Macet Jalur Utara Banyuwangi Lumpuhkan Sekolah, SMKN Wongsorejo Beralih Daring

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 02:00 WIB
TIDAK ADA CELAH LAGI: Sejumlah sopir truk turun dari kendaraan saat terjebak macet di dekat kawasan Watudodol, Jumat (18/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TIDAK ADA CELAH LAGI: Sejumlah sopir truk turun dari kendaraan saat terjebak macet di dekat kawasan Watudodol, Jumat (18/9). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kemacetan parah di jalur utara Banyuwangi mulai merembet ke ruang kelas. Puluhan guru dan siswa SMKN Wongsorejo harus berjam-jam terjebak antrean kendaraan, hingga sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran daring ketika akses menuju sekolah lumpuh total. Waktu tempuh guru bahkan membengkak hingga lima jam sekali perjalanan.

Dampak tersebut dirasakan langsung Kepala SMKN Wongsorejo Sehani Asri Miningsih. Kemacetan yang disebut berkaitan dengan proyek peningkatan kapasitas Dermaga Ketapang membuat waktu tempuh dari wilayah Kota Banyuwangi menuju Wongsorejo sulit diprediksi.

Sehani mengaku pernah berangkat dari rumahnya di Kecamatan Banyuwangi sejak pukul 05.00 WIB, tetapi baru tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB.

Pada kesempatan lain, dia bahkan baru sampai sekolah sekitar pukul 10.30 WIB meski telah berangkat sejak pukul 05.15 WIB.

"Saya berangkat pukul 05.00 WIB dan baru tiba di sekolah pukul 10.00 WIB. Sebelumnya, saya juga pernah baru sampai pukul 10.30 WIB padahal sudah berangkat sejak pukul 05.15 WIB. Tadi saya terjebak macet total di kawasan Selogiri. Berangkat dari jalur lingkar saja sudah tersendat," kata Sehani, kemarin (17/9).

Guru Pulang Sore, Tiba Rumah Menjelang Tengah Malam

Masalah tidak berhenti pada perjalanan berangkat. Saat jam sekolah berakhir, guru yang biasanya pulang sekitar pukul 16.00 WIB juga harus menghadapi antrean kendaraan di jalur utara.

Rata-rata mereka baru tiba di rumah sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WIB.

Situasi tersebut membuat waktu perjalanan guru membengkak berjam-jam. Kondisi serupa juga dirasakan siswa, terutama mereka yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di luar wilayah Wongsorejo.

Waktu tempuh yang meningkat hingga dua kali lipat membuat para siswa kelelahan sebelum maupun setelah menjalani aktivitas PKL.

Bagi sekolah, kondisi tersebut tidak lagi sekadar persoalan keterlambatan. Kemacetan mulai bersinggungan langsung dengan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Sekolah Terapkan Kebijakan Situasional

Manajemen SMKN Wongsorejo akhirnya mengambil langkah penyesuaian agar kemacetan tidak sepenuhnya mengganggu proses pendidikan.

Sekolah memberikan toleransi keterlambatan bagi guru dan siswa yang terjebak antrean kendaraan. Namun, ketika kondisi lalu lintas benar-benar lumpuh, pembelajaran langsung dialihkan ke sistem daring pada hari tersebut.

Sementara itu, pembelajaran tatap muka tetap diberlakukan bagi guru dan siswa yang berdomisili di sekitar Wongsorejo dan relatif tidak terdampak kepadatan lalu lintas.

Kebijakan tersebut menjadi jalan tengah agar proses pembelajaran tetap berjalan di tengah kondisi lalu lintas yang tidak menentu.

Sehani berharap persoalan kemacetan di jalur nasional tersebut segera mendapatkan penanganan konkret dari instansi terkait. Sebab, jika berlangsung terlalu lama, dampaknya dapat semakin meluas, termasuk terhadap aktivitas pendidikan dan perekonomian masyarakat.

"Kami berharap masalah ini segera terselesaikan oleh pihak berwenang agar aktivitas sekolah bisa kembali normal," tegas Sehani.

Kemacetan yang awalnya identik dengan antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang kini mulai memasuki aktivitas sehari-hari warga. Di SMKN Wongsorejo, dampaknya terlihat dari perjalanan guru dan siswa yang semakin panjang hingga keputusan sekolah mengalihkan pembelajaran ke sistem daring saat jalur benar-benar tidak dapat dilalui secara normal. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang macet Banyuwangi SMKN Wongsorejo jalur utara pembelajaran daring