RADAR BANYUWANGI — Di tengah peserta upacara yang mengenakan seragam, sosok pria lanjut usia dengan pakaian sederhana justru mencuri perhatian. Bukan karena ia berada di barisan khusus, melainkan karena sikap hormatnya ketika Sang Merah Putih diturunkan.
Dialah Suwarno, 73, warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Sehari-hari, pria yang akrab disapa Mbah No itu bekerja mencari rongsokan.
Namun, pada Senin (17/8), Mbah No sejenak meninggalkan aktivitasnya. Ia hadir di lapangan tempat digelarnya upacara penurunan bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanpa seragam. Tanpa atribut khusus. Mbah No berdiri di antara masyarakat yang menyaksikan prosesi tersebut.
Saat bendera Merah Putih mulai diturunkan, ia pun mengambil sikap hormat.
Momen sederhana itu ternyata menyentuh hati Camat Muncar Ahmad Kholid.
Tak Berseragam, Tetap Khidmat Hormat Bendera
Kholid membenarkan keberadaan Mbah No dalam upacara penurunan bendera tersebut.
Menurut dia, Mbah No bukan peserta resmi upacara. Lansia itu berada di lokasi karena sedang menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai pencari rongsokan.
Namun, ketika prosesi penurunan bendera berlangsung, aktivitasnya berhenti.
Mbah No memilih berdiri dan memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih.
"Sebenarnya malam usai upacara dan diketahui identitasnya mau saya langsung temui, tetapi kurang pantas jika berkunjung di malam hari," kata Kholid.
Keinginan tersebut akhirnya diwujudkan pada Selasa (18/8).
Bersama sejumlah staf Kecamatan Muncar, Kholid mendatangi rumah Mbah No di Desa Tembokrejo.
Kunjungan itu bukan untuk memberikan teguran karena hadir tanpa seragam. Sebaliknya, Camat Muncar datang untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan apresiasi.
"Utamanya ya bersilaturahmi dan saya (Camat Muncar) sangat kagum dengan Mbah No," ungkapnya.
Mbah No Pencari Rongsokan, tetapi Nasionalismenya Tinggi
Bagi Kholid, sosok Mbah No memberikan gambaran bahwa kecintaan terhadap Indonesia tidak mengenal usia, pekerjaan, maupun pakaian yang dikenakan.
Di usia 73 tahun, Mbah No masih menyempatkan diri berada di lokasi upacara.
Bahkan, ia tidak datang sebagai pejabat, aparat, peserta upacara, ataupun tamu undangan.
Ia datang sebagai warga biasa.
"Ini merupakan bentuk cinta tanah air. Sekaligus membuktikan, upacara bendera bukan hanya milik peserta, melainkan milik semuanya," jelas Kholid.
Menurut dia, tindakan Mbah No justru memperlihatkan makna sederhana dari nasionalisme.
Tidak harus mengenakan seragam untuk menunjukkan rasa hormat kepada bendera.
Sedang Cari Rongsokan Saat Upacara Berlangsung
Ada cerita menarik di balik kehadiran Mbah No.
Saat berada di lapangan tersebut, ia sebenarnya sedang menjalankan pekerjaan sehari-hari: mencari barang rongsokan.
Lapangan yang digunakan untuk upacara menjadi salah satu area tempat Mbah No mencari barang yang masih memiliki nilai jual.
Namun, aktivitas itu berhenti ketika prosesi penurunan bendera dimulai.
Di tengah kerumunan masyarakat, Mbah No mengambil sikap hormat.
Kholid menyebut tindakan tersebut bukan sesuatu yang dibuat-buat.
Dari pertemuannya dengan Mbah No, ia mengetahui bahwa kecintaan terhadap kegiatan kebangsaan sudah melekat sejak lama.
"Mbah No itu memang memiliki jiwa nasionalis yang tinggi sejak muda. Saat kami bertemu, ia mengaku sangat menyukai kegiatan seperti upacara bendera Merah Putih," terangnya.
Kisah Mbah No Jadi Pengingat Makna Kemerdekaan
Keseharian Mbah No mungkin jauh dari sorotan.
Ia menjalani hidup dengan mengumpulkan rongsokan dari satu tempat ke tempat lain. Pekerjaan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sosoknya justru menghadirkan cerita berbeda.
Di antara mereka yang mengenakan seragam dan berdiri dalam barisan resmi, Mbah No hadir dengan pakaian sederhana.
Ia tidak membawa jabatan.
Tidak pula membawa atribut.
Yang dibawanya hanya satu hal: rasa hormat kepada Merah Putih.
Bagi Camat Muncar, momen tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang berada di panggung atau barisan upacara.
Nasionalisme juga hidup di tengah masyarakat biasa—termasuk seorang lansia yang setiap hari berjuang mencari rongsokan.
Dan pada Senin sore itu, ketika Merah Putih perlahan diturunkan, Mbah No menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, tetapi tetap bermakna. (*)
Editor : Ali Sodiqin