Buru Hadiah Rp150 Juta, 576 Tim Adu Layangan di Situbondo, Ada Peserta dari Manado, Kalimantan, dan Bali

Ahmad Rifa'ie • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Pencinta layang-layang dari dalam maupun luar Situbondo mengikuti lomba adu layang-layang di Kampung Kerbau, Desa Tanjungkamal, Kecamatan Mangaran, Sabtu (8/8). (Ahmad Rifa
Pencinta layang-layang dari dalam maupun luar Situbondo mengikuti lomba adu layang-layang di Kampung Kerbau, Desa Tanjungkamal, Kecamatan Mangaran, Sabtu (8/8). (Ahmad Rifa'ie/Radar Situbondo)

RADAR BANYUWANGI – Angin di Kampung Kerbau, Desa Tanjungkamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo, menjadi magnet bagi ratusan pencinta layang-layang. Bukan hanya dari berbagai daerah di Jawa Timur, peserta bahkan datang dari Manado, Samarinda, Palu, Palembang, Bali, Lombok, Madura, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan.

Sebanyak 576 tim ambil bagian dalam lomba adu layangan yang digelar di Situbondo. Mereka tidak sekadar memburu hadiah uang hingga Rp150 juta, tetapi juga membawa semangat silaturahmi dan kecintaan terhadap olahraga tradisional yang membutuhkan ketangkasan tersebut.

Bagi para peserta, perjalanan ratusan hingga ribuan kilometer bukan penghalang. Audri, salah satu pencinta layangan asal Manado, sengaja datang ke Situbondo untuk mengikuti perlombaan sekaligus bertemu dengan sesama penghobi dari berbagai daerah.

“Jadi, kami sempatkan datang jauh-jauh dari Manado. Yang utama adalah silaturahmi agar hubungan sesama pencinta layangan semakin erat dan saling mengenal. Kami hobi adu layangan, bukan adu jotos maupun adu domba,” ujar Audri.

Sebelum turun ke arena, persiapan peserta tidak main-main. Kondisi fisik dan mental dipastikan siap. Layangan terbaik disiapkan, begitu pula senar gelasan yang menjadi salah satu perlengkapan penting dalam pertandingan.

Hadiah besar menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Peserta yang datang dari jauh memiliki kesempatan membawa pulang uang hingga Rp150 juta jika berhasil menjadi pemenang.

“Apalagi hadiahnya cukup besar. Meski datang jauh-jauh, lumayan bisa menyalurkan hobi dan mendapatkan uang jika beruntung,” imbuhnya.

Bukan Sekadar Adu Layangan

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai lomba adu layangan bukan sekadar hiburan masyarakat. Di balik permainan tersebut terdapat keterampilan dan teknik yang harus dikuasai peserta.

Pengendalian layangan di udara membutuhkan konsentrasi tinggi. Peserta juga harus mampu membaca pergerakan layangan lawan sekaligus menggunakan teknik tertentu untuk memutus benangnya.

“Dengan adanya lomba adu layangan ini, Situbondo bisa semakin dikenal. Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kapasitas produksi layangan serta mengembangkan olahraga tradisional dan budaya lokal,” kata Rio.

Bagi Pemkab Situbondo, ramainya peserta dari luar daerah menjadi sinyal bahwa olahraga tradisional tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.

Apalagi, layangan produksi Situbondo disebut telah memiliki pasar yang luas. Produk buatan perajin lokal tidak hanya diminati di berbagai wilayah Indonesia, tetapi juga telah menembus pasar mancanegara.

Rio menyebut layangan produksi Situbondo telah diekspor ke sejumlah negara, di antaranya Paraguay, Chile, dan Pakistan.

“Produk Situbondo sudah dikenal di Nusantara dan telah diekspor ke luar negeri, seperti Paraguay, Chile, dan Pakistan. Secara ekonomi, potensinya sangat luar biasa,” tambahnya.

Ratusan peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah pun memperlihatkan satu hal: layang-layang bukan sekadar permainan yang mengandalkan hembusan angin. Di tangan para penghobi, tradisi itu berubah menjadi ajang kompetisi, ruang silaturahmi, sekaligus peluang ekonomi bagi Situbondo. (rif/aif)

Editor : Ali Sodiqin
lomba layang-layang adu layangan hadiah Rp150 juta layangan Situbondo situbondo