RADAR BANYUWANGI – Pertalite mulai sulit ditemukan di sejumlah SPBU Banyuwangi ketika aktivitas kendaraan meningkat dan arus lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang kembali padat. Kekosongan stok BBM bersubsidi itu diduga berkaitan dengan bergesernya jadwal distribusi dari Terminal BBM (TBBM) Tanjungwangi, yang membuat stok di sejumlah SPBU lebih cepat terkuras.
Kondisi tersebut salah satunya terlihat di SPBU Kabat. Pertalite disebut kosong dan membuat pengendara harus mencari alternatif BBM lain.
Karisma, 28, warga Kecamatan Sempu, menjadi salah satu pengendara yang terdampak. Saat hendak menuju Banyuwangi kota, dia terkejut mengetahui stok Pertalite di SPBU tersebut telah habis.
Tak ingin melanjutkan perjalanan dengan tangki kendaraan yang kosong, Karisma akhirnya memilih Pertamax. Konsekuensinya, biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar.
“Pertalite kosong, jadi terpaksa mengisi Pertamax dan harus menambah biaya untuk isi BBM sepeda motor saya,” ujar Karisma.
Pengiriman BBM Bergeser hingga Sore
Situasi berbeda justru terlihat di SPBU Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Di tengah kabar kelangkaan Pertalite di sejumlah titik, stok BBM di SPBU tersebut masih dinyatakan aman.
Pengawas SPBU Gajah Mada, Lugika Lubis, mengatakan kondisi itu tidak lepas dari strategi pengelolaan stok. Kapasitas tangki pendam dimaksimalkan untuk membangun cadangan sehingga SPBU memiliki ruang untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman.
Menurut Lubis, antrean kendaraan di SPBU sebenarnya bukan fenomena baru. Bahkan pada hari normal, antrean tetap bisa terjadi ketika jumlah kendaraan yang datang meningkat.
Namun, beberapa hari terakhir terdapat perubahan waktu kedatangan armada pengangkut BBM dari TBBM Tanjungwangi.
Biasanya, pasokan tiba sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Belakangan, kedatangan bergeser hingga sore hari.
“Biasanya pengiriman dari TBBM Tanjungwangi datang sekitar jam 10 atau jam 11 pagi. Tetapi beberapa hari terakhir datangnya sore, jam 4, jam 5, bahkan pernah jam 6 sore,” jelas Lubis.
Pergeseran waktu tersebut menjadi persoalan ketika permintaan BBM meningkat. Stok yang tersedia sejak pagi berpotensi habis lebih dulu, sementara pasokan berikutnya baru datang beberapa jam kemudian.
Situasi semakin rawan ketika terjadi kepadatan kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Pergerakan truk logistik yang tersendat membuat waktu tempuh kendaraan bertambah. Pada saat yang sama, kebutuhan BBM di sepanjang jalur tersebut ikut meningkat.
SPBU Perbesar Cadangan untuk Hadapi Lonjakan
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, SPBU Gajah Mada memilih memperbesar cadangan BBM harian.
Setiap kali terdapat ruang kosong di tangki pendam, pengelola langsung mengoptimalkan permintaan pasokan baru. Pola tersebut memungkinkan SPBU menyimpan stok lebih banyak sebelum menghadapi lonjakan permintaan.
Strategi itu juga menjadi semacam bantalan apabila distribusi dari TBBM Tanjungwangi kembali mengalami keterlambatan.
Apalagi, jalur menuju Pelabuhan Ketapang menjadi salah satu koridor dengan mobilitas kendaraan yang tinggi. Lonjakan truk logistik dapat meningkatkan konsumsi BBM secara cepat dan membuat stok di SPBU lebih cepat berkurang.
Lubis memastikan kondisi stok di SPBU Jalan Gajah Mada masih aman.
Bahkan, seluruh jenis produk BBM di SPBU tersebut dipastikan mencukupi kebutuhan hingga tiga hari ke depan.
“Untuk semua produk aman. Pola manajemen yang kami terapkan, permintaan BBM hari ini bisa untuk penjualan dua sampai tiga hari ke depan. Jadi kalau besok tidak ada kiriman atau lusa tidak ada kiriman, kami masih punya stok,” tegasnya.
Kelangkaan Pertalite Jadi Alarm Distribusi
Kekosongan Pertalite di sejumlah SPBU Banyuwangi dengan demikian tidak serta-merta menunjukkan habisnya pasokan BBM secara keseluruhan. Perbedaan kondisi antarpangkalan menunjukkan faktor distribusi dan pola pengelolaan stok ikut menentukan ketersediaan BBM di tingkat konsumen.
Di satu sisi, pengendara menghadapi risiko harus beralih ke BBM nonsubsidi ketika Pertalite kosong. Di sisi lain, SPBU yang mampu menjaga cadangan memiliki peluang lebih besar untuk tetap melayani konsumen meski jadwal pengiriman berubah.
Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri di tengah meningkatnya aktivitas kendaraan dan kepadatan jalur menuju Pelabuhan Ketapang.
Bagi pengendara, Pertalite yang kosong berarti biaya perjalanan bisa bertambah. Sementara bagi pengelola SPBU, perubahan jadwal distribusi menjadi tantangan untuk memastikan BBM tetap tersedia sebelum tangki benar-benar kosong.
Karena itu, kelancaran distribusi dari TBBM Tanjungwangi menjadi salah satu kunci agar kelangkaan Pertalite tidak meluas ke lebih banyak SPBU di Banyuwangi. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin