RADAR BANYUWANGI – Sekitar 5.000 pelari dari berbagai wilayah di Indonesia turun dalam ajang Soekarno Run yang berlangsung di Banyuwangi, Minggu (20/9). Ajang lari yang memperebutkan total hadiah Rp1 miliar tersebut menjadi ruang untuk berolahraga sekaligus mengenang dan meneladani semangat perjuangan presiden pertama sekaligus Proklamator Kemerdekaan RI, Ir. Soekarno (Bung Karno).
Soekarno Run Banyuwangi yang mengambil titik start dan finis di depan Pendapa Sabha Swagata menghadirkan sejumlah kategori lomba, mulai 21 kilometer atau half marathon, 10 kilometer, 5 kilometer, hingga 3 kilometer. Selain kategori umum, panitia juga menyediakan kategori khusus pelajar dengan jarak 1 kilometer serta kategori master.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan (PDI-P) Jawa Timur, Said Abdullah, mengatakan ajang yang dihelat di Banyuwangi ini merupakan penyelenggaraan paling sukses dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Tidak hanya sukses dari segi jumlah peserta yang mencapai 5.000 orang, ajang ini juga dinilai berhasil membangkitkan animo masyarakat serta memberikan dampak nyata bagi sektor riil, mulai UMKM, pedagang kaki lima (PKL), hingga pelaku usaha mikro lokal.
“Kalau dari sisi saya, ini event yang pernah PDI selenggarakan yang paling sukses. Sukses dari sisi peserta, sukses animonya, dan mampu membantu kehidupan sektor riil, khususnya UMKM, PKL, dan pedagang kaki lima,” ujar Said Abdullah.
Dengan skala dan kemeriahan yang luar biasa, Said menegaskan bahwa Banyuwangi kini menjadi titik awal sekaligus tolok ukur bagi ajang-ajang besar PDI Perjuangan berskala nasional. Meskipun kegiatan serupa telah diselenggarakan di beberapa wilayah lain, seperti Sumenep, Surabaya, hingga Malang, Banyuwangi dinilai memiliki kesiapan dan tradisi matang dalam menggelar acara-acara besar.
“Banyuwangi itu terbiasa melaksanakan event-event besar. Oleh karena itulah Banyuwangi menjadi titik awal untuk event-event besar yang skalanya memang bisa kita semua saksikan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari agenda tahunan DPD PDI-P Jawa Timur, terdapat lima wilayah yang rutin menggelar rangkaian kegiatan serupa setiap dua bulan sekali, yakni Banyuwangi, Surabaya, Madura Raya (Sumenep), Malang Raya, dan Mataraman (Madiun). Namun, kemeriahan di Banyuwangi tetap menempati posisi khusus dengan daya tarik tersendiri.
Salah satu daya tarik yang unik dan mencuri perhatian dalam Soekarno Run di Banyuwangi adalah disediakannya kategori khusus lari jarak pendek bagi anak-anak, yakni kategori 1K. Menurut Said, pelibatan anak-anak sejak usia dini tersebut memiliki filosofi mendalam untuk membiasakan generasi muda hidup sehat melalui olahraga.
“Justru itulah pentingnya kenapa baru ada 1K, berbeda dengan yang di Sumenep, Surabaya, dan Malang, karena sejak kecil anak-anak kita dibiasakan hidup sehat dengan berolahraga,” jelas Said.
Melalui pendekatan kebudayaan, olahraga, hingga ruang dialog kerakyatan, PDI Perjuangan berharap dapat terus merajut persatuan dan menumbuhkan karakter positif di kalangan anak muda.
“Setiap event yang diselenggarakan oleh PDI Perjuangan pasti semangatnya adalah ingin menumbuhkan karakter baru di antara anak muda kita lewat olahraga, lewat tari-tarian, lewat berbagai hal yang semuanya akan merajut kebersamaan kita,” tegasnya.
Tak hanya itu, sebagai bentuk komitmen nyata, Said Abdullah mengungkapkan bahwa pihaknya telah menetapkan total hadiah mencapai Rp5 miliar untuk penyelenggaraan ajang serupa tahun depan di Banyuwangi. Besarnya hadiah yang disiapkan tersebut diharapkan mampu menarik minat lebih banyak peserta berkualitas untuk hadir dan berkompetisi di Bumi Blambangan.
Nantinya, Soekarno Run tahun depan di Banyuwangi juga akan melibatkan peserta internasional. Kehadiran para pelari profesional dari luar negeri maupun dalam negeri dinilai akan mendongkrak popularitas Banyuwangi di kancah global.
Said menambahkan, jika Jawa Tengah memiliki ikon kebanggaan Borobudur Marathon yang mendunia, Jawa Timur melalui Banyuwangi memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata unggulan yang sejajar.
“Melalui sinergi dan semangat gotong royong, Banyuwangi diyakini akan semakin bersinar sebagai destinasi wisata olahraga dan budaya andalan Indonesia,” ucapnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada olahraga, tetapi juga dirancang sebagai sarana edukatif untuk mengenalkan sosok Sang Proklamator, Bung Karno, sekaligus menumbuhkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air sejak dini.
Selain sukses menanamkan kesadaran hidup sehat melalui kompetisi lari antarpelajar, acara ini juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan para pelaku UMKM. Konsep sport tourism yang diusung berhasil memadukan unsur budaya, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat yang didukung penuh oleh berbagai pihak di luar pemerintah daerah.
Melihat tingginya partisipasi, kelancaran koordinasi lintas sektor, serta keamanan yang terjaga dengan baik, Ipuk mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat.
“Kita menyambut positif jika tahun depan acara ini kembali digelar di Banyuwangi. Karena jika mengandalkan APBD, kita mungkin bisa menggelar acara seperti ini. Ini adalah bentuk dukungan untuk sport tourism di Banyuwangi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPP PDI-P Ganjar Pranowo, yang sekaligus menjadi peserta, mengungkapkan kesan positifnya terhadap pelaksanaan Soekarno Run di Banyuwangi. Menurut dia, para peserta dapat bangun pagi untuk menikmati udara segar serta suasana kawasan pariwisata yang indah.
“Dengan matahari yang terbit lebih cepat di Banyuwangi, para pelari kategori half marathon dan 10K dapat menikmati rute yang sejuk sambil menyapa masyarakat setempat,” kata Ganjar.
Dia juga berharap penyelenggaraan pada masa mendatang bisa semakin baik dengan penambahan kategori full marathon (FM), mengingat potensi destinasi wisata Banyuwangi yang menarik untuk mengembangkan sport tourism.
“Semoga acara lari selanjutnya dapat menarik lebih banyak peserta untuk datang ke Banyuwangi,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi