Banyuwangi Bersiap Hadapi Kekeringan Panjang, El Nino Mengintai hingga 2027

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 03:00 WIB
El Nino 2026 ancam Banyuwangi. Sebanyak 11 kecamatan masuk zona rawan kekeringan. BPBD minta warga waspada krisis air. (Ilustrasi ChatGPT Image)
El Nino sangat kuat diprediksi bertahan hingga awal 2027. Curah hujan Banyuwangi masih rendah dan ancaman kekeringan berpotensi berlanjut. (Ilustrasi ChatGPT Image)

RADAR BANYUWANGI – Ancaman kekeringan di Banyuwangi berpotensi belum berakhir dalam waktu dekat. El Nino dengan intensitas sangat kuat diprediksi bertahan hingga awal 2027, sementara peluang Indian Ocean Dipole (IOD) memasuki fase positif berpotensi semakin menekan curah hujan di Bumi Blambangan dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi tersebut membuat periode September hingga November 2026 menjadi fase yang perlu diwaspadai. Berdasarkan prediksi BMKG Banyuwangi, curah hujan masih didominasi kategori rendah, sehingga ancaman terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian berpotensi berlanjut.

Prakirawan BMKG Banyuwangi Cahyo Listyantono mengatakan, pemantauan anomali suhu muka laut selama Juli, Agustus, dan September menunjukkan El Nino masih berada pada kategori sangat kuat.

“Berdasarkan pantauan terkini, El Nino diprediksi akan terus bertahan hingga awal 2027,” ujarnya, Jumat (19/9).

Curah Hujan Banyuwangi Masih Rendah

Ancaman kekeringan tidak hanya dipengaruhi El Nino. BMKG juga mencermati perkembangan IOD di Samudra Hindia yang berpotensi memasuki fase positif.

Pada Dasarian I September, indeks IOD tercatat +0,394 atau masih berada dalam kategori netral. Namun, BMKG memproyeksikan indeks tersebut berpeluang bergerak menuju fase positif hingga awal 2027.

Perubahan suhu muka laut di Samudra Hindia tersebut dapat memengaruhi pola cuaca regional. Ketika kondisi IOD positif berkembang bersamaan dengan El Nino, pasokan uap air yang mendukung pembentukan hujan di wilayah Indonesia dapat berkurang.

Dampaknya mulai tergambar dalam peta prediksi curah hujan Banyuwangi. Untuk periode September, Oktober, hingga November 2026, sebagian besar wilayah diproyeksikan masih menerima curah hujan dalam kategori rendah.

Pada September, sebagian besar wilayah Banyuwangi bahkan diprediksi hanya memperoleh curah hujan sekitar 0–20 milimeter (mm).

Pengecualian terlihat di Kecamatan Songgon. Wilayah tersebut diperkirakan menerima curah hujan sekitar 51–100 mm, yang berada pada kategori rendah hingga menengah.

Air Bersih dan Pertanian Terancam

Rentetan bulan dengan curah hujan rendah menjadi sinyal yang perlu diperhatikan masyarakat. Semakin panjang periode kering, semakin besar pula tekanan terhadap sumber air dan lahan pertanian.

BMKG Banyuwangi mengingatkan bahwa kombinasi kondisi iklim tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan, terutama apabila curah hujan tidak segera mengalami peningkatan signifikan.

“Situasi iklim ini menyebabkan potensi penurunan curah hujan secara drastis, sehingga dapat meningkatkan risiko kekeringan yang lebih parah,” tegas Cahyo.

Bagi Banyuwangi, ancaman tersebut bukan semata persoalan cuaca. Kekeringan berkepanjangan dapat berimbas pada ketersediaan air bersih, kebutuhan rumah tangga, serta aktivitas pertanian yang bergantung pada pasokan air.

Dengan El Nino sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 dan IOD yang berpeluang memasuki fase positif, masyarakat perlu bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang. September hingga November 2026 menjadi salah satu periode yang perlu diwaspadai karena curah hujan diprediksi masih rendah di sebagian besar Banyuwangi. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
El Nino Banyuwangi kekeringan Banyuwangi IOD positif BMKG Banyuwangi curah hujan