RADAR BANYUWANGI – Kebakaran lahan kosong di tepi pantai Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jumat (4/9), nyaris meluas karena tiupan angin kencang dan sulitnya akses menuju lokasi. Tak bisa dijangkau mobil pemadam kebakaran, api akhirnya ditaklukkan secara manual oleh warga bersama petugas gabungan setelah berjibaku selama sekitar tiga jam.
Kebakaran tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 13.00. Kobaran api melanda lahan kosong seluas kurang lebih seperempat hektare yang dipenuhi tumpukan sampah, rumput, dan ilalang kering.
Api kali pertama terlihat oleh Senol, 44, warga setempat. Saat melihat kepulan asap dari lahan kosong yang berada tak jauh dari rumahnya, dia berusaha melakukan pemadaman menggunakan ember berisi air.
Namun, upaya awal tersebut belum mampu menghentikan kobaran api. Api justru semakin besar dan merambat menuju lahan pisang serta semak-semak kering di sekitarnya.
Angin Pantai Bikin Api Cepat Membesar
Plt Kapolsek Muncar AKP Kusmin mengatakan, kondisi lokasi yang berada di dekat pantai turut menjadi faktor yang membuat api cepat membesar. Embusan angin cukup kencang membuat kobaran api mudah menjalar ke bagian lahan lainnya.
“Melihat kejadian tersebut Senol mengambil air menggunakan ember dan mencoba memadamkan api. Namun, api semakin membesar dan menjalar ke lahan pisang serta semak-semak kering,” jelas Kusmin.
Situasi tersebut membuat warga sekitar ikut berdatangan. Mereka berusaha membantu agar kobaran api tidak semakin meluas dan mendekati permukiman.
Sekitar pukul 14.30, kepolisian menerima informasi mengenai kebakaran tersebut. Petugas langsung menuju lokasi dan bergabung bersama warga melakukan pemadaman.
“Kami langsung turut membantu memadamkan api bersama warga,” kata Kusmin.
Mobil Damkar Tak Bisa Mendekat
Tak lama kemudian, petugas Damkarmat Sektor Srono tiba dengan membawa satu unit mobil pemadam kebakaran. Namun, upaya pemadaman menggunakan armada tersebut terkendala kondisi jalan menuju lokasi.
Akses yang sempit membuat mobil pemadam tidak dapat mendekat hingga ke titik pusat kobaran api. Kondisi itu memaksa petugas dan warga mengubah strategi.
Ember menjadi salah satu alat utama untuk mengangkut air menuju titik api. Warga dan petugas gabungan dari kepolisian, TNI, serta pemerintah setempat bahu-membahu melakukan pemadaman secara manual.
“Sehingga petugas dan warga sekitar saling bahu-membahu untuk memadamkan api secara bersamaan menggunakan ember dan alat lainnya,” beber Kusmin.
Setelah berjibaku selama beberapa jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.00. Dengan demikian, kebakaran yang sempat mengancam meluas tersebut dapat dikendalikan.
Meski kobaran api telah padam, penanganan belum langsung dinyatakan selesai. Masih terlihat kepulan asap di sejumlah titik lahan.
Warga bersama petugas pun tetap berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, terutama karena lahan dipenuhi material kering dan berada di kawasan terbuka yang mendapat embusan angin dari arah pantai.
Kebakaran ini menjadi pengingat bahwa lahan kosong yang dipenuhi sampah, rumput, dan ilalang kering dapat dengan cepat berubah menjadi titik rawan kebakaran, terlebih ketika berada di kawasan pantai dengan hembusan angin yang cukup kuat. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin