Turba ke Pelosok hingga Kota, PCNU Banyuwangi Temukan Harta Karun Nahdliyin

Syaifuddin Mahmud • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 12:53 WIB
NGERANDU NU ke-17 menyusuri sejumlah MWCNU di Banyuwangi. PCNU memetakan persoalan sekaligus menggali potensi besar warga Nahdliyin dari akar rumput. (Syaifuddin Mahmud/Radar Banyuwangi)
NGERANDU NU ke-17 menyusuri sejumlah MWCNU di Banyuwangi. PCNU memetakan persoalan sekaligus menggali potensi besar warga Nahdliyin dari akar rumput. (Syaifuddin Mahmud/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Dari kawasan hutan hingga pusat kota, denyut Nahdliyin Banyuwangi menunjukkan wajah yang beragam. Di balik kekompakan jamaah dan struktur organisasi, tersimpan potensi ekonomi, pendidikan, pesantren, hingga pemberdayaan masyarakat yang selama ini belum seluruhnya terpetakan.

Potret itu mengemuka dalam Gerakan Turba Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi) melalui NGERANDU NU yang memasuki kunjungan ke-17. Kegiatan yang berlangsung Sabtu–Minggu (1–2/8/2026) tersebut menyambangi sejumlah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), di antaranya Glenmore, Genteng, Kabat, dan Banyuwangi Kota.

NGERANDU NU tidak sekadar menjadi agenda konsolidasi organisasi. Gerakan tersebut menjadi ruang bagi PCNU Banyuwangi untuk turun langsung mendengar aspirasi, memetakan persoalan, sekaligus menggali potensi warga Nahdliyin dari tingkat ranting hingga kawasan perkotaan.

Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan pengurus struktural, lembaga, badan otonom (Banom), hingga warga NU secara kultural. Mereka hadir dari berbagai latar wilayah, mulai Terbasalak, Kendang Lembu, kawasan hutan, pelosok desa, hingga kawasan perkotaan Banyuwangi.

Bentang wilayah tersebut memperlihatkan satu hal: basis sosial NU di Banyuwangi memiliki kekuatan yang luas dan berlapis.

Namun, luasnya basis sosial itu juga membawa tantangan tersendiri. Setiap wilayah memiliki karakter, kebutuhan, persoalan, dan potensi yang tidak selalu sama.

Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi Fadz Reza Abdullah mengatakan, perbedaan karakter tersebut justru menjadi kekayaan yang harus dipelihara dan dikembangkan.

"Setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Ada yang kuat di bidang pendidikan, pesantren, ekonomi, pemberdayaan masyarakat maupun kekuatan jamaah. Ini menjadi kekayaan NU Banyuwangi yang harus kita rawat dan kembangkan," ujarnya.

Menurut Fadz, semakin intensif pengurus turun ke lapangan, semakin banyak pula potensi yang ditemukan. Sebagian di antaranya bahkan belum sepenuhnya terlihat di tingkat cabang.

Karena itu, hasil NGERANDU NU dinilai penting untuk menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam menyusun program PCNU Banyuwangi ke depan.

"Setiap MWCNU punya cerita, punya kekuatan, dan punya persoalan masing-masing. Tugas kita adalah menyatukan potensi itu menjadi kekuatan bersama," katanya.

Ranting Jadi Titik Penting Penguatan NU

Pemetaan tidak berhenti pada tingkat MWCNU. Bendahara Umum PCNU Banyuwangi H. Moh. Junaidi atau yang akrab disapa Bang Jo juga melakukan verifikasi langsung ke sejumlah ranting.

Dari kunjungan tersebut, ditemukan sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diperkuat. Mulai tata kelola organisasi, administrasi, pendataan, hingga pengelolaan potensi yang dimiliki masing-masing ranting.

Namun, di balik sejumlah kelemahan tersebut, Bang Jo justru menemukan modal besar yang dapat dikembangkan.

"Di bawah ini sebenarnya banyak sekali potensi. Persoalannya bukan tidak ada, tetapi bagaimana potensi tersebut dikelola, ditata dan dikembangkan dengan manajemen yang baik," ungkapnya saat melakukan wawancara langsung dengan pengurus ranting.

Menurut Bang Jo, ranting merupakan ujung tombak kekuatan organisasi NU. Di tingkat inilah jamaah bersentuhan langsung dengan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.

Mulai tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, kegiatan keagamaan, jaringan usaha, hingga potensi ekonomi lokal tumbuh dan berkembang di tingkat basis.

Jika seluruh potensi tersebut dapat dipetakan secara sistematis dan dikelola secara profesional, dampaknya diyakini tidak hanya memperkuat organisasi. Lebih jauh, potensi tersebut dapat menjadi penggerak pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan warga.

Menyatukan Struktur dan Kultur

Rangkaian NGERANDU NU ke-17 memberikan gambaran bahwa kekuatan NU Banyuwangi tidak semata-mata berada pada struktur organisasi formal.

Kekuatan itu juga tumbuh dari modal sosial warga Nahdliyin yang tersebar di berbagai wilayah. Dari pelosok hingga perkotaan, dari kawasan pertanian hingga wilayah hutan, masing-masing memiliki potensi yang dapat menjadi bagian dari kekuatan bersama.

Tantangannya kini adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti sebagai catatan hasil kunjungan.

Diperlukan tindak lanjut melalui tata kelola organisasi yang lebih tertib, pendataan yang kuat, penguatan kapasitas ranting, serta program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Dengan demikian, NGERANDU NU bukan sekadar perjalanan PCNU Banyuwangi dari satu MWCNU ke MWCNU lainnya.

Gerakan tersebut menjadi ikhtiar untuk menyatukan struktur dan kultur, memperkuat organisasi dari akar rumput, sekaligus membuka jalan bagi potensi warga Nahdliyin agar dapat dikelola menjadi kekuatan nyata.

Sebab, ketika potensi yang tersebar di tingkat bawah mampu dipetakan dan disatukan, NU tidak hanya semakin kokoh sebagai organisasi. Lebih dari itu, kekuatan warga Nahdliyin dapat menjadi modal sosial untuk mendorong kemandirian masyarakat, memperkuat pembangunan Banyuwangi, dan memberi kontribusi lebih luas bagi pembangunan bangsa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
NU Banyuwangi NGERANDU NU MWCNU Banyuwangi Potensi Nahdliyin pcnu banyuwangi