Petani Banyuwangi Mulai Waspada, Air Irigasi Dam Singir Muncar Tak Lagi Mengalir Lancar

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 23:01 WIB
CUACA PANAS: Kondisi volume air di Dam Singir, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, berkurang cukup signifikan sejak beberapa hari terakhir. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
CUACA PANAS: Kondisi volume air di Dam Singir, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, berkurang cukup signifikan sejak beberapa hari terakhir. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Musim kemarau mulai menekan petani di wilayah selatan Banyuwangi. Debit air yang mengalir menuju Dam Singir, Muncar, atau yang juga dikenal sebagai Dam Blambangan, anjlok drastis. Pasokan air irigasi ke lahan persawahan pun mulai digilir dari satu wilayah ke wilayah lainnya untuk mencegah kekeringan.

Kondisi tersebut terjadi setelah aliran sungai yang menjadi sumber pasokan Dam Singir menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Minimnya hujan, terutama di kawasan selatan Bumi Blambangan, membuat volume air yang tertampung di bendungan tersebut ikut menurun.

Petugas Pintu Air (PPA) atau Juru Dam Singir Puas Rohani mengatakan, penurunan debit air cukup signifikan. Aliran yang sebelumnya mencapai 19.916 liter per detik kini hanya tersisa sekitar 2.490 liter per detik.

“Dulu debit air mencapai 19.916 liter per detik. Sedangkan saat ini debit air hanya 2.490 liter per detik,” kata Rohani kemarin (4/8).

Menurut dia, berkurangnya debit air otomatis membuat pasokan irigasi yang diterima petani ikut berkurang. Karena itu, distribusi air ke persawahan mulai dilakukan secara bergiliran agar kebutuhan air di sejumlah wilayah tetap bisa dipenuhi.

“Aliran air mulai kecil, sehingga yang mengarah ke persawahan mulai digilir,” ujarnya.

Dam Singir selama ini menjadi salah satu sumber pasokan air untuk lahan pertanian di sejumlah wilayah. Air yang masuk ke dam tersebut berasal dari tujuh sungai yang berada di wilayah Kecamatan Cluring dan Srono.

Ketika hujan semakin jarang turun, aliran dari sungai-sungai tersebut ikut menyusut. Dampaknya mulai dirasakan di Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, serta wilayah Kecamatan Muncar yang mengandalkan pasokan air persawahan dari Dam Singir.

Rohani menyebut sistem penggiliran air menjadi langkah antisipasi agar berkurangnya debit tidak langsung berujung pada kekeringan lahan pertanian. Petugas terus memantau kondisi debit air sekaligus mengatur distribusi ke masing-masing wilayah.

“Untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan, petugas terus memantau dan menggilir aliran air ke masing-masing wilayah,” pungkasnya.

Penurunan debit Dam Singir menjadi sinyal bahwa dampak musim kemarau mulai terasa di sektor pertanian Banyuwangi. Dengan debit yang kini jauh di bawah kondisi sebelumnya, pengelolaan distribusi air menjadi kunci untuk menjaga sawah tetap mendapatkan pasokan selama musim kering berlangsung. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Irigasi sawah petani banyuwangi Dam singir debit air musim kemarau