RADAR BANYUWANGI - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung bertepatan dengan bulan kemerdekaan menjadi ruang bagi masyarakat Banyuwangi untuk memadukan tradisi keagamaan dan semangat nasionalisme.
Kreativitas tersebut salah satunya terlihat melalui tradisi ndog-ndogan yang menghadirkan jodhang dengan hiasan bernuansa merah putih.
Jodhang menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi endhog-endhogan.
Media yang terbuat dari batang pohon pisang tersebut dihias sedemikian rupa untuk menjadi tempat menancapkan puluhan hingga ratusan tusuk kembang endhog.
Pada pelaksanaan Maulid kali ini, masyarakat memberikan tampilan berbeda dengan menonjolkan warna merah dan putih pada jodhang.
Pemilihan warna tersebut disesuaikan dengan suasana bulan kemerdekaan yang berlangsung bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kembang endhog yang telah dipersiapkan kemudian ditata dan ditancapkan pada batang pohon pisang.
Ketika seluruh susunan memenuhi jodhang, tampilannya menjadi semakin semarak sekaligus memperkuat daya tarik tradisi ndog-ndogan di tengah masyarakat.
Tidak hanya hasil akhirnya, proses pembuatan jodhang juga menjadi kegiatan yang melibatkan warga secara bersama-sama.
Mereka bekerja mulai dari menyiapkan bahan, menghias batang pohon pisang, hingga menyusun kembang endhog yang akan digunakan dalam rangkaian kegiatan Maulid.
Menurut Ica, penggunaan warna merah putih sengaja dipilih untuk menghadirkan nuansa yang berbeda pada perayaan tahun ini.
“Karena Maulidnya bertepatan dengan bulan kemerdekaan, kami memilih warna merah putih supaya suasananya lebih meriah,” ujar Ica.
Perpaduan tradisi ndog-ndogan dengan ornamen bernuansa kemerdekaan menunjukkan cara masyarakat mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Dua momentum yang hadir dalam waktu berdekatan tersebut dipadukan melalui unsur visual yang sederhana, tetapi memiliki makna simbolis.
Selain menambah kemeriahan peringatan Maulid Nabi, pembuatan jodhang secara bersama-sama juga menjadi sarana untuk menjaga keberlangsungan tradisi lokal.
Keterlibatan warga, termasuk generasi muda, diharapkan membuat ndog-ndogan tetap dikenal dan terus diwariskan di tengah perubahan zaman.
Editor : Lugas Rumpakaadi