RADAR BANYUWANGI – Kepanikan seolah pecah di kawasan Pantai Marina Boom Banyuwangi. Gelombang tsunami digambarkan menerjang pesisir. Sejumlah warga terseret derasnya arus, sementara seorang korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan karena tersangkut di atas pohon.
Tim penyelamat pun bergerak cepat. Penyisiran dilakukan untuk menemukan korban yang terbawa arus. Setelah ditemukan, petugas harus menggunakan teknik khusus untuk mengevakuasi korban dari tempat tinggi sebelum membawanya ke titik aman.
Namun, adegan mencekam tersebut bukan bencana sungguhan. Tsunami yang “menghantam” Marina Boom merupakan skenario simulasi dalam Latihan Kesiapsiagaan Operasional Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) II di Banyuwangi.
Latihan penanggulangan bencana alam tersebut digelar di dua wilayah, yakni Banyuwangi dan Bali. Skenario yang dimainkan secara khusus menguji kesiapan menghadapi potensi gempa megathrust yang dapat memicu tsunami di kawasan Jawa-Bali.
Korban Tersangkut di Pohon Jadi Skenario Evakuasi
Dalam skenario latihan, kondisi darurat terjadi setelah gempa bumi yang kemudian disusul tsunami. Gelombang air menerjang kawasan pesisir dan menyeret sejumlah warga.
Tim pencarian dan pertolongan langsung diterjunkan. Petugas melakukan penyisiran untuk menemukan korban yang membutuhkan pertolongan.
Salah satu korban ditemukan dalam kondisi tersangkut di atas pohon. Korban disimulasikan terbawa arus tsunami hingga terjebak di tempat tinggi.
Kondisi tersebut membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tim penyelamat harus memperhitungkan medan, posisi korban, serta keselamatan personel sebelum melakukan evakuasi.
Petugas kemudian mendekati korban dan menurunkannya secara hati-hati. Setelah berhasil dievakuasi dari atas pohon, korban langsung dibawa menuju titik aman untuk mendapatkan penanganan medis.
Tim kesehatan kemudian memberikan pertolongan pertama guna memastikan kondisi korban sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.
Skenario tersebut menggambarkan satu dari sekian kemungkinan situasi yang dapat terjadi ketika tsunami menerjang wilayah pesisir. Korban bencana tidak selalu berada di lokasi yang mudah dijangkau. Mereka bisa saja terseret arus, tertimpa material, terjebak di bangunan, atau bahkan terdampar di tempat tinggi.
Libatkan 419 Personel Gabungan
Simulasi di Marina Boom juga menjadi ajang menguji kemampuan koordinasi berbagai unsur dalam menghadapi bencana.
Sebanyak 419 personel gabungan terlibat dalam latihan tersebut. Mereka berasal dari Kodim 0825/Banyuwangi, Lanal Banyuwangi, Polresta Banyuwangi, Basarnas, BPBD, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi, Dinas Sosial melalui Tagana, Dinas Kesehatan, BMKG, hingga PMI.
Kasdim 0825/Banyuwangi Mayor (Kav) Suprapto mengatakan, keterlibatan lintas instansi menjadi bagian penting dalam simulasi penanggulangan gempa bumi dan tsunami.
Menurut dia, setiap unsur tidak hanya dituntut menguasai tugas masing-masing. Komunikasi dan koordinasi juga harus terbangun agar penanganan korban dapat berlangsung cepat dan tepat.
“Latihan ini melibatkan seluruh unsur terkait agar terbiasa berkoordinasi dan melakukan penanganan bencana secara terpadu,” katanya.
Dalam skenario tersebut, Pantai Marina Boom ditetapkan sebagai lokasi kejadian bencana. Area parkir Marina Boom digunakan sebagai Tempat Kumpul Sementara (TKS), sedangkan Lapangan Blambangan menjadi Titik Kumpul Akhir (TKA).
Pembagian lokasi tersebut menjadi bagian dari simulasi alur evakuasi apabila bencana benar-benar terjadi. Masyarakat yang berada di kawasan terdampak harus dapat bergerak menuju lokasi aman sesuai jalur dan titik evakuasi yang telah ditentukan.
Bukan Sekadar Simulasi
Bagi aparat dan pemangku kepentingan, latihan tersebut bukan sekadar memainkan skenario bencana. Kegiatan itu menjadi sarana untuk menguji kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk di wilayah Banyuwangi.
Potensi gempa megathrust dan tsunami menjadi salah satu ancaman yang perlu diantisipasi kawasan pesisir selatan maupun wilayah lain yang berpotensi terdampak.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan satu instansi. Ketika bencana terjadi, proses evakuasi, pencarian korban, pelayanan kesehatan, pengamanan, hingga pengaturan lalu lintas membutuhkan keterlibatan banyak pihak secara bersamaan.
Suprapto menegaskan latihan tersebut diharapkan membuat seluruh pemangku kepentingan memahami pola koordinasi dan mekanisme penanganan bencana sebelum kondisi darurat benar-benar terjadi.
“Dengan latihan seperti ini, seluruh stakeholder diharapkan sudah terbiasa dengan pola koordinasi dan penanganan, sehingga ketika terjadi bencana seluruh personel sudah siap bergerak,” tegasnya.
Simulasi di Marina Boom pun menjadi pengingat bahwa menghadapi tsunami bukan hanya soal seberapa cepat petugas menyelamatkan korban. Yang tak kalah penting adalah memastikan setiap unsur memahami perannya, jalur evakuasi berjalan, dan masyarakat mengetahui ke mana harus bergerak ketika sirene bencana benar-benar berbunyi. (ram/aif)
Editor : Ali Sodiqin