Ijen Senyap, Pemandu Wisata Menjerit: Rp300 Ribu Sehari Kini Menguap

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB
TIDAK ADA WISATAWAN: Kondisi warung di area Paltuding nyaris tanpa pembeli, kemarin (7/9). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
TIDAK ADA WISATAWAN: Kondisi warung di area Paltuding nyaris tanpa pembeli, kemarin (7/9). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Api yang melalap kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen sejak Jumat (4/9) ternyata tidak hanya membakar hutan. Penutupan kawasan wisata ikut memutus denyut ekonomi Paltuding, membuat pemandu wisata, pemilik warung, hingga penambang belerang kehilangan sumber pemasukan harian.

Biasanya, lereng Gunung Ijen mulai hidup ketika langit masih gelap. Deru kendaraan wisatawan bersahutan dengan suara pemandu yang bersiap mengantar tamu. Ojek troli menawarkan jasa. Para penambang belerang mulai turun membawa bongkahan kuning dari perut gunung.

Paltuding seperti tak pernah benar-benar tidur.

Namun, sejak Jumat (4/9), suasana itu berubah drastis. Gerbang pendakian ditutup karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aktivitas wisata berhenti. Yang tersisa hanya suara kendaraan petugas, relawan yang berjibaku dengan api, serta warga yang menunggu tanpa kepastian.

Bagi mereka yang menggantungkan hidup dari Ijen, asap kebakaran menjadi lebih dari sekadar ancaman ekologis. Asap itu juga membawa kecemasan tentang dapur yang harus tetap mengepul.

Rp300 Ribu Sehari Mendadak Hilang

Kholil Hidayat, salah seorang pemandu wisata Ijen, merasakan langsung dampaknya. Sejak kawasan ditutup, dia terpaksa berhenti membawa wisatawan mendaki.

"Libur nge-guide mas, sejak Jumat (4/9), waktu Ijen pertama kebakaran," keluh Kholil.

Dalam kondisi normal, pekerjaan sebagai pemandu bisa menghasilkan sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Uang itu menjadi salah satu penopang kebutuhan keluarganya.

Kini, pemasukan tersebut berhenti.

"Selama Ijen kebakaran terpaksa nggak bisa jadi guide, jadi nggak ada pemasukan," ratapnya.

Kisah Kholil bukan cerita seorang diri. Ada banyak pekerja wisata lain yang ikut kehilangan penghasilan karena wisatawan tak lagi berdatangan.

Kursi-kursi warung kopi di Paltuding yang biasanya terisi wisatawan kini lebih sering kosong.

Elis, salah seorang pemilik warung kopi, memilih tetap membuka usahanya meski tahu pembeli nyaris tidak ada.

"Untuk wisatawan hampir nggak ada, otomatis penghasilan juga hampir tidak ada, tetapi saya tetap buka," tuturnya pasrah.

Pemandangan itu terekam sejak Sabtu (5/9) hingga Senin (7/9). Kawasan Paltuding yang biasanya ramai mendadak lengang.

Dari Destinasi Wisata Menjadi Medan Perjuangan

Di tengah hilangnya mata pencaharian, ada ironi lain yang muncul.

Para pekerja wisata yang biasanya mencari nafkah dari kunjungan wisatawan justru ikut turun membantu menangani kebakaran.

Kholil bersama sejumlah pemandu wisata memilih menjadi relawan. Mereka membantu petugas memadamkan api di tengah kondisi yang penuh risiko.

"Teman-teman pemandu wisata atau yang mencari uang dari Ijen banyak yang menjadi relawan untuk membantu memadamkan api kebakaran," ujar Kholil.

Ada kehilangan yang harus mereka terima, tetapi ada pula kepedulian yang tetap mereka pertahankan.

Di balik asap dan panas yang menyelimuti kawasan Ijen, terselip satu harapan sederhana dari para pekerja tersebut: api segera padam dan Ijen kembali pulih.

"Saya berharap Ijen cepat segera pulih," katanya.

Wisatawan Ikut Gigit Jari

Penutupan Ijen juga memukul wisatawan yang telah menyusun perjalanan jauh-jauh hari.

Ling Lie, wisatawan asing asal China, menjadi salah satunya. Dia mengaku telah merencanakan perjalanan ke Ijen sejak sepekan sebelumnya.

Namun, sesampainya di lokasi, pendakian ternyata ditutup.

"Saya sebelumnya sudah merencanakan ke Ijen sejak minggu lalu tapi hari ini (kemarin) ternyata pendakian ditutup," keluhnya kecewa.

Pada hari pertama penutupan, Jumat (4/9), kawasan masih sempat ramai karena sebagian wisatawan belum mengetahui adanya penutupan akibat karhutla.

Setelah informasi menyebar, denyut kunjungan pun praktis berhenti.

Sampai Kapan Ijen Ditutup?

Kepala TWA Ijen Rusdi Santoso membenarkan bahwa kawasan wisata ditutup sejak Jumat (4/9) akibat karhutla.

"Ijen ditutup sejak Jumat (4/9) dikarenakan terjadi karhutla. Untuk sampai kapan saya tidak tahu karena itu ranah pimpinan," jelasnya.

Ketidakpastian tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang hidup dari aktivitas wisata Ijen.

Pemkab Banyuwangi sebelumnya menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla selama 14 hari, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 100.3.3.2/229/KEP/429.011/2026.

Status tersebut berlaku mulai Jumat (4/9) hingga Kamis (17/9).

Artinya, bagi pelaku usaha wisata, hari-hari ke depan masih menjadi ruang tunggu yang penuh tanda tanya.

Mereka tidak hanya menunggu kapan api benar-benar jinak. Mereka juga menunggu kapan roda ekonomi kembali bergerak.

Penambang Belerang Ikut Berhenti

Dampak penutupan juga terasa hingga aktivitas penambangan belerang.

Manajemen PT Candi Ngrimbi mengonfirmasi bahwa aktivitas pengangkutan bongkah belerang dari kawasan Ijen sementara berhenti selama karhutla.

"Sementara para penambang belerang ikut libur juga selama karhutla di Ijen. Tapi secara khusus kita tidak melarang mereka mengambil belerang," terang perwakilan manajemen.

Belerang yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kawasan Ijen kini ikut terhenti dari aktivitas pengangkutan.

Maka, ketika api membakar lereng Ijen, yang ikut tersentak bukan hanya ekosistem.

Rantai kehidupan masyarakat di sekitarnya pun ikut terputus.

Paltuding yang biasanya berdenyut sejak dini hari kini menunggu. Para pemandu menunggu wisatawan kembali. Pemilik warung menunggu kursi-kursinya terisi. Penambang menunggu aktivitas kembali berjalan.

Dan seluruhnya memiliki harapan yang sama: Ijen segera pulih, api benar-benar padam, dan denyut kehidupan kembali terdengar di lereng gunung. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Wisata Ijen Karhutla Ijen paltuding ijen Penambang Belerang pemandu wisata