Surut Ekstrem Ganggu Ketapang-Gilimanuk, Kapal Tak Bisa Sandar Normal

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 03:00 WIB
HAMBAT GERAK KAPAL: Anomali pasang surut mengakibatkan kapal kesulitan bersandar di dermaga LCM Ketapang. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
HAMBAT GERAK KAPAL: Anomali pasang surut mengakibatkan kapal kesulitan bersandar di dermaga LCM Ketapang. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Fenomena surut ekstrem air laut mengganggu operasional penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Kapal-kapal di dermaga Landing Craft Machine (LCM) kesulitan bersandar normal sehingga waktu pelayanan molor 30 menit hingga satu jam dan memicu antrean kendaraan di luar Pelabuhan ASDP Ketapang.

Gangguan tersebut terjadi akibat anomali pasang surut yang diperkuat fase bulan baru pada 11 September. Kondisi itu membuat rentang perubahan muka air laut di Selat Bali jauh lebih lebar dibandingkan kondisi normal.

Prakirawan BMKG Banyuwangi Widi Nugraha menjelaskan, fenomena tersebut menyebabkan tinggi pasang maupun surut meningkat secara signifikan.

“Terjadi anomali surut yang ekstrem dan ada fenomena bulan baru tanggal 11 September. Itu menyebabkan tinggi pasang dan surut meningkat,” papar Widi saat memberikan keterangan resmi.

Air Laut Surut hingga Minus 1,2 Meter

Dalam tiga hari terakhir sebelum puncak fenomena, tinggi muka air laut saat pasang tercatat mencapai sekitar 1,3 meter. Sebaliknya, saat surut, ketinggiannya bisa anjlok hingga minus 1,2 meter.

Angka tersebut berada jauh di luar kondisi normal. Biasanya, tinggi pasang berada di bawah 0,9 meter, sedangkan surut berada di bawah minus 0,9 meter.

Kondisi air yang terlalu rendah menjadi persoalan tersendiri bagi kapal yang hendak bermanuver di dermaga LCM. Lambung bagian bawah kapal berisiko membentur dasar laut sehingga proses sandar tidak bisa dilakukan secara normal.

BMKG mencatat, surut ekstrem terjadi dua kali dalam sehari. Titik terendah umumnya terjadi pada pagi sekitar pukul 06.00–07.00 WIB dan malam sekitar pukul 17.00–19.00 WIB.

Kapal Harus Menunggu Air Naik

Meski ekstrem, kondisi tersebut tidak berlangsung sepanjang hari. Setelah mencapai titik terendah, permukaan air perlahan kembali naik.

Widi mengatakan, kapal membutuhkan waktu tunggu hingga kondisi muka air kembali cukup aman untuk melakukan proses sandar.

“Jeda waktunya dari top surut sampai air naik kembali untuk bisa disandarkan kapal itu sekitar satu sampai dua jam,” imbuhnya.

BMKG memprediksi kondisi perairan berangsur kembali normal mulai Selasa (15/9).

Namun, selama periode gangguan, aktivitas penyeberangan tetap harus menyesuaikan kondisi pasang surut dan arus laut.

Trip Kapal Berkurang, Antrean Ikut Terdampak

Korsatpel BPTD Wilker Ketapang Tarto Saefullah membenarkan gangguan tersebut berdampak langsung terhadap pelayanan penyeberangan. Fluktuasi muka air laut yang tidak menentu membuat kapal harus lebih berhati-hati saat melakukan olah gerak.

Kondisi itu juga berimbas pada antrean kendaraan yang berada di luar pelabuhan.

“Otomatis terganggu, waktu pelayanan kapal akan berdampak pada antrean. Durasi gangguan berkisar antara 30 menit hingga satu jam pada setiap kejadian,” ungkap Tarto.

Tidak hanya memperpanjang waktu pelayanan, gangguan sandar juga membuat jumlah perjalanan atau trip kapal dalam sehari berkurang.

Gangguan bahkan terjadi secara bergantian di dua sisi lintasan, baik di Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk.

“Terganggu karena kapal tidak bisa sandar. Kadang di Gilimanuk, kadang di Ketapang,” pungkasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Surut ekstrem Kapal penyeberangan pelabuhan ketapang selat bali ketapang gilimanuk