RADAR BANYUWANGI - Banyuwangi kembali dipercaya pemerintah pusat menjadi daerah percontohan nasional dalam penanganan kemiskinan.
Setelah sukses menjadi pilot project digitalisasi perlindungan sosial (perlinsos), kini Kementerian Sosial (Kemensos) memilih kabupaten ujung timur Pulau Jawa sebagai lokasi piloting Program Pemberdayaan dan Pengentasan Sosial Ekonomi (PPSE).
Program ini akan mengembangkan model pemberdayaan keluarga penerima manfaat (KPM) agar tidak hanya bergantung pada bantuan sosial (bansos), tetapi mampu meningkatkan kapasitas ekonomi, memiliki aset, memperoleh akses usaha, hingga mandiri dan graduasi dari bansos.
Model yang dikembangkan di Banyuwangi nantinya dapat menjadi pembelajaran dan direplikasi daerah lain di Indonesia.
Untuk diketahui, graduasi merupakan proses atau momen keluarnya seseorang atau keluarga penerima manfaat (KPM) dari program bansos pemerintah karena dinilai sudah mampu, mandiri secara ekonomi, atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai penerima bantuan.
Penunjukan Banyuwangi sebagai lokasi piloting tersebut disampaikan Tenaga Ahli Menteri Sosial (Mensos) Andy Kurniawan saat Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan bersama Bupati Ipuk Fiestiandani dan jajaran perangkat daerah di Banyuwangi, pada Jumat (21/8).
Menurut Andy, kepercayaan tersebut tidak lepas dari keberhasilan Banyuwangi menjalankan piloting digitalisasi Perlinsos yang kini telah diperluas ke 43 kabupaten/kota se-Indonesia.
Berkat capaian tersebut, lanjut Andy, Kemensos kembali memilih Banyuwangi sebagai lokasi percontohan untuk mengembangkan model pemberdayaan dalam pengentasan kemiskinan.
"Model pengentasan kemiskinan ini tidak bisa kita uji di banyak tempat secara bersamaan, harus fokus di lokasi tertentu. Oleh karena itu, kami memilih Banyuwangi sebagai model percontohan harapannya kesuksesan perlinsos terulang lagi di sini,” ujarnya.
Salah satu program yang akan dikembangkan adalah PPSE, yakni program pemberdayaan yang mencakup aspek sosial dan ekonomi melalui pendekatan individu maupun kelompok.
Program ini dilakukan melalui penguatan kemampuan, kepemilikan aset, dan akses untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat.
“Sasaran programnya mencakup KPM penerima PKH, Sembako, dan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi), serta orang tua siswa Sekolah Rakyat (SR). Prioritas diberikan kepada masyarakat yang masuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) desil 1-4, berusia 19-64 tahun, serta telah menjadi penerima PKH dan/atau sembako minimal selama satu tahun,” ujar Andy.
KPM yang telah memiliki rintisan usaha akan mendapat prioritas karena program diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi yang sudah berjalan.
Selain itu, program juga dapat diberikan kepada masyarakat yang mengalami risiko sosial sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Bupati Ipuk menyatakan siap menindaklanjuti rekomendasi teknis dari Kemensos.
Angka kemiskinan di Banyuwangi kini turun di angka 6,13 persen.
“Kami yakin program ini akan bermanfaat bagi warga, tidak hanya bansos namun juga ada penguatan dan peningkatan kapasitas ekonomi rakyat,” tuturnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi