RADAR BANYUWANGI – Skenario terburuk bencana gempa bumi dan tsunami mulai disiapkan di Banyuwangi. Sebanyak 419 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, pemerintah, hingga relawan dikerahkan untuk mematangkan latihan penanggulangan bencana alam (Gulbencal) yang digelar di kawasan Pantai Marina Boom dan Lapangan Blambangan.
Sehari sebelum gladi lapang, ratusan personel tersebut berkumpul di Taman Blambangan, Kamis (7/8). Mereka mengikuti apel gelar pasukan sekaligus latihan pendahuluan untuk memastikan setiap unsur memahami tugas dan pola koordinasi ketika skenario bencana dijalankan.
Kasdim 0825/Banyuwangi Mayor (Kav) Suprapto mengatakan, apel gelar pasukan menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan seluruh personel yang terlibat dalam operasi Gulbencal. Terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi yang disusul tsunami di wilayah Banyuwangi.
“Setelah apel gelar pasukan, dilanjutkan latihan pendahuluan sebagai persiapan gladi lapang yang akan dilaksanakan di Pantai Marina Boom dan Lapangan Blambangan,” ujarnya.
Sebanyak 419 personel yang terlibat berasal dari berbagai unsur. Di antaranya Kodim 0825/Banyuwangi, Lanal Banyuwangi, Polresta Banyuwangi, Basarnas, BPBD, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi, Dinas Sosial melalui Tagana, Dinas Kesehatan, BMKG, hingga PMI.
Keterlibatan lintas instansi tersebut bukan tanpa alasan. Dalam kondisi bencana berskala besar, penanganan tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Kecepatan evakuasi, pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan, pengaturan lalu lintas, hingga pemenuhan kebutuhan pengungsi membutuhkan koordinasi dalam satu komando.
Marina Boom Disimulasikan Jadi Lokasi Bencana
Dalam gladi lapang, sejumlah titik telah ditentukan untuk menggambarkan situasi ketika bencana benar-benar terjadi.
Pantai Marina Boom dijadikan sebagai lokasi kejadian bencana. Area parkir Marina Boom difungsikan sebagai Tempat Kumpul Sementara (TKS). Sementara itu, Lapangan Blambangan disiapkan sebagai Titik Kumpul Akhir (TKA).
Pengaturan tersebut menjadi bagian dari skenario latihan evakuasi. Personel dari berbagai unsur akan menjalankan peran masing-masing sesuai tugas dan fungsi dalam penanganan bencana.
“Latihan ini melibatkan seluruh unsur terkait agar terbiasa berkoordinasi dan melakukan penanganan bencana secara terpadu,” kata Suprapto.
Menurut dia, latihan Gulbencal tidak sekadar untuk menguji kemampuan personel. Lebih dari itu, simulasi menjadi sarana membangun kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan menghadapi kemungkinan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dengan latihan berulang, setiap personel diharapkan tidak lagi canggung ketika harus bergerak dalam situasi darurat. Pola komunikasi, koordinasi antarinstansi, hingga proses penanganan korban perlu dipahami sebelum bencana benar-benar terjadi.
“Dengan latihan seperti ini, seluruh stakeholder diharapkan sudah terbiasa dengan pola koordinasi dan penanganan, sehingga ketika terjadi bencana seluruh personel sudah siap bergerak,” tegasnya.
Antisipasi Ancaman Megathrust Jawa-Bali
Latihan Gulbencal tersebut merupakan bagian dari kegiatan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II yang digelar di dua wilayah, yakni Bali dan Banyuwangi.
Salah satu latar belakang latihan adalah mengantisipasi potensi gempa megathrust dan tsunami di kawasan Jawa-Bali. Skenario tersebut menjadi perhatian karena Banyuwangi memiliki wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan perairan selatan Jawa.
Melalui latihan gabungan tersebut, seluruh unsur diharapkan semakin solid dalam menghadapi situasi darurat. Tidak hanya kesiapan personel yang diuji, tetapi juga kemampuan setiap instansi untuk bergerak secara terpadu ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
“Melalui latihan gabungan ini, seluruh unsur diharapkan semakin solid dalam menghadapi skenario bencana, sekaligus memperkuat sinergi lintas instansi dalam memberikan respons cepat kepada masyarakat jika kondisi darurat benar-benar terjadi,” tandas Suprapto. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin