RADAR BANYUWANGI – Gerakan sosial ASN Banyuwangi Berbagi kembali menebar manfaat. Program yang digelar secara rutin setiap bulan itu kali ini menyasar pekerja informal melalui pendaftaran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Pekerja yang mendapat perlindungan berasal dari berbagai sektor. Mulai buruh nelayan, buruh tani, pedagang kecil, penjual sayur keliling, tukang pijat, hingga pekerja informal lainnya.
Penyerahan simbolis kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dilakukan Bupati Banyuwangi kepada 10 perwakilan penerima. Momen tersebut berlangsung dalam Upacara Peringatan 17 Agustus di Taman Blambangan, Senin (17/8).
Hingga saat ini, ASN Banyuwangi Berbagi telah mendaftarkan 1.144 pekerja informal. Jumlah tersebut masih akan bertambah karena pemerintah daerah menargetkan 5.000 peserta hingga akhir Agustus 2026.
Para penerima merupakan warga yang masuk dalam kelompok Desil 1–3 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos. Artinya, program diarahkan kepada kelompok masyarakat yang secara sosial dan ekonomi membutuhkan dukungan lebih besar.
Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan atas risiko yang mungkin muncul saat bekerja. Peserta memperoleh jaminan pengobatan untuk perawatan rawat jalan maupun rawat inap, santunan akibat kematian, serta perlindungan ketika mengalami kecacatan akibat risiko kerja.
Bagi pekerja informal yang mengandalkan penghasilan harian, perlindungan tersebut menjadi penting. Sebab, kecelakaan maupun musibah saat bekerja dapat langsung berdampak terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga.
Salah satu penerima ialah Supriyono, 62, nelayan. Aktivitasnya mencari ikan membuat dia berhadapan dengan risiko kerja yang cukup tinggi, terutama ketika harus melaut hingga kawasan perairan jauh dari Banyuwangi.
“Saya biasanya ikut mencari ikan sampai sekitar wilayah Alas Purwo sampai Bali. Ini pertama kalinya saya punya BPJS Ketenagakerjaan, Alhamdulillah kerja jadi lebih tenang,” ujar Supriyono.
Hal serupa dirasakan Muatip, buruh tani asal Desa Jambesari, Kecamatan Giri. Ia mengaku bersyukur mendapat perlindungan sosial tanpa harus terbebani biaya kepesertaan.
“Senang, matur nuwun,” ujarnya.
Penerima lainnya, Istiqomah, 59, sehari-hari berjualan rujak dari rumah. Penghasilan tersebut menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan seorang anak.
“Saya sangat senang dapat BPJS Ketenagakerjaan, Alhamdulillah gratis, kalau harus bayar sendiri terus terang cukup berat,” tutur Istiqomah.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan ASN Berbagi merupakan gerakan sosial yang telah berjalan konsisten sejak 2024. Program tersebut didorong sebagai bentuk kepedulian ASN terhadap warga yang membutuhkan.
“Ini adalah gerakan rutin yang telah kita lakukan bersama-sama sejak 2024. Kami dorong ASN untuk terus melakukan aksi sosial, berbagi rejeki untuk meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu,” kata Ipuk.
Selama dua tahun berjalan, ASN Banyuwangi Berbagi telah diwujudkan dalam berbagai bentuk bantuan. Di antaranya pembagian ribuan paket sembako kepada warga prasejahtera yang dibeli dari warung rakyat, penyaluran ratusan alat bantu mobilitas seperti kursi roda, serta bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa kurang mampu.
Gerakan tersebut juga tidak berjalan sendiri. Sejumlah pihak ikut menopang pelaksanaannya, mulai kepolisian, TNI, BUMN, BUMD, kalangan pengusaha, hingga organisasi profesi di Banyuwangi.
Keterlibatan lintas sektor membuat program sosial ini memiliki cakupan manfaat yang lebih luas. Tidak hanya menghadirkan bantuan sesaat, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan kali ini juga menyentuh aspek penguatan rasa aman bagi pekerja informal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : banyuwangikab.go.id