Ancak, Lontar Yusuf hingga Kerah Macan, Cara Warga Papring Membuka Lahan Baru

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:01 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Masyarakat Papring berkumpul saat lakukan Selametan babat bumi, Minggu malam (16/8). (M Ksatria Raya)
LESTARIKAN TRADISI: Masyarakat Papring berkumpul saat lakukan Selametan babat bumi, Minggu malam (16/8). (M Ksatria Raya)

RADAR BANYUWANGI – Sebuah lahan milik Perhutani di Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi, resmi ditandai untuk dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan masyarakat. Bukan dengan seremoni formal, warga membuka pemanfaatan lahan tersebut melalui selametan babat bumi, Minggu malam (16/8).

Tradisi itu menjadi penanda awal sebelum lahan digunakan untuk berbagai aktivitas berbasis masyarakat. Prosesi berlangsung dengan membawa ancak, pembacaan lontar, hingga penguburan sejumlah perlengkapan tradisi sebagai simbol peletakan batu pertama.

Pendiri Kampung Batara, Widie Nurmahmudy, mengatakan lahan yang digunakan merupakan milik Perhutani. Nantinya, kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan.

“Pembukaan dengan lontar Yusuf menggunakan bahasa Oseng serta mamaca Madura agar tetap dilestarikan,” ujar Widie.

Warga Bawa Ancak, Lontar Yusuf Dibacakan

Prosesi selametan babat bumi diawali dengan warga Papring membawa ancak menuju lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan masyarakat.

Setelah tiba, ancak tersebut diselameti. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Lontar Yusuf yang menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat setempat.

Pemilihan bahasa Oseng dan mamaca Madura dalam kegiatan tersebut bukan sekadar pelengkap prosesi. Tradisi itu sekaligus menjadi cara masyarakat mempertahankan warisan budaya yang hidup di lingkungan Papring.

Widie menjelaskan, selametan juga dilengkapi sejumlah perlengkapan tradisional. Di antaranya cuk bakal, kinangan, kembang telon, hingga kerah macan.

Perlengkapan tersebut kemudian dikubur di lokasi.

“Kemudian semuanya dikubur sebagai peletakan batu pertama, sebagai bentuk bahwa lokasi ini bisa dipakai,” katanya.

Penguburan perlengkapan itu menjadi simbol bahwa lahan tersebut mulai dibuka untuk dimanfaatkan. Di balik prosesi tersebut terselip harapan agar keberadaan lokasi memberikan manfaat dan membawa kebaikan bagi masyarakat.

Bukan Sekadar Seremoni, Jadi Doa Bersama

Bagi masyarakat Papring, selametan babat bumi bukan sekadar kegiatan seremonial ketika hendak membuka sebuah tempat.

Tradisi tersebut menjadi ruang untuk berkumpul sekaligus memanjatkan doa bersama sebelum sebuah lokasi digunakan.

Salah satu warga Papring, Alfiyah, mengatakan tradisi selametan memang biasa dilakukan masyarakat ketika hendak membuka atau memanfaatkan tempat baru.

“Kalau di Papring tradisi masyarakatnya jika ada tempat baru maka akan diselameti atau didoakan bersama-sama,” tuturnya.

Karena itu, selametan babat bumi di lahan Perhutani tersebut memiliki dua makna sekaligus. Pertama, sebagai penanda dimulainya pemanfaatan lokasi. Kedua, sebagai ikhtiar budaya agar tempat tersebut dapat digunakan secara baik dan memberi manfaat bagi warga.

Budaya Oseng dan Mamaca Madura Tetap Dihidupkan

Menariknya, pembukaan lokasi juga menjadi momentum untuk mempertahankan keberagaman tradisi yang berkembang di Papring.

Pembacaan Lontar Yusuf dengan bahasa Oseng serta mamaca Madura memperlihatkan bagaimana tradisi lokal tetap memiliki ruang dalam kegiatan masyarakat.

Bagi warga, pelestarian tersebut penting agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita dari generasi sebelumnya. Tradisi justru terus dihadirkan dalam kegiatan nyata yang melibatkan masyarakat.

Dengan selametan babat bumi, lahan Perhutani di Papring tidak hanya dipersiapkan sebagai tempat berkegiatan. Prosesi tersebut juga menegaskan harapan warga agar ruang baru itu tumbuh bersama masyarakat, tanpa meninggalkan akar budaya yang selama ini menjadi identitas lingkungan setempat. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Selametan babat bumi Papring Banyuwangi Tradisi Oseng Lontar Yusuf Lahan Perhutani