Belajar dari Deretan Kecelakaan Kapal, Gapasdap Dukung Sterilisasi Pelabuhan Ketapang demi Keselamatan Penyeberangan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 09:30 WIB
ASDP Ketapang memperketat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di Selat Bali. (Antara)
ASDP Ketapang memperketat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di Selat Bali. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) memberikan apresiasi kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) atas implementasi penuh sterilisasi Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola pelabuhan sekaligus meningkatkan standar keselamatan transportasi penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo menyebut sterilisasi pelabuhan merupakan upaya strategis untuk menciptakan kawasan operasional yang lebih tertib dan mendukung sistem keselamatan transportasi penyeberangan nasional.

"Ini merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan ketertiban kawasan operasional serta memperkokoh sistem keselamatan transportasi penyeberangan nasional," ujar Khoiri, Rabu (5/8/2026), dikutip Antara.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi sterilisasi pelabuhan tidak boleh dipandang sebatas pemenuhan regulasi maupun penataan fisik kawasan. Menurutnya, tujuan utama kebijakan tersebut adalah membangun budaya keselamatan yang melekat pada seluruh aktivitas operasional pelabuhan.

Khoiri menegaskan keberhasilan sterilisasi tidak diukur dari banyaknya pagar, portal, ataupun pembagian zona yang dibangun. Sebaliknya, indikator keberhasilan terletak pada meningkatnya kesadaran dan disiplin seluruh insan transportasi dalam menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

Ia menjelaskan, Pelabuhan Ketapang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan penuh atau go live sterilisasi bukan hanya karena menjadi salah satu pelabuhan penyeberangan tersibuk di Indonesia. Pelabuhan tersebut juga memiliki nilai historis yang kuat dalam perjalanan keselamatan transportasi penyeberangan nasional.

Selama puluhan tahun, lintasan Ketapang-Gilimanuk menjadi jalur vital yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali hingga Nusa Tenggara. Namun, di balik peran strategisnya, lintasan tersebut juga menyimpan catatan berbagai kecelakaan pelayaran yang menjadi pembelajaran penting bagi dunia transportasi.

Berdasarkan catatan operasional yang dihimpun Gapasdap, sejumlah insiden pernah terjadi di lintasan tersebut. Di antaranya kecelakaan LCT Kaltim Mas II pada 1994, LCT Trisila Bhakti pada 1995, KMP Citra Mandala Bhakti pada 2000, KMP Rafelia II pada 2016, KMP Yunicee pada 2021, hingga KMP Tunu Pratama Jaya pada 2025.

Menurut Khoiri, rangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan keselamatan harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap musibah membawa pelajaran berharga yang tidak boleh dilupakan agar kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang.

Ia menambahkan, implementasi sterilisasi Pelabuhan Ketapang merupakan kelanjutan dari reformasi keselamatan transportasi penyeberangan yang telah dibangun selama hampir satu dekade terakhir. Karena itu, kebijakan tersebut harus diwujudkan dalam budaya kerja sehari-hari, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.

"Setiap regulasi keselamatan lahir dari pelajaran yang sangat mahal. Implementasi sterilisasi pelabuhan tidak boleh berhenti sebagai seremoni, namun harus menjadi budaya yang hidup dalam setiap aktivitas operasional pelabuhan dan pelayaran," tegasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Sterilisasi Pelabuhan Ketapang