Tertidur Usai Kerja, Mujaini Terbangun Saat Rumahnya di Kembiritan Genteng Sudah Dilalap Api

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 23:30 WIB
Petugas Damkarmat Sektor Genteng saat memadamkan api di rumah warga Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Selasa (1/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Petugas Damkarmat Sektor Genteng saat memadamkan api di rumah warga Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Selasa (1/9). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Baru saja terlelap setelah pulang bekerja dari Bali, Mujaini, 62, mendadak terbangun karena hawa panas yang menyengat. Saat membuka mata, api sudah menjalar dari bagian atas rumahnya di Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (1/9). Dalam kondisi panik dan pintu keluar tertutup kobaran, dia terpaksa mendobrak jendela untuk menyelamatkan diri. Rumah beserta isinya ludes, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp100 juta.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 13.30. Rumah Mujaini berada di tengah permukiman padat penduduk sehingga kobaran api tidak hanya mengancam harta benda korban, tetapi juga bangunan di sekitarnya.

Mujaini menuturkan, saat kejadian dirinya tengah tidur di ruang tamu. Dia baru pulang bekerja dari Bali dan memilih beristirahat sejenak.

Hawa panas yang tiba-tiba terasa membuatnya terbangun. Begitu membuka mata, dia melihat kobaran api sudah menjalar dari bagian atas rumah.

“Saat bangun, saya lihat api sudah menjalar dari bagian atas,” ujar Mujaini menceritakan detik-detik mencekam tersebut.

Situasi semakin genting ketika api membesar dan menutup akses pintu keluar. Tanpa banyak berpikir, Mujaini memilih mendobrak jendela untuk keluar dari kepungan api.

Berhasil menyelamatkan diri bukan berarti kepanikan langsung reda. Mujaini justru teringat anak bungsunya, Fahrul, 10. Dia sempat mencari keberadaan sang anak di tengah situasi yang masih kacau.

“Saya lihat sepeda anak saya, ternyata tidak ada. Oh ternyata dia main sepeda,” katanya.

Sementara anaknya yang lain, Fadhil, 19, diketahui sedang bekerja saat kebakaran terjadi.

Tak lama setelah laporan diterima, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Sektor Genteng bergerak menuju lokasi. Fokus utama petugas adalah melokalisasi kobaran agar tidak merembet ke rumah-rumah lain.

Petugas Damkarmat Sektor Genteng Irfan Muhlisin mengatakan kondisi permukiman yang padat membuat proses pemadaman membutuhkan perhatian ekstra.

“Karena lokasi kebakaran berada di permukiman padat penduduk,” katanya.

Penanganan di lapangan juga tidak berjalan mulus. Akses menuju lokasi cukup sulit dilalui armada pemadam kebakaran. Selain itu, aliran listrik di rumah korban masih menyala ketika petugas tiba.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus menunggu penanganan dari pihak PLN demi memastikan keselamatan petugas dan warga.

Bahkan, seorang relawan pemadam kebakaran sempat tersengat aliran listrik ketika melakukan penanganan awal. Beruntung, relawan tersebut tidak mengalami luka serius dan masih dapat melanjutkan tugas hingga proses pemadaman selesai.

“Alhamdulillah tidak mengalami luka serius dan bisa melanjutkan tugas pemadaman hingga tuntas,” tutur Irfan.

Kapolsek Genteng Kompol Khoirul Anwar yang datang ke lokasi kemudian memerintahkan anggotanya melakukan pengecekan menyeluruh. Berdasarkan penanganan awal dan keterangan saksi, dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik.

“Api diduga berasal dari korsleting listrik. Sekitar pukul 15.30 api sudah dapat dipadamkan sepenuhnya,” ujar Khoirul.

Kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.30. Namun, rumah Mujaini tak lagi bisa diselamatkan. Bangunan rumah, satu unit sepeda motor, perabotan rumah tangga, hingga dokumen penting berupa sertifikat tanah ikut dilalap api.

Total kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp100 juta. Beruntung, Mujaini berhasil menyelamatkan diri dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pasca-kebakaran, Khoirul mengajak warga sekitar memperkuat kepedulian sosial terhadap korban. Kebutuhan paling mendesak seperti makanan dan pakaian diharapkan bisa dibantu secara gotong royong.

“Kami berharap warga sekitar kompak dan bahu-membahu membantu keperluan darurat korban, seperti pasokan makanan dan pakaian,” harapnya.

Kebakaran tersebut menjadi pukulan berat bagi Mujaini. Dalam hitungan jam, tempat tinggal, kendaraan, perabotan, hingga dokumen berharga miliknya musnah. Namun, di tengah kehilangan itu, satu hal paling penting tetap terselamatkan: nyawanya. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Damkarmat Genteng Kebakaran Genteng Mujaini Rumah Terbakar Korsleting Listrik