RADAR BANYUWANGI – Keresahan warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, akhirnya mereda. Pria berinisial M, 40, yang sempat mengamuk dan membakar tumpukan sampah serta sapu milik pedagang di kawasan pasar, kini menjalani rehabilitasi di salah satu tempat rehabilitasi di Bondowoso.
Rehabilitasi tersebut dilakukan sejak Senin (3/8), menyusul usulan warga sekitar yang khawatir kejadian serupa kembali terjadi. Selain untuk membantu memulihkan kondisi kejiwaan M, langkah tersebut diambil sebagai upaya mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Staf Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Muncar Slamet Hariyadi mengatakan, keputusan mengirim M ke tempat rehabilitasi merupakan tindak lanjut dari permintaan warga setempat.
“Usai mengamuk pada Rabu lalu, warga sekitar usul untuk dikirim ke tempat rehabilitasi,” ujarnya.
Proses penanganan dilakukan pemerintah setempat bersama Satpol PP BKO Kecamatan Muncar dan kepolisian. Petugas melakukan pendampingan sebelum membawa M ke tempat rehabilitasi di Bondowoso.
Berbeda dengan kondisi saat mengamuk, proses evakuasi kali ini berlangsung relatif lancar. M disebut sudah lebih tenang sehingga petugas tidak menghadapi perlawanan saat melakukan pendampingan.
“Sebenarnya kondisi lebih baik dibandingkan saat waktu dia mengamuk. Namun lantaran permintaan warga sekitar, M dikirim ke tempat rehabilitasi,” kata Slamet.
Keputusan rehabilitasi ini menjadi langkah lanjutan setelah insiden yang sempat mengusik ketenteraman warga Tembokrejo. Sebelumnya, suasana kawasan pasar mendadak geger pada Rabu (29/7).
M yang berada di kawasan pasar tiba-tiba mengamuk. Dalam kondisi tersebut, dia sempat membakar tumpukan sampah dan sapu milik pedagang. Aksi itu memicu keresahan warga dan pedagang yang berada di sekitar lokasi.
Petugas gabungan dari Trantibum Kecamatan Muncar, Satpol PP, dan tim medis kemudian bergerak melakukan penanganan. Pendekatan dilakukan secara humanis melalui pendampingan dan pemberian pengobatan hingga situasi kembali kondusif.
Kini, M menjalani proses rehabilitasi di Bondowoso. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi kejiwaannya sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar.
Penanganan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tenaga medis, dan masyarakat dalam menangani persoalan ODGJ. Pendekatan yang mengedepankan pendampingan dan rehabilitasi menjadi bagian penting agar penanganan tidak berhenti pada pengamanan sesaat, tetapi berlanjut pada upaya pemulihan kondisi yang bersangkutan. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin