Saat 1.000 Pelajar Banyuwangi Ubah Jalanan Jadi Panggung Kebangsaan

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 05:00 WIB
ATRAKSI BUDAYA: Peserta Karnaval Kebangsaan menampilkan parade kostum serta beragam kesenian dan budaya daerah. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
ATRAKSI BUDAYA: Peserta Karnaval Kebangsaan menampilkan parade kostum serta beragam kesenian dan budaya daerah. Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Jalanan Banyuwangi berubah menjadi panggung raksasa keberagaman, Kamis (13/8). Lebih dari 1.000 siswa SMP/MTs se-Banyuwangi turun ke jalan mengikuti Karnaval Kebangsaan, membawa pesan nasionalisme melalui kostum, musik, tari, hingga teatrikal budaya Nusantara.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia itu diberangkatkan dari depan Kantor Pemkab Banyuwangi oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, didampingi jajaran Forkopimda dan Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian.

Para pelajar kemudian menyusuri rute sekitar 2,5 kilometer. Antusiasme warga terlihat di sejumlah titik yang dilalui rombongan. Jalanan pun seolah menjadi panggung terbuka tempat para siswa mempertontonkan kreativitas sekaligus keberagaman budaya Indonesia.

Yang menarik, penampilan peserta tidak hanya menonjolkan budaya Banyuwangi. Berbagai identitas daerah lain ikut dibawa ke dalam parade, mulai dari Aceh, Madura, Sulawesi, Sumatera Barat, hingga Papua.

Kostum warna-warni, tarian tradisional, musik, dan pertunjukan teatrikal berpadu dalam satu parade. Keragaman itu menjadi gambaran kecil Indonesia yang ditampilkan melalui kreativitas generasi muda.

Nasionalisme Tak Harus Lewat Upacara

Bagi Bupati Ipuk Fiestiandani, Karnaval Kebangsaan bukan sekadar agenda tahunan untuk memeriahkan kemerdekaan.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal identitas daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa melalui cara yang dekat dengan dunia mereka: seni, budaya, dan kreativitas.

“Ini bukan hanya sekadar karnaval, tapi bagian kita untuk membangun kepedulian kepada daerah dan bangsa, terutama memberikan ruang bagi anak-anak kita untuk terus bisa merayakan hari kemerdekaan,” ujar Ipuk.

Menurut dia, makna kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan setiap Agustus. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk terus berkarya, membangun daerah, dan mempersiapkan masa depan.

“Saya mengapresiasi karnaval kebangsaan ini. Kalian tidak hanya sekadar menampilkan kostum dan musik, tetapi menunjukkan bahwa nasionalisme itu bisa tumbuh melalui seni, budaya, kreativitas, dan juga dalam kebersamaan,” kata Ipuk.

Ipuk juga mengingatkan pelajar agar tidak kehilangan identitas ketika berhadapan dengan perkembangan zaman.

Generasi muda, kata dia, harus mampu mengikuti perkembangan global tanpa tercerabut dari akar budayanya.

“Kita boleh modern tetapi tetap berakar, boleh mendunia tetapi tidak kehilangan identitas, boleh menerima budaya global tetapi tetap bangga pada budaya kita sendiri,” tegasnya.

Garda Blambangan di Era Digital

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian mengungkapkan, Karnaval Kebangsaan tahun ini mengusung tema “Garda Blambangan sebagai Pahlawan di Era Digital”.

Tema tersebut sengaja dipilih untuk mengingatkan kembali para pelajar bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang para pahlawan di berbagai daerah, termasuk Banyuwangi.

“Tema ini diangkat karena kita menyadari bahwa kemerdekaan yang kita raih tidak datang secara tiba-tiba, tapi dibentuk dari perjuangan di semua daerah yang berupaya membebaskan diri dari penjajahan, termasuk di Banyuwangi,” jelas Alfian.

Tantangan yang dihadapi dunia pendidikan kini semakin kompleks. Arus informasi digital dan budaya global begitu dekat dengan kehidupan generasi muda.

Di satu sisi, teknologi membuka akses pengetahuan yang luas. Namun, di sisi lain, kedekatan dengan informasi global berpotensi membuat pelajar semakin jauh dari sejarah dan identitas daerahnya sendiri.

“Ada kegelisahan dari kami di dunia pendidikan, terutama dalam digitalisasi, generasi muda kita semakin jauh dari pengalaman sejarah karena mereka cenderung lebih dekat dengan informasi digital secara global,” ungkapnya.

Karena itu, karnaval dipandang sebagai salah satu medium yang efektif untuk mempertemukan generasi muda dengan sejarah secara lebih kreatif.

“Kami memandang karnaval menjadi media yang paling efektif untuk kembali mengenalkan pahlawan sejarah kita,” kata Alfian.

Bukan sekadar menghafal nama tokoh atau tanggal peristiwa, para pelajar diajak menghidupkan kembali cerita perjuangan melalui kostum, musik, tari, dan pertunjukan.

Dengan cara itu, sejarah tidak hanya tersimpan di buku pelajaran, tetapi hadir dalam bentuk pengalaman yang mereka tampilkan sendiri.

“Kami memahami dalam karnaval kebangsaan ini anak-anak akan mengenal, memahami, bahkan mengekspresikan dan menceritakan kembali perjuangan yang dialami oleh pahlawan kita,” ujarnya.

Menjaga Identitas di Tengah Arus Digital

Karnaval Kebangsaan akhirnya bukan hanya menjadi parade ribuan pelajar. Ada pesan yang lebih besar di balik kemeriahan tersebut: bagaimana generasi muda tetap mampu membawa identitas lokal ketika dunia semakin terkoneksi.

Bagi Banyuwangi, seni dan budaya menjadi salah satu cara untuk memastikan identitas tersebut tidak hilang ditelan zaman.

“Dalam karnaval kebangsaan ini menjadi bagian kita untuk mengembalikan identitas daerah,” pungkas Alfian. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Karnaval Kebangsaan Nasionalisme pelajar budaya nusantara karnaval Banyuwangi pelajar banyuwangi