RADAR BANYUWANGI – Kemarau panjang membuat puluhan keluarga di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, masih kesulitan mendapatkan air bersih. Sepanjang Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi sudah lima kali mengirim bantuan air, tetapi sekitar 40 kepala keluarga (KK) di Dusun Kebonrejo hingga kini masih bergantung pada pasokan tangki untuk kebutuhan minum dan memasak.
Kekeringan mulai terasa sejak awal Agustus. Dua dusun, yakni Sendangrejo dan Kebonrejo, terdampak setelah sumur-sumur warga mengering akibat musim panas yang berkepanjangan.
Kepala Desa Kebondalem Ikhsan mengatakan, kondisi di Sendangrejo kini mulai teratasi. Warga memanfaatkan sumur bor milik salah satu masyarakat yang airnya dialirkan ke rumah-rumah melalui jaringan pipa.
“Menggunakan sistem pipanisasi, air dari sumur bor mengalir ke rumah warga,” ujarnya.
Kondisi berbeda masih terjadi di Dusun Kebonrejo. Warga setempat masih mengandalkan bantuan air bersih dari BPBD Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam satu bulan terakhir, BPBD telah lima kali mengirimkan bantuan air ke Desa Kebondalem. Setiap pengiriman terdiri atas satu hingga dua mobil tangki, dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter.
Bagi warga Kebonrejo, air bantuan tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, terutama minum dan memasak.
“Bantuan air bersih ini digunakan warga untuk kebutuhan seperti memasak hingga minum. Sedangkan mandi atau mencuci, mereka mengandalkan air sungai,” terang Ikhsan.
40 KK Masih Bergantung Air Bantuan
Kekeringan paling terasa di Dusun Kebonrejo. Ikhsan memperkirakan sekitar 40 KK terdampak langsung akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur penggunaan air secara ketat. Air dari tangki bantuan tidak digunakan untuk seluruh kebutuhan rumah tangga karena stok yang tersedia harus diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi.
Sementara kebutuhan mandi dan mencuci dipenuhi dari air sungai yang masih dapat dimanfaatkan warga.
Situasi ini menunjukkan dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan mengeringnya sumber air, tetapi juga memaksa masyarakat mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ajukan Sumur Bor dan Pipanisasi
Pemerintah Desa Kebondalem tidak ingin ketergantungan terhadap bantuan tangki berlangsung terus-menerus. Salah satu solusi yang disiapkan adalah mengajukan pembangunan sumur bor sekaligus jaringan pipanisasi di wilayah yang terdampak.
Ikhsan berharap pengajuan tersebut dapat segera terealisasi. Jika sumur bor tersedia dan jaringan perpipaan bisa dibangun, kebutuhan air bersih warga di Kebonrejo diharapkan lebih terjamin.
“Kalau pengajuan itu deal, maka kekeringan di sini akan teratasi,” pungkasnya.
Untuk sementara, bantuan air bersih dari BPBD masih menjadi penopang utama warga Kebonrejo. Lima kali pengiriman sepanjang Agustus menjadi gambaran betapa panjangnya dampak kemarau yang dirasakan warga lereng Gunung Srawet tersebut.
Jika sumber air permanen melalui sumur bor dan pipanisasi dapat terealisasi, warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kedatangan mobil tangki setiap kali stok air bersih menipis. (why/aif)
Editor : Ali Sodiqin