Terpendam Puluhan Tahun, Jejak Blambangan di Umpak Songo Kini Mulai Lapuk

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:00 WIB
Santoso menunjukkan batu bata di area situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (13/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Santoso menunjukkan batu bata di area situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (13/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Di tengah permukiman Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, tersimpan sebuah situs yang dipercaya sebagian warga sebagai jejak Kerajaan Blambangan. Namanya Situs Umpak Songo.

Situs tersebut diyakini dulunya merupakan fondasi aula pertemuan yang digunakan untuk menjamu tamu agung kerajaan. Namun, warisan sejarah yang pertama kali ditemukan sekitar 1916 itu kini menghadapi persoalan serius.

Sejumlah batu bata yang diyakini menjadi bagian fondasi mulai berserakan dan mengalami kerusakan. Perekat semen yang digunakan untuk memperkuat struktur puluhan tahun lalu juga mulai lapuk.

Jika tidak segera ditangani, kerusakan dikhawatirkan meluas dan semakin menyulitkan upaya mempertahankan situs yang selama ini dirawat secara terbatas oleh keluarga penemunya.

Diperkuat Semen Sejak 1980

Santoso, juru pelihara Situs Umpak Songo, mengatakan area situs sebenarnya dibersihkan setiap hari oleh keturunan Mbah Nadi Gede, sosok yang pertama kali menemukan reruntuhan tersebut.

Namun, kemampuan keluarga untuk melakukan perbaikan terbatas.

Santoso menjelaskan, ketika pertama ditemukan, struktur bangunan hanya menggunakan perekat tanah. Sekitar 1980, warga bersama pemerintah setempat kemudian memperkuat struktur menggunakan semen.

“Dulu sekitar tahun 1980 oleh orang-orang diberi semen agar lebih kuat. Awalnya hanya perekat tanah. Hingga saat ini, masih belum ada perbaikan lagi,” jelas Santoso.

Kini, penguat fondasi yang telah berusia puluhan tahun tersebut mulai mengalami pelapukan.

Dampaknya terlihat dari sejumlah batu bata yang terlepas dan berserakan di sekitar area situs.

“Kami (keturunan Mbah Nadi Gede) tidak mampu melakukan perbaikan secara mandiri karena keterbatasan dan pekerjaan lain,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena situs memiliki nilai sejarah yang dipercaya berkaitan dengan Kerajaan Blambangan.

Ditemukan Saat Membabat Hutan

Kisah Situs Umpak Songo bermula dari kedatangan Mbah Nadi Gede ke Banyuwangi.

Warga yang disebut berasal dari Bantul itu bermigrasi ke Banyuwangi dan kemudian menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Tembokrejo.

Saat membabat hutan, Mbah Nadi Gede menemukan reruntuhan bangunan yang telah tertimbun tanah.

Temuan tersebut kemudian menjadi perhatian masyarakat sekitar. Kabar mengenai keberadaan reruntuhan itu disebut menyebar hingga Kerajaan Solo.

Menurut Santoso, perwakilan kerajaan kemudian datang menemui Mbah Nadi Gede dan menyatakan bangunan yang ditemukan merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan.

“Mbah Nadi Gede diberi mandat untuk merawat Situs Umpak Songo peninggalan Kerajaan Blambangan tersebut. Kalau melihat sejarahnya, Kerajaan Blambangan ada sekitar tahun 700 hingga 1400 Masehi,” ujarnya.

Sejak saat itu, tanggung jawab merawat situs diteruskan kepada keturunan Mbah Nadi Gede.

Dipercaya Bekas Aula Kerajaan

Bagi warga yang mempercayai riwayat tersebut, Umpak Songo bukan sekadar susunan batu tua.

Bangunan fondasi dan batu yang ditemukan di lokasi diyakini merupakan bagian dari aula pertemuan Kerajaan Blambangan.

Tempat tersebut disebut digunakan untuk menjamu tamu-tamu agung kerajaan.

“Bangunan fondasi serta batu yang ditemukan merupakan bekas aula pertemuan yang dulu digunakan untuk menjamu tamu agung Kerajaan Blambangan,” tutur Santoso.

Menariknya, bentuk situs relatif tidak banyak berubah sejak pertama kali ditemukan.

Perubahan yang dilakukan lebih banyak bersifat penataan. Sejumlah batu yang ditemukan di sekitar lokasi dipindahkan ke area situs agar tidak berserakan.

“Kondisi situs sejak awal ditemukan tidak banyak yang diubah. Hanya beberapa batu yang ditemukan di sekitarnya dibawa ke area situs supaya lebih rapi dan tidak berserakan,” pungkasnya.

Kini, tantangannya bukan lagi menemukan jejak masa lalu, melainkan menjaga agar jejak tersebut tidak hilang dimakan waktu.

Bagi Desa Tembokrejo, Situs Umpak Songo menyimpan cerita panjang tentang masa lalu Banyuwangi. Namun tanpa perawatan yang memadai, batu-batu tua yang menjadi penanda sejarah itu perlahan bisa kehilangan bentuknya. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Desa Tembokrejo Situs Umpak Songo situs sejarah sejarah Banyuwangi Kerajaan blambangan