Bau Limbah Pabrik Tahu Berulang, Pemilik Usaha Diberi Tenggat Sepekan

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 00:30 WIB
TITIK TENGAH: Puluhan warga Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, mengikuti mediasi dengan pemilik usaha tahu, Selasa (15/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
TITIK TENGAH: Puluhan warga Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, mengikuti mediasi dengan pemilik usaha tahu, Selasa (15/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Keluhan warga Dusun Tapaklembu, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, terkait bau menyengat limbah usaha tahu memasuki babak baru. Setelah persoalan disebut berlangsung lebih dari lima tahun, pemilik usaha tahu kini diberi waktu sepekan untuk membenahi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar aroma tak sedap tidak lagi mengganggu warga.

Kesepakatan tersebut muncul dalam mediasi yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Temuasri di balai desa, Selasa (15/9). Pertemuan itu mempertemukan puluhan warga terdampak dengan pemilik usaha tahu, Wartini.

Mediasi turut dihadiri tiga pilar desa, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Sempu.

Kepala Desa Temuasri Sunarti mengatakan, pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan. Salah satu poin utama adalah kewajiban pemilik usaha memperbaiki dan mengembangkan sistem IPAL untuk mengatasi persoalan aroma limbah yang kerap tercium warga, terutama pada pagi dan sore hari.

“Dalam dua hari ini, pemilik usaha akan berkonsultasi langsung ke DLH Banyuwangi untuk mencari solusi teknis,” ujar Sunarti.

Warga Minta IPAL Segera Dibenahi

Selain persoalan teknis pengolahan limbah, warga juga meminta pengelola usaha lebih kooperatif dalam merespons setiap keluhan lingkungan.

Pemdes Temuasri kemudian memberikan waktu satu pekan sejak mediasi agar pembenahan IPAL dapat diselesaikan.

“Selain itu, warga menuntut perbaikan IPAL rampung dalam waktu satu pekan sejak mediasi ini dilakukan. Saya juga menyarankan agar pengusahanya ini memperbaiki hubungan dengan warga,” tutur Sunarti.

Bagi warga, persoalan bau limbah bukan keluhan yang baru muncul. Masalah tersebut disebut telah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi sumber keresahan di lingkungan sekitar usaha.

Kepala Dusun Tapaklembu Nanang Satrianto mengatakan, protes warga terkait aroma limbah bahkan telah muncul sejak lebih dari lima tahun lalu.

“Sudah sejak lama ada protes, bahkan sebelum saya menjabat sebagai kasun. Namun baru kali ini warga bergerak bersama hingga terealisasi mediasi,” ungkap Nanang.

Sempat Minta Usaha Ditutup

Lamanya persoalan tanpa penyelesaian membuat tuntutan warga sempat mengarah pada penutupan usaha tahu secara permanen.

Menurut Nanang, warga merasa kesal karena keluhan mengenai bau limbah dinilai belum mendapatkan tindak lanjut yang memadai. Persoalan mengenai kelengkapan perizinan usaha juga sempat dipertanyakan warga.

“Awalnya minta usahanya itu tutup, apalagi soal izin warga tidak yakin sudah lengkap sehingga minta ditutup saja,” katanya.

Nanang mengaku berupaya meredam gejolak tersebut dengan memberikan pemahaman kepada warga. Mediasi akhirnya menjadi jalan untuk mempertemukan kepentingan warga dan pemilik usaha.

Melalui forum tersebut, persoalan yang sebelumnya berlarut-larut mulai diarahkan pada solusi teknis, terutama pembenahan sistem pengolahan limbah.

Pemilik Usaha Siap Benahi IPAL

Pemilik usaha tahu, Wartini, menyatakan kesiapannya memenuhi poin-poin kesepakatan hasil mediasi. Pembenahan IPAL juga disebut telah mulai dilakukan.

Dia berharap perbaikan tersebut dapat menjadi titik terang sehingga kegiatan usaha tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

“Sekarang sudah berjalan perbaikan IPAL-nya, dalam waktu lima hari atau sepekan ke depan akan di-update lagi,” kata Wartini.

Kini, perhatian warga tertuju pada tenggat yang telah disepakati. Dalam waktu sekitar sepekan, pembenahan IPAL diharapkan mampu menjawab keluhan bau limbah yang selama ini mengganggu warga Dusun Tapaklembu.

Bagi Pemdes Temuasri, penyelesaian persoalan tersebut bukan hanya soal mempertahankan aktivitas usaha, tetapi juga memastikan kegiatan ekonomi berjalan seiring dengan kenyamanan dan kepentingan lingkungan sekitar. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Desa Temuasri Limbah pabrik tahu IPAL usaha tahu Warga Sempu bau limbah