik usaha dan pihak terkait pada Selasa (15/9). Watini, pemilik pabrik tahu, langsung menindaklanjuti sejumlah rekomendasi DLH untuk menekan dampak limbah yang selama ini dikeluhkan warga.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengubah metode pengolahan pada kolam penampungan limbah.

Watini menerapkan pengolahan secara anaerobik dengan menutup kolam menggunakan kombinasi paranet dan plastik tebal kedap udara. Metode tersebut ditujukan untuk menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri pengurai polutan sehingga proses penguraian limbah dapat berlangsung lebih optimal.

Hasil awalnya mulai terasa.

“Sejauh ini bau sudah berkurang,” kata Watini.

Lima Kolam IPAL Dibongkar dan Diperkuat

Perbaikan tidak berhenti pada penutupan kolam limbah.

Sesuai rekomendasi DLH Banyuwangi, lima kolam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kini tengah dibenahi secara menyeluruh. Konstruksi kolam diperkuat menggunakan beton cor agar sistem pengolahan limbah lebih terstruktur dan dapat bekerja sesuai fungsinya.

Kelima kolam tersebut nantinya memiliki pembagian fungsi yang berbeda.

Dua kolam digunakan sebagai kolam pengendapan atau sedimentasi. Dua kolam berikutnya berfungsi sebagai kolam aerasi, sedangkan satu kolam lainnya digunakan sebagai bioindikator.

Dengan sistem tersebut, pengolahan limbah diharapkan berlangsung melalui tahapan yang lebih terukur sebelum hasil akhirnya dilepas ke lingkungan.

“Sesuai rekomendasi setelah mediasi, kami kerjakan perbaikan rangkaian IPAL-nya,” ujar Watini.

Perbaikan tersebut masih berjalan. Watini memastikan prosesnya akan terus dikonsultasikan dengan DLH Banyuwangi agar desain dan pengoperasian IPAL dapat menghasilkan penanganan limbah yang lebih efektif.

Pernah Habiskan Rp 25 Juta untuk Biogas

Bagi Watini, persoalan limbah bukan kali pertama coba diselesaikan.

Sebelumnya, dia mengaku telah mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp 25 juta untuk membangun sistem biogas. Namun, sistem tersebut dinilai belum memberikan hasil yang optimal dalam mengatasi persoalan yang muncul.

Karena itu, dia mencoba pendekatan lain dengan mencari berbagai referensi, termasuk jurnal ilmiah yang berkaitan dengan pengolahan limbah industri tahu.

Langkah berikutnya adalah memastikan hasil perbaikan tidak hanya dinilai berdasarkan berkurangnya bau.

Watini menyiapkan pengujian laboratorium untuk mengukur sejumlah parameter kualitas limbah, termasuk Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD).

Kedua parameter tersebut penting dalam menggambarkan beban pencemar organik pada air limbah.

“Kami juga cor beton lima kolam IPAL sesuai rekomendasi DLH dan uji lab agar hasilnya benar-benar terukur,” tandasnya.

Usaha Tak Ingin Ditutup

Di tengah proses pembenahan tersebut, masih ada tuntutan dari sebagian warga agar pabrik tahu ditutup.

Watini menolak tuntutan itu.

Dia menyatakan usaha yang dijalankan telah memiliki legalitas dan perizinan. Selain aspek legalitas, keberadaan pabrik juga berkaitan dengan kehidupan para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.

Sedikitnya 22 buruh bekerja di pabrik tahu tersebut. Mereka membawa penghasilan dari tempat itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing.

Karena itu, Watini memilih menyelesaikan persoalan melalui pembenahan pengelolaan limbah, bukan menghentikan kegiatan usaha.

“Ada banyak kepala keluarga yang kerja di sini. Saya fokus ikuti tatanan DLH supaya bau ini bisa diredam dan usaha bisa lanjut,” tuturnya.

Satpol PP Ikut Mengawal

Proses pembenahan tersebut tidak berjalan tanpa pengawasan.

Pihak kewilayahan melalui Satpol PP Kecamatan Sempu turut melakukan monitoring terhadap tindak lanjut hasil mediasi.

Koordinator Satpol PP Kecamatan Sempu, Oktavianto Yuda, mengatakan pemantauan dilakukan secara rutin. Fokusnya memastikan pekerjaan perbaikan IPAL dan komitmen yang telah disepakati dalam mediasi benar-benar dijalankan.

“Kami terus melakukan monitoring terkait tindak lanjut mediasi,” ujarnya.

Pengawasan menjadi penting karena perbaikan sistem IPAL belum sepenuhnya selesai. Hasil akhir juga masih membutuhkan pengujian untuk mengetahui sejauh mana perubahan sistem tersebut mampu menekan parameter pencemar.

Ujung Persoalan Ada di Hasil Uji

Persoalan limbah pabrik tahu di Tapaklembu kini memasuki fase berbeda.

Jika sebelumnya keluhan warga mendorong dilakukannya mediasi, saat ini perhatian bergeser pada efektivitas langkah perbaikan yang sedang dikerjakan pemilik usaha.

Bau yang disebut mulai berkurang menjadi tanda awal. Namun, keberhasilan penanganan limbah tetap membutuhkan pembuktian melalui sistem IPAL yang berfungsi baik dan hasil pengujian laboratorium.

Di titik inilah kepentingan warga dan keberlangsungan usaha bertemu.

Warga membutuhkan lingkungan yang nyaman tanpa bau menyengat, sedangkan pemilik usaha ingin tetap berproduksi dan mempertahankan mata pencaharian 22 pekerjanya. Perbaikan IPAL, pengujian BOD-COD, serta pengawasan pemerintah menjadi rangkaian penting untuk memastikan keduanya dapat berjalan beriringan.

Dengan kata lain, titik terang persoalan limbah di Tapaklembu belum menjadi garis akhir. Hasil uji dan konsistensi perbaikan IPAL akan menjadi penentu apakah keluhan warga benar-benar dapat diselesaikan secara berkelanjutan. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Desa Temuasri Limbah pabrik tahu IPAL Sempu pabrik tahu Sempu bau limbah