RADAR BANYUWANGI – Kabar baik datang dari lereng Gunung Raung. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat membakar vegetasi di sekitar jalur pendakian Kalibaru, tepatnya antara Pos 6 dan Pos 7, kini sudah padam. Meski api berhasil dijinakkan, jalur pendakian menuju puncak Raung setinggi 3.344 meter di atas permukaan laut (mdpl) masih ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan demi keselamatan pendaki dan memastikan tidak ada bara yang kembali menyulut kebakaran.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Partana mengatakan, titik api di jalur Kalibaru tersebut telah padam pada Kamis (10/9).
“Namun, jalur pendakian masih ditutup sejak 8 September sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ujarnya saat dikonfirmasi tadi malam (10/9).
Penutupan jalur menjadi langkah penting meski kondisi kebakaran mulai terkendali. Sebab, medan Gunung Raung yang terjal dan kondisi vegetasi yang mengering akibat cuaca ekstrem tetap menyimpan potensi munculnya bara baru.
Api Padam, Bara Masih Diburu
Kebakaran sebelumnya terpantau di kawasan Bayangan 1, tepat di atas Camp 6 jalur pendakian Gunung Raung via Kalibaru.
Api melalap vegetasi serta sejumlah pohon besar yang mengering. Kondisi cuaca yang ekstrem membuat material vegetasi di kawasan tersebut relatif mudah terbakar.
Kabar kebakaran segera direspons sejumlah pendaki, relawan lokal, dan petugas pos pendakian. Mereka bergerak menuju lokasi untuk mencegah api merambat lebih jauh.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat sekat bakar atau fire break. Cara tersebut ditempuh untuk memutus jalur rambatan api sekaligus menghambat kobaran agar tidak menjalar ke area hutan lainnya.
Dimas, salah seorang pemandu pendakian Gunung Raung, mengatakan respons cepat tersebut membantu mengendalikan kebakaran.
“Mendengar kabar kebakaran tersebut, rekan-rekan pendaki bersama relawan lokal dan petugas pos pendakian bergerak cepat menuju lokasi. Langsung membuat sekat bakar (fire break) guna menahan laju perambatan api agar tidak meluas ke area hutan lainnya, sambil penyisiran sisa-sisa bara api,” tuturnya.
Kondisi terbaru, kata Dimas, api sudah berhasil dipadamkan dan tidak menyebar luas.
“Kabar terbaru api sudah berhasil dipadamkan dan tidak menyebar luas. Api hanya membakar pohon-pohon besar yang lapuk dan kering,” jelasnya.
Meski demikian, penanganan belum sepenuhnya berhenti. Tim berencana kembali melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa.
“Besok (hari ini) tim kembali naik untuk menyisir lokasi demi memastikan tidak ada sisa bara yang memicu api baru,” imbuh Dimas.
Asap Mulai Menipis
Meredanya kebakaran juga terlihat dari hasil pengamatan visual Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung di Songgon.
Petugas PPGA Raung Songgon Agung Tri Subekti mengatakan, kepulan asap yang sebelumnya terlihat akibat kebakaran vegetasi kini mulai menyusut.
“Hasil pengamatan visual menunjukkan emisi asap yang dipicu kebakaran vegetasi di area atas kini sudah mulai memudar secara signifikan dibanding hari sebelumnya,” pungkasnya.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif dalam penanganan karhutla di kawasan Gunung Raung. Namun, status jalur pendakian tetap tidak berubah.
Jalur Kalibaru Ditutup Sejak 8 September
Untuk diketahui, jalur pendakian Gunung Raung melalui pintu Kalibaru ditutup total sejak Selasa (8/9).
Keputusan tersebut diambil Sekretariat Mt Raung 3344 MDPL setelah titik api bermunculan di sejumlah bagian lintasan pendakian. Kondisi itu dinilai dapat mengancam keselamatan pendaki sekaligus menghambat pergerakan tim yang melakukan penanganan kebakaran.
Penutupan dituangkan melalui Pengumuman Nomor B.031/Pan-Pel/Mt.Raung/IX/2026.
Dalam pengumuman tersebut, jalur pendakian ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan. Pembukaan kembali akan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan.
Pengelola menyebut keputusan itu diambil dengan tiga pertimbangan utama: menjamin keselamatan pengunjung, menjaga ekosistem hutan, serta memberikan ruang dan akses bagi tim gabungan untuk melakukan pemadaman.
Dengan status penutupan tersebut, para pendaki yang telah memiliki jadwal keberangkatan terpaksa harus membatalkan atau menunda rencana mereka.
25 Pendaki Batal Naik
Dampak penutupan jalur mulai dirasakan para pemandu pendakian.
Dimas mengatakan, gelombang pembatalan terutama terjadi pada jadwal pendakian menjelang akhir pekan.
“Untuk jadwal besok (hari ini, 11/9) saja ada 25 orang di kelompok saya yang batal, belum hitungan dari pemandu atau open trip lain,” ujarnya kemarin (10/9).
Menurut dia, pembatalan paling banyak terjadi untuk jadwal Jumat dan Sabtu.
“Ini untuk memastikan keselamatan para pendaki juga,” tuturnya.
Bagi para pendaki, penutupan tersebut tentu mengubah rencana yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Namun, kondisi karhutla membuat keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Gunung Raung sendiri merupakan salah satu tujuan pendakian populer di kawasan tapal kuda Jawa Timur. Wilayah gunung dengan ketinggian 3.344 mdpl itu berada di tiga kabupaten, yakni Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso.
Untuk sementara, ambisi mencapai puncak harus ditunda. Di tengah kabar api yang telah padam, tim masih memastikan kawasan benar-benar aman dari bara tersembunyi.
Sebab, bagi pengelola, relawan, petugas, dan para pendaki, padamnya api belum otomatis berarti jalur aman untuk dilalui. Keselamatan tetap menjadi alasan utama mengapa jalur pendakian Gunung Raung via Kalibaru belum dibuka kembali. (*)
Editor : Ali Sodiqin