RADAR BANYUWANGI – Uang kertas dibakar, makanan ditata, dupa mengepul. Di halaman Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi, ritual Sembayang Rebutan King Hoo Ping menjadi cara umat menghormati arwah yang telah lama pergi dan mungkin sudah tak lagi diingat keluarganya.
Ritual tahunan itu digelar pada bulan ketujuh kalender Imlek, tepat pada tanggal 15 atau saat bulan purnama. Bukan sekadar sembahyang, tradisi tersebut menjadi ruang bagi umat untuk mengirim doa sekaligus persembahan kepada para arwah yang disebut telah dilupakan keluarganya.
Siang itu, halaman Klenteng Hoo Tong Bio dipenuhi aneka sesembahan. Kue basah, buah-buahan, hingga makanan berat seperti mi, ikan, dan ayam kecap tersusun di meja arwah. Di antara sajian tersebut, terdapat pula uang kertas yang nantinya dibakar sebagai bagian dari ritual.
Puluhan umat berdiri sembari mengangkat dupa. Doa dilantunkan dengan khidmat, seolah para leluhur yang didoakan benar-benar hadir di tengah mereka.
“Terimalah sesembahan kami ini. Kami berdoa seolah-olah kalian hadir di antara kami. Bagi roh yang masih kedukaan di alam baka, semoga doa kami jadi penyejuk dan penuntun bagi mereka,” ucap salah seorang umat sembari mengangkat 12 batang dupa.
Wakil Ketua Bidang Kerohanian TITD Hoo Tong Bio, Kumalasari, 70, menjelaskan Sembayang Rebutan digelar setahun sekali. Waktunya mengikuti penanggalan Imlek, yakni pada bulan ketujuh, tanggal 15 atau bertepatan dengan bulan purnama.
“Sembahyang digelar setahun sekali untuk menghormati arwah orang-orang yang sudah dilupakan keluarganya,” kata Kumalasari.
Sesajian Lebih Lengkap
Menurut nenek enam cucu tersebut, Sembayang Rebutan memiliki kekhasan dibandingkan ritual sembahyang lainnya. Salah satunya terlihat dari jenis sesembahan yang disiapkan umat.
Pada ritual tersebut, meja arwah dipenuhi beragam makanan. Mulai kue dan buah-buahan hingga hidangan seperti mi, ikan, dan ayam kecap.
Rangkaian sembahyang juga dilakukan secara bertahap. Umat terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Tian. Setelah itu, doa dilanjutkan kepada tuan rumah atau Kongco Tan Hu Cin Jin.
Rangkaian kemudian berlanjut ke meja arwah. Di tempat itulah berbagai makanan dan persembahan disiapkan untuk para arwah.
Tak hanya makanan, uang kertas juga dibakar. Dalam keyakinan umat, persembahan tersebut diharapkan dapat sampai kepada para arwah yang telah lama meninggalkan dunia.
“Semua ini partisipasi dari umat. Ada yang bawa makanan, ada juga yang bawa sembako. Nanti dibagikan setelah sembayang,” tutur Kumalasari.
Di balik kepulan asap dupa dan pembakaran uang kertas, Sembayang Rebutan menyimpan pesan tentang ingatan. Mereka yang telah pergi tetap diberi tempat melalui doa dan persembahan, meski mungkin tak lagi memiliki keluarga yang mengingatnya.
Bagi umat Klenteng Hoo Tong Bio, ritual tersebut menjadi cara untuk menjaga hubungan antara yang masih hidup dan mereka yang telah lebih dulu meninggalkan dunia. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin