RADAR BANYUWANGI - Memasuki musim kemarau, debit sungai di sejumlah wilayah di Banyuwangi mulai turun.
Salah satunya aliran sungai menuju Dam Garit yang berlokasi di Desa Alasmang, Kecamatan Singojuruh.
Dalam kondisi normal, debit air Dam Garit yang digunakan untuk pertanian mencapai 840 liter per detik.
Sedangkan Senin (24/8), debit air untuk irigasi “hanya” 400 liter per detik.
Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Singojuruh Jasmani mengatakan, akhir-akhir ini kondisi aliran Dam Garit hanya tersisa sekitar 400 liter per detik.
Karena itu, guna memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian yang airnya bergantung dari Dam Garit dibutuhkan dropping tambahan dari wilayah hulu.
“Ini sudah mulai dropping debit air,” ujarnya Senin (24/8).
Menurut Jasmani, dalam satu pekan aliran sungai yang mengalir ke Dam Garit mendapatkan dropping air sebanyak dua kali per pekan, yakni setiap Senin dan Selasa.
Hal ini bertujuan untuk penyelamatan tanaman milik petani.
“Dam Garit dapat dropping air 600 liter per detik dua hari dalam sepekan. Jadi, selama dua hari itu total debit airnya menjadi 1.000 liter per detik,” ujarnya.
Jasmani menambahkan, air dari Dam Garit mengaliri persawahan di enam desa di Kecamatan Singojuruh dan empat desa di Kecamatan Rogojampi.
Total sawah yang dialiri mencapai 840 hektare.
"Dengan adanya droppingdari hulu diharapkan bisa menyelamatkan tanaman milik petani,” harapnya.
Juru Dam Garit, Heru Mayangkoro, mengatakan bahwa rata-rata lahan pertanian yang mendapat aliran air dari Dam Garit saat ini ditanami padi.
Sehingga untuk mencegah tanaman petani mengalami gagal panen (puso), sangat dibutuhkan dropping air dari hulu.
Editor : Lugas Rumpakaadi