RADAR BANYUWANGI – Bagi nelayan, buruh tani hingga pedagang kecil, risiko kerja bukan sekadar soal penghasilan yang tak menentu. Sekali kecelakaan terjadi, biaya pengobatan bisa langsung menggerus pendapatan keluarga. Karena itu, 1.144 pekerja informal di Banyuwangi kini mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan melalui gerakan sosial ASN Banyuwangi Berbagi.
Kepesertaan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kepada 10 perwakilan penerima saat Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Taman Blambangan, Senin (17/8).
Program ASN Banyuwangi Berbagi kali ini menyasar pekerja informal yang selama ini rentan terhadap risiko pekerjaan. Mereka antara lain buruh nelayan, buruh tani, pedagang kecil, penjual sayur keliling, tukang pijat, hingga pekerja sektor informal lainnya.
Dari target 5 ribu pekerja informal, sebanyak 1.144 orang telah didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Para penerima merupakan warga yang masuk Desil 1-3 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kementerian Sosial.
Perlindungan tersebut mencakup jaminan pengobatan akibat risiko kerja, baik rawat jalan maupun rawat inap, serta santunan apabila peserta mengalami kecelakaan kerja yang berujung kecacatan atau meninggal dunia.
Nelayan hingga Penjual Rujak Merasakan Manfaat
Bagi Supriyono, 62, perlindungan tersebut terasa penting karena pekerjaannya sebagai nelayan memiliki risiko tinggi. Wilayah kerjanya pun tidak hanya berada di sekitar Banyuwangi.
"Saya biasanya ikut mencari ikan sampai sekitar wilayah Alas Purwo hingga Bali. Ini pertama kalinya saya punya BPJS Ketenagakerjaan. Alhamdulillah kerja jadi lebih tenang," ujar Supriyono.
Hal serupa dirasakan Muatip, buruh tani asal Desa Jambesari, Kecamatan Giri. Mendapat perlindungan sosial tanpa harus menanggung iuran sendiri menjadi kabar baik bagi dirinya.
"Senang, matur nuwun," ucapnya singkat.
Ada pula Istiqomah, 59, penjual rujak yang sehari-hari berjualan dari rumah. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan seorang anak.
Bagi Istiqomah, menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan secara gratis sangat membantu. Sebab, membayar iuran secara mandiri bukan perkara mudah bagi pekerja dengan penghasilan terbatas.
"Saya sangat senang dapat BPJS Ketenagakerjaan. Alhamdulillah gratis, kalau harus bayar sendiri terus terang cukup berat," ungkapnya.
ASN Banyuwangi Berbagi Sudah Berjalan Sejak 2024
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, ASN Banyuwangi Berbagi bukan program sesaat. Gerakan tersebut telah berjalan konsisten sejak 2024 sebagai bentuk kepedulian sosial aparatur pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan.
"Ini adalah gerakan rutin yang telah kita lakukan bersama-sama sejak 2024. Kami dorong ASN untuk terus melakukan aksi sosial, berbagi rejeki untuk meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu," kata Ipuk.
Bantuan yang disalurkan melalui ASN Banyuwangi Berbagi selama ini cukup beragam. Mulai pembagian ribuan paket sembako bagi warga prasejahtera, bantuan alat bantu mobilitas seperti kursi roda, hingga perlengkapan sekolah untuk siswa dari keluarga kurang mampu.
Menariknya, bantuan sembako tersebut juga dibeli dari warung-warung rakyat. Dengan begitu, gerakan sosial tersebut diharapkan tidak hanya membantu penerima manfaat, tetapi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat kecil.
Program ini juga tidak berjalan sendirian. Sejumlah pihak ikut memberikan dukungan, mulai kepolisian, TNI, BUMN, BUMD, pengusaha, hingga organisasi profesi di Banyuwangi.
Kini, melalui pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, gerakan ASN Banyuwangi Berbagi menyentuh sisi lain kehidupan pekerja informal: memberikan rasa aman ketika mereka tetap harus bekerja di tengah risiko pekerjaan yang tidak kecil. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin