Radar Digital Mission Race 2026 Uji Kecepatan dan Pengetahuan Pelajar tentang Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:38 WIB
Peserta Radar Digital Mission Race 2026 memindai barcode untuk membuka soal dan misi sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. (Istimewa)
Peserta Radar Digital Mission Race 2026 memindai barcode untuk membuka soal dan misi sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI - Radar Digital Mission Race 2026 menghadirkan konsep perlombaan yang memadukan kecepatan, pengetahuan daerah, teknologi digital, dan kerja sama tim.

Ajang yang diikuti pelajar SMP/MTs ini tidak hanya menuntut peserta bergerak cepat dari satu pos ke pos lainnya, tetapi juga memahami berbagai informasi mengenai Banyuwangi.

Dalam perlombaan tersebut, setiap tim harus memindai barcode yang tersedia di masing-masing pos.

Setelah dipindai, barcode akan menampilkan soal sekaligus misi yang harus diselesaikan peserta sebelum dapat melanjutkan perjalanan.

Materi pertanyaan disusun dari berbagai aspek yang berkaitan dengan Banyuwangi.

Peserta dapat menghadapi soal mengenai budaya, sejarah, tradisi, maupun kuliner khas daerah.

Karena itu, kemampuan mengenali potensi dan karakteristik Banyuwangi menjadi salah satu faktor penting dalam menyelesaikan perlombaan.

Jawaban yang tepat menjadi syarat bagi tim untuk melanjutkan misi ke pos berikutnya.

Sebaliknya, kesalahan dalam menjawab dapat membuat peserta tertahan dan memengaruhi perjalanan mereka dalam mengejar waktu.

“Jadi peserta tidak hanya mengejar waktu. Mereka harus bisa menjawab soal yang diberikan melalui barcode. Kalau jawabannya benar, mereka bisa melanjutkan ke pos berikutnya,” ujar Gerda Sukarno Prayuda, Manajer Even Radar Digital Mission Race 2026.

Setiap pos dirancang dengan tantangan yang berbeda.

Peserta harus memahami petunjuk dari sistem digital, berdiskusi dengan anggota tim, kemudian menentukan jawaban secara tepat.

Pola permainan tersebut membuat kemampuan berpikir, komunikasi, ketelitian, dan pengambilan keputusan menjadi bagian penting dalam perlombaan.

Muatan soal yang dekat dengan kekayaan daerah juga memberi dimensi edukatif pada kegiatan tersebut.

Pengetahuan mengenai tradisi dan budaya Banyuwangi, perjalanan sejarah daerah, hingga kuliner khas menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi peserta.

Konsep ini membuat Radar Digital Mission Race 2026 tidak berhenti sebagai kompetisi berbasis kecepatan.

Peserta sekaligus diajak mengenal Banyuwangi secara lebih dekat melalui pengalaman yang bersifat langsung, interaktif, dan kompetitif.

Setiap barcode pun memiliki fungsi lebih dari sekadar penanda untuk berpindah pos.

Di balik sistem digital tersebut, peserta menemukan pertanyaan yang harus dipecahkan bersama sebelum dapat meneruskan perjalanan.

Menurut Gerda, mekanisme tersebut menjadi salah satu unsur yang membuat perlombaan berlangsung dinamis.

“Konsep inilah yang membuat perlombaan berlangsung dinamis. Peserta harus bergerak cepat, tetapi tetap teliti. Sebab, kesalahan menjawab soal bisa membuat mereka tertahan dan kehilangan kesempatan untuk segera melanjutkan misi berikutnya,” katanya.

Dengan perpaduan petualangan dan edukasi, Radar Digital Mission Race 2026 menjadi ruang bagi pelajar untuk menguji kemampuan sekaligus memperluas wawasan tentang daerahnya sendiri.

Perlombaan ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat dikemas menjadi sarana pembelajaran yang mendorong peserta aktif bergerak, berpikir, dan bekerja sama.

Editor : Lugas Rumpakaadi
budaya banyuwangi Radar Digital Mission Race 2026 perlombaan digital edukasi dan petualangan pelajar banyuwangi