RADAR BANYUWANGI - Selama lebih dari setengah abad, Jembatan Mbok Kayah menjadi urat nadi penghubung warga Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, dengan Dusun Rumping, Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Kini, jembatan bambu yang melegenda itu resmi memasuki masa "pensiun" setelah fungsinya digantikan oleh Jembatan Merah Putih yang dibangun tepat di sisi dekatnya.
Meski sudah tidak lagi menjadi akses utama, Jembatan Mbok Kayah tetap berdiri. Penghubung yang diperkirakan dibangun sejak era 1970-an itu sengaja tidak dibongkar karena merupakan aset milik perseorangan yang diwariskan secara turun-temurun.
"Jembatan Mbok Kayah itu milik pribadi dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga meski sudah ada penggantinya tidak dirobohkan," kata warga Desa Wringinpitu, Nur Khozin, kemarin (2/8).
Nama Mbok Kayah sendiri diambil dari salah satu tokoh yang tinggal di sekitar lokasi. Seiring waktu, nama tersebut melekat dan menjadi identitas jembatan bambu yang selama puluhan tahun menjadi jalur alternatif bagi masyarakat Tegaldlimo dan Cluring.
Selama beroperasi, setiap pengguna yang melintas memberikan uang seikhlasnya kepada penjaga di pintu masuk jembatan. Dana itu kemudian dimanfaatkan untuk biaya perawatan agar jembatan tetap layak digunakan.
"Jembatan Mbok Kayah salah satu akses alternatif bagi warga Kecamatan Cluring dan Tegaldlimo. Di pintu masuk dijaga Mbah Warti yang mengatur pengguna agar menyeberang secara bergantian," ujar Khozin.
Namun, usia yang semakin tua membuat kondisi jembatan bambu tersebut terus menurun. Bahkan, menurut Khozin, pernah terjadi insiden warga terjatuh saat melintas sehingga memunculkan desakan agar dibangun jembatan permanen yang lebih aman.
"Dulu juga sempat memakan korban, ada yang melintas dan jatuh. Karena itu masyarakat menginginkan adanya pembangunan jembatan permanen," ungkap pria yang juga menjabat sebagai pengelola BUMDes Wringinpitu tersebut.
Harapan warga akhirnya terwujud pada awal Juni 2026. Pembangunan Jembatan Merah Putih dimulai dengan dukungan dan koordinasi Kodim 0825 Banyuwangi. Jembatan permanen tersebut kini telah selesai dibangun dan menjadi akses utama baru bagi masyarakat di dua kecamatan.
Sebagai bentuk rasa syukur, warga menggelar tasyakuran usai pembangunan rampung. Bahkan, rangkaian syukuran juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian jaranan yang menjadi hiburan masyarakat.
Khozin menegaskan, keberadaan Jembatan Mbok Kayah akan tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah masyarakat setempat.
"Milik per orang itu, jadi tidak dibongkar," pungkasnya.
Meski tidak lagi menjadi jalur utama, Jembatan Mbok Kayah tetap menyimpan cerita tentang gotong royong, kepedulian warga, dan sejarah panjang konektivitas dua wilayah di selatan Banyuwangi. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa sebuah jembatan bukan sekadar penghubung antardesa, tetapi juga saksi perjalanan kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin