RADAR BANYUWANGI — Daging halal saja belum cukup. Cara penyembelihan, kebersihan alat, hingga penanganan setelah hewan dipotong ikut menentukan apakah daging aman dikonsumsi. Menjawab kebutuhan itu, Pemerintah Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, membekali warga dan para jagal dengan keterampilan penyembelihan hewan yang sesuai syariat sekaligus memenuhi standar higienis.
Pelatihan tersebut dikemas melalui Sosialisasi dan Pelatihan Penyembelihan Hewan Halal dan Higienis yang digelar di Pendopo Kantor Desa Gentengwetan, Jumat (18/9) siang.
Puluhan warga dan juru sembelih setempat mengikuti kegiatan dengan antusias. Bagi pemerintah desa, pelatihan itu bukan sekadar kegiatan menjelang momentum keagamaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi upaya menyiapkan tenaga penyembelih yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai ketika kebutuhan meningkat.
Terutama saat Iduladha maupun hajatan warga.
Tak Sekadar Bisa Menyembelih
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya mendapatkan teori mengenai ketentuan penyembelihan sesuai syariat Islam. Mereka juga dikenalkan dengan prinsip kesehatan masyarakat veteriner agar proses pemotongan menghasilkan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Materi kemudian berlanjut pada praktik.
Peserta dibekali teknik menangani hewan sebelum penyembelihan, termasuk cara merebahkan hewan dengan tepat sehingga tidak menimbulkan stres berlebihan.
Teknik pemotongan juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Peserta diarahkan memahami posisi dan proses pemotongan saluran yang menjadi bagian penting dalam penyembelihan halal.
Setelah hewan disembelih, perhatian tidak berhenti pada proses pemotongan.
Pembersihan dan penanganan daging pascasembelih turut ditekankan untuk mencegah kontaminasi. Sebab, daging yang berasal dari hewan sehat sekalipun tetap berisiko terkontaminasi apabila proses penanganannya tidak memperhatikan kebersihan.
Kebutuhan Jagal Bisa Melonjak
Kepala Desa Gentengwetan H. Syukri mengatakan, pelatihan tersebut merupakan langkah antisipatif pemerintah desa untuk menjawab kebutuhan juru sembelih yang kompeten di lingkungan masyarakat.
Kebutuhan tenaga penyembelih, menurut dia, tidak selalu sama sepanjang tahun. Pada momentum tertentu, jumlah permintaan bisa meningkat tajam.
Salah satunya saat Iduladha ketika banyak warga melaksanakan penyembelihan hewan kurban secara bersamaan.
Hajatan warga juga menjadi momentum lain yang membutuhkan tenaga penyembelih.
“Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi dan pelatihan tata cara penyembelihan yang baik dan benar kepada warga,” ujar H. Syukri.
Dengan bertambahnya warga yang memiliki kemampuan tersebut, pemerintah desa berharap masyarakat memiliki pilihan tenaga penyembelih yang lebih mudah dijangkau ketika membutuhkan.
Pulang Bawa Pisau Sembelih
Ada hal lain yang membuat pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai transfer pengetahuan.
Di penghujung kegiatan, H. Syukri menyerahkan paket alat penyembelihan kepada peserta dan juru sembelih desa. Salah satu perlengkapan yang diberikan berupa pisau khusus sembelih dengan standar kelayakan.
Bantuan tersebut menjadi sarana pendukung agar keterampilan yang diperoleh selama pelatihan bisa langsung diterapkan di lapangan.
“Kami berharap, setelah pelatihan ini masyarakat tidak lagi kebingungan mencari tenaga penyembelih hewan saat ada keperluan, khususnya ketika momen Iduladha,” katanya.
Dukungan peralatan juga menyentuh aspek keamanan dan efisiensi proses penyembelihan.
Pisau yang memenuhi kelayakan dan teknik yang benar diharapkan membuat proses penyembelihan berlangsung lebih efektif sekaligus meminimalkan penderitaan hewan.
Ujungnya: Daging ASUH
Bagi masyarakat sebagai konsumen, seluruh rangkaian pelatihan tersebut bermuara pada satu hal: kualitas daging yang dikonsumsi keluarga.
Proses penyembelihan yang sesuai syariat menjadi bagian dari jaminan kehalalan. Sementara penerapan prinsip higienis dan penanganan pascasembelih menjadi bagian penting untuk menjaga keamanan pangan.
Pemerintah Desa Gentengwetan berharap kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan dukungan peralatan tersebut dapat meningkatkan standar penyembelihan hewan di tingkat desa.
Dengan demikian, warga tidak hanya memiliki lebih banyak juru sembelih ketika kebutuhan meningkat, tetapi juga mendapatkan proses penyembelihan yang lebih tertib, higienis, dan sesuai ketentuan halal.
Dari pendopo desa, pengetahuan itu diharapkan berlanjut ke rumah-rumah warga—setiap kali ada hewan yang disembelih dan dagingnya disajikan untuk keluarga. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin