Hutan Banyuwangi Mulai “Panas”, Tiga Hotspot Terdeteksi di Dua Kecamatan

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:00 WIB
Tiga Titik Panas Terdeteksi di Hutan Banyuwangi, BMKG Minta Waspada Karhutla. (BMKG)
Tiga Titik Panas Terdeteksi di Hutan Banyuwangi, BMKG Minta Waspada Karhutla. (BMKG)

RADAR BANYUWANGI — Tiga titik panas atau hotspot terdeteksi di kawasan hutan Banyuwangi. Meski belum bisa dipastikan sebagai kebakaran aktif, temuan BMKG tersebut menjadi sinyal peringatan dini karena dua titik berada di Kecamatan Wongsorejo dan satu titik lainnya terdeteksi di Kecamatan Songgon.

Temuan hotspot itu diketahui melalui pemantauan berkala menggunakan empat satelit pemantau cuaca dan lingkungan, yakni NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA. Satelit tersebut mengandalkan sensor VIIRS dan MODIS untuk menangkap indikasi sumber panas di permukaan bumi.

Prakirawan BMKG Kelas III Banyuwangi Rahmayani mengatakan, ketiga titik panas yang terdeteksi saat ini berada pada tingkat kepercayaan medium. Dalam sistem pencitraan satelit BMKG, indikasi tersebut ditandai dengan warna kuning.

“Tingkat kepercayaan medium artinya terdeteksi adanya indikasi sumber panas sedang di lokasi tersebut,” ujar Rahmayani.

Namun, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa tiga titik tersebut merupakan kebakaran hutan yang sedang berlangsung. Sebab, data satelit masih berupa indikasi dan membutuhkan verifikasi langsung melalui groundcheck di lokasi koordinat.

“Pada tingkat kepercayaan medium, sumber titik panas belum tentu 100 persen merupakan kebakaran aktif. Kita masih memerlukan pengecekan langsung di lapangan atau groundcheck,” jelasnya.

Meski demikian, lokasi hotspot yang berada di kawasan hutan membuat temuan tersebut tidak boleh diabaikan. Terlebih, Banyuwangi masih menghadapi periode musim kemarau yang meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran.

“Dilihat dari titik panas itu terlihat berada di area hutan. Untuk risiko potensi kebakaran ada, sehingga diharapkan lebih waspada,” tegas Rahmayani.

Warga Diminta Tak Sepelekan Api

BMKG meminta masyarakat Banyuwangi memperketat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas yang berpotensi memunculkan api di ruang terbuka harus dihindari, terutama membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan.

Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena api kecil di tengah kondisi kering dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas apabila tidak segera ditangani.

Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan hutan juga diminta aktif memperhatikan kondisi lingkungan. Jika menemukan kepulan asap mencurigakan atau titik api, laporan harus segera disampaikan kepada pihak berwenang.

Saluran pelaporan dapat melalui pemerintah desa, petugas perhutanan, Balai Taman Nasional, maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi.

Antisipasi Asap dan Kekeringan

Selain mengingatkan bahaya karhutla, BMKG mengimbau masyarakat yang tetap beraktivitas di luar ruangan untuk memperhatikan perlindungan diri. Penggunaan pelindung kulit dan masker disarankan, terutama apabila nantinya terjadi paparan asap maupun debu akibat kebakaran.

Masyarakat juga diminta mulai menghemat penggunaan air bersih. Imbauan tersebut menjadi bagian dari langkah menghadapi periode kemarau sekaligus menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan domestik.

BMKG mengingatkan bahwa informasi mengenai kondisi cuaca dan peringatan dini perlu terus dipantau. Masyarakat dapat memperoleh pembaruan melalui aplikasi INFO BMKG, media sosial resmi BMKG, kanal informasi BMKG, maupun Call Center 196.

Bagi Banyuwangi, tiga hotspot ini memang belum menjadi bukti terjadinya kebakaran aktif. Namun, kemunculannya di kawasan hutan cukup menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini, sebelum titik panas berubah menjadi kobaran yang sulit dikendalikan. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
karhutla Banyuwangi hotspot Banyuwangi titik panas hutan kebakaran hutan BMKG Banyuwangi