RADAR BANYUWANGI – Normalisasi drainase di jalan nasional Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, belum bisa dituntaskan. Penyebab utama saluran air tersumbat memang telah ditemukan, tetapi material longsoran fondasi bangunan yang menutup gorong-gorong belum dapat diangkat karena berisiko membahayakan pekerja.
Proses normalisasi yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Timur masih berlangsung hingga kemarin (4/8). Petugas kini menghadapi persoalan baru: fondasi bangunan yang berada tepat di atas titik sumbatan dilaporkan retak parah dan dalam kondisi tidak stabil.
Kepala Desa Kalibaruwetan M Taufik mengatakan, material longsoran dari fondasi bangunan di sisi barat jalan menjadi penyebab utama gorong-gorong tersumbat. Material tersebut menutup jalur aliran air sehingga saat hujan deras, air tak bisa mengalir normal dan meluap ke permukiman warga.
“Material longsor itu menutup gorong-gorong. Akhirnya air tersumbat dan meluap,” kata Taufik.
Namun, upaya membersihkan material yang menumpuk di dalam gorong-gorong tidak bisa dilakukan secara langsung. Pekerja di lapangan masih mempertimbangkan aspek keselamatan karena harus bekerja di bawah fondasi bangunan yang kondisinya tidak stabil.
Sebelumnya, air yang menggenang di cerukan saluran telah disedot. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi di dalam saluran lebih memungkinkan bagi pekerja untuk melakukan pembersihan.
“Pembersihan manual di titik utama sumbatan belum bisa dilanjutkan karena kondisi fondasi di atasnya retak. Pekerja takut terjadi longsor susulan saat berada di bawah gorong-gorong,” ungkap Taufik.
Kondisi tersebut membuat proses normalisasi harus dilakukan secara hati-hati. Jika material longsoran langsung diangkat tanpa memperhitungkan kondisi fondasi, pekerjaan justru berpotensi memicu longsor susulan dan membahayakan pekerja yang berada di bawah titik sumbatan.
Tim Dinas PU Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah desa kini masih berkoordinasi untuk menentukan metode penanganan yang paling aman. Berbagai opsi teknis tengah dipertimbangkan agar material yang menyumbat gorong-gorong dapat diangkat tanpa menimbulkan risiko tambahan.
“Hari ini (kemarin) masih diupayakan mencari cara terbaik agar material yang menutupi gorong-gorong bisa diangkat tanpa membahayakan keselamatan pekerja,” terangnya.
Sebelumnya, upaya penanganan cepat telah dilakukan dengan mengerahkan satu unit ekskavator untuk mengeruk material endapan lumpur. Pengerukan tersebut mulai digenjot sejak Rabu (29/7) malam.
Langkah itu dilakukan setelah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Senin (27/7) menyebabkan saluran air tak mampu menampung aliran. Air kemudian meluap dan menggenangi permukiman warga yang berada di sebelah timur Kantor Desa Kalibaruwetan.
Kini, persoalan drainase tersebut memasuki tahap penanganan yang lebih kompleks. Penyebab sumbatan telah diketahui, tetapi kondisi fondasi bangunan yang retak membuat proses pembersihan material harus menunggu metode teknis yang benar-benar aman. Di sisi lain, normalisasi drainase menjadi penting untuk mencegah genangan kembali terjadi ketika hujan deras kembali mengguyur kawasan jalan nasional tersebut. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin