Sumur Warga Banyuwangi Mulai Mengering, Desa Kebondalem Jadi Salah Satu Wilayah Terparah

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 04:00 WIB
Petugas BPBD Banyuwangi menyuplai air bersih ke sejumlah kecamatan di Banyuwangi. Salah satunya di Kecamatan Bangorejo, Minggu (16/8). (BPBD for Radar Banyuwangi)
Petugas BPBD Banyuwangi menyuplai air bersih ke sejumlah kecamatan di Banyuwangi. Salah satunya di Kecamatan Bangorejo, Minggu (16/8). (BPBD for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Ketika hujan tak kunjung turun dan sumur warga mulai mengering, air bersih menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda. Memasuki puncak musim kemarau, BPBD Banyuwangi telah mendistribusikan 238 ribu liter air bersih ke empat kecamatan yang mulai mengalami krisis air.

Empat kecamatan tersebut adalah Cluring, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo. Distribusi dilakukan secara rutin hingga pertengahan Agustus untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi Partana mengatakan, bantuan air bersih terus disalurkan berdasarkan laporan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

“Jadi sampai dengan kemarin lusa (Jumat, 14/8), proses bantuan distribusi air bersih dilakukan di empat kecamatan yang totalnya mencapai 238 ribu liter,” katanya.

Dari empat wilayah tersebut, Bangorejo menjadi salah satu daerah yang mengalami kekeringan cukup parah. Kondisi itu terutama dirasakan warga Desa Kebondalem, khususnya di Dusun Kebonrejo dan Dusun Sendangrejo.

Di dua dusun tersebut, warga masih mengandalkan pasokan air bersih dari BPBD untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Agar distribusi lebih mudah dan warga tidak harus menunggu setiap kali membutuhkan air, BPBD telah menempatkan sejumlah tandon di lokasi terdampak.

Tandon yang disiapkan memiliki kapasitas berbeda, mulai 1.200 liter, 2.500 liter, hingga yang terbesar mencapai 5.200 liter. Persediaan akan kembali diisi ketika air habis dan terdapat laporan dari masyarakat.

“Kita sudah menyediakan tandon di setiap dusun. Tandon besar kapasitasnya 5.200 liter, yang kedua 2.500 liter, dan yang paling kecil kapasitasnya 1.200 liter,” papar Partana.

Pengajuan Bantuan Air Bersih Bertambah

Kekeringan diperkirakan belum akan segera berakhir. Berdasarkan prakiraan BMKG yang disampaikan BPBD, musim kemarau diprediksi berlangsung hingga akhir 2026, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September.

Dampaknya, jumlah wilayah yang mengajukan bantuan air bersih mulai bertambah. Tegaldlimo menjadi salah satu contoh. Jika sebelumnya baru dua desa yang meminta pasokan air, kini jumlahnya meningkat menjadi sembilan desa.

“Seiring berlangsungnya musim kemarau, wilayah yang mengajukan bantuan air bersih juga mulai bertambah. Di Kecamatan Tegaldlimo, misalnya, semula hanya dua desa yang meminta pasokan air. Namun kini jumlahnya meningkat menjadi sembilan desa,” sebut Partana.

BPBD Banyuwangi sebelumnya juga telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari kajian risiko yang dilakukan, terdapat 11 kecamatan yang memiliki potensi tersebut.

Tak Hanya Dropping Air

Penanganan krisis air tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan tangki air bersih. BPBD Banyuwangi juga menjalankan intervensi melalui program ASN Berbagi dengan memberikan bantuan berupa pipa dan tandon air.

Skemanya memanfaatkan sumber air warga yang masih produktif. Air dari sumur tersebut dialirkan menggunakan pipa menuju tandon penampungan sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Salah satu intervensi dilakukan di Dusun Kebonrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo. Di lokasi tersebut masih terdapat sumur warga yang memiliki cadangan air.

“Kami meminta izin kepada warga untuk membantu masyarakat di sekitarnya,” jelas Partana.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BPBD agar pemenuhan kebutuhan air bersih tidak hanya bergantung pada distribusi tangki. Sumber air yang masih tersedia di tengah permukiman dioptimalkan untuk membantu lebih banyak warga.

Partana mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama kemarau. Dengan puncak musim kering masih berlangsung, kebutuhan air bersih diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

“Kami berharap masyarakat menggunakan air sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Namun selama masih ada warga yang membutuhkan, BPBD bersama seluruh pihak terkait akan terus berupaya menyalurkan bantuan air bersih,” pungkasnya. (rio/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
air bersih Banyuwangi kekeringan Banyuwangi kemarau Banyuwangi bpbd banyuwangi krisis air