RADAR BANYUWANGI – Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi di Jalan Letkol Istiqlah Nomor 58, jumlah penghuni kini telah mencapai 1.002 orang. Angka itu hampir empat kali lipat dari kapasitas ideal yang hanya sekitar 260 orang, membuat tingkat hunian lapas mengalami overload hingga mendekati 300 persen.
Kondisi penjara yang semakin penuh sesak itu kini menjadi perhatian serius. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun mulai mengupayakan solusi jangka panjang melalui rencana relokasi Lapas Banyuwangi ke lokasi baru.
Namun, rencana tersebut masih terkendala kebutuhan lahan.
Pemkab Banyuwangi sebelumnya telah menghibahkan lahan seluas 2,2 hektare untuk pembangunan lapas baru. Sementara, berdasarkan kebutuhan pembangunan, relokasi Lapas Banyuwangi membutuhkan lahan sekitar 5 hektare.
Artinya, masih ada kekurangan sekitar 2,8 hektare yang harus dipenuhi agar pembangunan lapas baru dapat direalisasikan.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan, kondisi Lapas Kelas IIA Banyuwangi yang jauh melampaui daya tampung membutuhkan penanganan serius. Karena itu, Pemkab terus berupaya mencari solusi, termasuk memenuhi kebutuhan tambahan lahan untuk relokasi.
“Kami akan berupaya mencari solusi, termasuk untuk memenuhi kekurangan lahan. Karena memang kondisi lapas saat ini sudah overload,” katanya.
Pemkab Cari Solusi Kekurangan Lahan
Menurut Mujiono, penyediaan lahan menjadi salah satu tahapan penting agar rencana pembangunan Lapas Banyuwangi yang baru bisa segera dilanjutkan.
Pemkab Banyuwangi, kata dia, akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari alternatif lahan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
“Kami komunikasikan dan koordinasikan dengan pihak terkait. Harapannya nanti kebutuhan lahannya bisa terpenuhi sehingga pembangunan lapas baru dapat dilakukan,” jelasnya.
Relokasi menjadi salah satu harapan untuk menjawab persoalan kepadatan hunian yang terus terjadi di Lapas Kelas IIA Banyuwangi. Dengan kapasitas ideal sekitar 260 orang, jumlah penghuni yang kini mencapai 1.002 orang membuat kebutuhan ruang dan fasilitas semakin besar.
Kepala Lapas Kelas IIA Banyuwangi Solichin membenarkan kondisi kelebihan kapasitas tersebut. Jumlah warga binaan yang berada di dalam lapas saat ini jauh melampaui daya tampung yang tersedia.
“Memang kondisinya sangat overload. Kapasitas kami sekitar 260 orang, sementara penghuni saat ini mencapai 1.002 orang,” katanya.
Hunian Padat Jadi Tantangan Pembinaan
Menurut Solichin, jumlah penghuni yang berlipat dari kapasitas ideal menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pembinaan dan pelayanan terhadap warga binaan.
Semakin padatnya hunian membuat kebutuhan terhadap ruang, sarana, dan fasilitas juga meningkat. Karena itu, keberadaan lapas baru diharapkan dapat memberikan kondisi hunian yang lebih memadai sekaligus mendukung proses pembinaan secara lebih optimal.
Pihak Lapas Kelas IIA Banyuwangi pun berharap Pemkab dapat membantu percepatan pemenuhan kebutuhan lahan yang masih kurang sekitar 2,8 hektare.
“Dengan adanya lapas baru, tentu kondisi hunian dan pelaksanaan pembinaan bisa lebih optimal,” tegas Solichin.
Jika kebutuhan lahan dapat dipenuhi, rencana relokasi Lapas Banyuwangi diharapkan menjadi jalan keluar atas persoalan overcapacity yang kini telah berlangsung di tengah meningkatnya jumlah warga binaan. Bagi Banyuwangi, pembangunan lapas baru bukan sekadar proyek pemindahan bangunan, melainkan kebutuhan untuk menyediakan ruang pembinaan yang lebih layak bagi lebih dari seribu penghuni yang kini tinggal dalam fasilitas berkapasitas hanya sekitar seperempatnya. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin