Kiai Ghofar Terjebak Macet Ketapang, Berangkat 18.30 Tiba Rumah Saat Subuh

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 01:00 WIB
TERDAMPAK MACET: Kiai Ghofar akhirnya bisa mengisi ceramah Maulid di hadapan jemaah pengajian Desa Bimorejo, Wongsorejo pukul 22.00, Kamis malam (17/9). (Herman Suyitno for Radar Banyuwangi)
TERDAMPAK MACET: Kiai Ghofar akhirnya bisa mengisi ceramah Maulid di hadapan jemaah pengajian Desa Bimorejo, Wongsorejo pukul 22.00, Kamis malam (17/9). (Herman Suyitno for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan Ketapang bukan hanya membuat sopir logistik kehilangan waktu dan biaya. KH Abdul Ghofar, ulama kondang asal Rogojampi, bahkan harus meninggalkan mobil, naik ojek, terlambat dua jam mengisi pengajian, dan baru tiba di rumah sekitar pukul 04.00 WIB.

Peristiwa itu dialami Kiai Ghofar saat hendak menghadiri pengajian umum dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Kamis malam (17/9).

Ia berangkat dari kediamannya di Rogojampi selepas Magrib, sekitar pukul 18.30 WIB. Perjalanan awal berlangsung normal. Namun, situasi berubah ketika rombongannya memasuki kawasan Terminal Ketapang.

Antrean kendaraan yang mengular membuat laju mobil pribadi yang ditumpanginya berhenti total. Jalur yang menjadi akses utama menuju Pelabuhan Ketapang itu dipadati ribuan kendaraan.

"Melihat kondisi di depan Terminal Ketapang mati total, mobil akhirnya terpaksa saya parkirkan di sana. Perjalanan menuju lokasi pengajian kemudian saya lanjutkan dengan beralih menggunakan jasa ojek sepeda motor," ungkap Kiai Ghofar, kemarin (18/9).

Keputusan meninggalkan mobil menjadi satu-satunya pilihan agar dirinya tetap bisa menghadiri pengajian. Namun, perjalanan menggunakan sepeda motor ternyata juga tidak serta-merta membuat perjalanan lancar.

Menurut Kiai Ghofar, kendaraan roda empat di sepanjang jalur utara Banyuwangi nyaris tidak bergerak. Bahkan sepeda motor yang biasanya dapat menyelip di antara kepadatan kendaraan juga ikut mengalami hambatan.

Akibatnya, pengajian yang sedianya dimulai pukul 20.00 WIB harus ditunda. Kiai Ghofar baru tiba di lokasi dan naik ke panggung sekitar pukul 22.00 WIB.

Keterlambatan tersebut sempat membuat panitia khawatir. Sebab, jemaah telah memenuhi lokasi acara sejak waktu Isya.

Ketua Panitia Maulid Nabi Herman Suyitno mengatakan, panitia terpaksa memperpanjang rangkaian selawat dan tahlil sembari menunggu kedatangan Kiai Ghofar.

DITINGGAL NGOPI:  Kendaraan yang ditumpangi rombongan keluarga tak bisa bergerak saat melintas di sebelah utara Depo Pertamina Ketapang. Sembari menunggu kepadatan terurai, pengendara menyempatkan bikin kopi di tengah jalan. (Agus Dani for Radar Banyuwangi)
DITINGGAL NGOPI: Kendaraan yang ditumpangi rombongan keluarga tak bisa bergerak saat melintas di sebelah utara Depo Pertamina Ketapang. Sembari menunggu kepadatan terurai, pengendara menyempatkan bikin kopi di tengah jalan. (Agus Dani for Radar Banyuwangi)

"Bacaan selawat dan tahlil terpaksa kami perpanjang dengan durasi lama supaya jemaah tidak bubar. Kedatangan kiai diantar ojek pada jam sepuluh malam membuat kami lega," ujar Herman yang juga pengurus PCNU Banyuwangi.

Pulang 23.30 WIB, Tiba Saat Azan Subuh

Jika perjalanan berangkat sudah menguras waktu dan tenaga, kondisi serupa kembali dialami Kiai Ghofar saat pulang.

Sekitar pukul 23.30 WIB, setelah pengajian selesai, ia kembali menempuh perjalanan menuju Rogojampi. Namun, kemacetan di jalur arteri ternyata belum terurai.

Sepeda motor yang ditumpanginya kembali terjebak di antara kendaraan besar. Impitan truk membuat pergerakan sepeda motor pun ikut tersendat.

Perjalanan yang normalnya tidak membutuhkan waktu sepanjang itu berubah menjadi perjalanan berjam-jam. Kiai Ghofar baru tiba di rumahnya di Rogojampi sekitar pukul 04.00 WIB, bertepatan dengan berkumandangnya azan Subuh.

Dengan demikian, perjalanan Kiai Ghofar sejak berangkat sekitar pukul 18.30 WIB hingga tiba kembali di rumah sekitar pukul 04.00 WIB berlangsung sekitar 9,5 jam.

Di tengah perjalanan tersebut, Kiai Ghofar juga melihat tiga unit ambulans ikut terjebak kemacetan di sekitar Patung Gandrung.

Kisah tersebut menggambarkan meluasnya dampak kepadatan kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Kemacetan tidak hanya memengaruhi kendaraan logistik, tetapi juga mulai mengganggu perjalanan warga dan aktivitas masyarakat yang membutuhkan akses melintasi jalur utara Banyuwangi. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang jalur Ketapang macet Banyuwangi Kiai Ghofar pelabuhan ketapang