Gunung Srawet Banyuwangi Membara, Diduga Gara-Gara Pembakaran Sembarangan

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 09:00 WIB
GOSONG: Hutan di Gunung Srawet Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, terbakar pada Senin (31/8). (Damkarmat Banyuwangi)
GOSONG: Hutan di Gunung Srawet Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, terbakar pada Senin (31/8). (Damkarmat Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Vegetasi kering di kawasan Gunung Srawet, Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, mendadak terbakar pada Senin (31/8). Lahan hutan sekitar 300 meter × 200 meter dilalap api yang diduga berasal dari aktivitas pembakaran tanpa pengawasan. Kobaran api bahkan harus dipadamkan secara manual karena akses menuju titik kebakaran tidak bisa dilalui mobil pemadam.

Kebakaran terjadi di tengah kondisi rumput ilalang dan semak yang mengering. Bara dari aktivitas pembakaran di sisi timur lokasi diduga ditinggalkan begitu saja hingga akhirnya menyambar vegetasi kering di sekitarnya.

Petugas Damkarmat Sektor Bangorejo Muamar Kadafi mengatakan, dugaan tersebut diperoleh dari hasil investigasi awal dan keterangan sejumlah saksi di lokasi.

Menurut dia, api diduga bermula dari aktivitas pembakaran yang dilakukan seseorang di sisi timur kawasan Gunung Srawet. Setelah pembakaran dilakukan, api tidak diawasi maupun dipadamkan hingga benar-benar mati.

Bara dan percikan yang masih tersisa kemudian menyambar ilalang serta semak kering. Kondisi vegetasi yang mudah terbakar membuat api dengan cepat membesar. Tiupan angin yang cukup kencang turut mempercepat rambatan api ke area lain di kawasan gunung.

“Selain itu, tiupan angin yang cukup kencang turut mempercepat proses perambatan api. Api kemudian menjalar ke area sekitar Gunung Srawet tersebut,” kata Kadafi, Kamis (4/9).

Melihat kobaran api semakin membesar, sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi berupaya melakukan pemadaman awal. Peralatan seadanya digunakan untuk menahan laju api agar tidak merambat mendekati permukiman warga.

Namun, upaya tersebut belum mampu mengendalikan kobaran. Api terus membesar sehingga warga kemudian meminta bantuan Damkarmat.

Petugas Damkarmat Sektor Bangorejo langsung menuju lokasi setelah menerima laporan. Tantangan pertama bukan hanya menjinakkan api, tetapi juga mencapai titik kebakaran.

Akses menuju lokasi ternyata tidak memadai untuk dilalui armada pemadam. Petugas akhirnya harus berjalan menuju titik api bersama warga sambil membawa peralatan pemadaman manual.

“Akses armada ke titik api tidak memadai. Jadi petugas terpaksa naik dan melakukan penanganan menggunakan tangki semprot (sprayer) serta peralatan manual lainnya,” terangnya.

Strategi pemadaman dilakukan dengan memutus jalur rambatan api terlebih dahulu. Petugas menyemprotkan air di sisi barat, utara, dan timur untuk mengendalikan bagian tepi kebakaran.

Setelah api di bagian perimeter berhasil dikendalikan, petugas bergerak menuju area tengah. Sisa-sisa kobaran dipadamkan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api.

Penanganan berlangsung hampir dua jam dan dilakukan bersama warga sekitar. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kebakaran tersebut.

Kadafi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran di kawasan hutan, lahan, maupun area terbuka, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering. Aktivitas pembakaran yang tidak diawasi dapat dengan cepat berubah menjadi kebakaran lahan.

“Masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan apabila melihat adanya titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran,” pungkasnya. (why)

Editor : Ali Sodiqin
Gunung Srawet Damkarmat Bangorejo vegetasi kering kebakaran hutan kebakaran Banyuwangi