RADAR BANYUWANGI - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi Banyuwangi.
Kebakaran yang terpantau di kawasan perbatasan Bondowoso, sekitar Kawah Wurung, membuat Pemkab Banyuwangi terus meningkatkan kewaspadaan.
Meski hingga kini belum ada laporan kebakaran hutan di wilayah Banyuwangi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi telah melakukan berbagai langkah mitigasi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi Partana mengatakan, puncak musim kemarau menjadi periode rawan terjadinya karhutla.
Berdasarkan pemetaan BPBD, sebagian besar kawasan hutan di empat kecamatan di Banyuwangi memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Kalau potensi di musim ini, ya tentu terjadi ketika di titik-titik tertentu karhutla mulai tersulut. Berdasarkan pemetaan kami, wilayah dengan potensi kerawanan tertinggi di Banyuwangi mencakup hampir keseluruhan kawasan hutan yang ada di empat kecamatan," ujar Partana.
Empat kecamatan yang masuk zona merah karhutla tersebut yakni Wongsorejo, Kalibaru, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.
Keempat wilayah tersebut memiliki kawasan hutan yang cukup luas.
Secara keseluruhan, kawasan hutan disebut mendominasi sekitar 30 persen wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Di Wongsorejo, ancaman kebakaran dipengaruhi oleh kondisi kekeringan dan potensi angin kencang.
Sementara Kalibaru memiliki karakteristik wilayah perbukitan dengan vegetasi yang mulai mengering.
Sedangkan Pesanggaran memiliki kawasan hutan yang cukup luas.
Adapun Tegaldlimo berbatasan langsung dengan kawasan konservasi yang juga rentan terhadap munculnya titik api.
Menurut Partana, meningkatnya potensi karhutla tidak lepas dari kondisi kemarau panjang.
Bahkan, sejumlah wilayah Banyuwangi mulai mengalami persoalan ketersediaan air bersih.
"Kondisi ini merupakan dampak dari kemarau panjang. Puncak musim kemarau di bulan Agustus hingga September ini memang menjadi fase paling krusial di mana kita harus mengantisipasi ancaman karhutla secara maksimal," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Banyuwangi bersama Forkopimda segera memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
Apel siaga dan gelar pasukan Satgas Karhutla disiapkan dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Perhutani di tiga wilayah kerja serta pengelola Taman Nasional Alas Purwo.
"Masing-masing pemangku kepentingan mulai memperkuat kesiapsiagaan personel, mengintensifkan patroli, hingga memaksimalkan pemantauan melalui menara pengawas kehutanan," imbuhnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Termasuk ketika membersihkan lahan, daun kering maupun sampah sebaiknya tidak dibakar di kawasan terbuka.
Sebab, kondisi angin dan vegetasi yang kering membuat api mudah merembet dan sulit dikendalikan.
"Bagi masyarakat, untuk sementara sampah organik tidak perlu dibakar di tempat terbuka yang rawan. Lebih baik ditimbun, karena nanti saat musim hujan tiba, tumpukan sampah itu justru akan berubah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi