RADAR BANYUWANGI – Niat mulia merawat lingkungan masjid justru menjadi awal cobaan berat bagi Ponidi, marbot masjid di Dusun Gumukagung, Desa Gintangan, Banyuwangi. Saat memangkas ranting pohon di tepi jurang sekitar 14 bulan lalu, ia terjatuh hingga mengalami cedera berat yang membuatnya harus menjalani hari-hari dengan keterbatasan. Kini, secercah harapan datang melalui kepedulian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menggalang bantuan untuk pemulihan kondisinya.
Musibah itu mengubah kehidupan Pak Ponidi secara drastis. Akibat kecelakaan tersebut, ia mengalami patah tulang pada kedua paha, patah lengan kiri bagian atas, serta patah tulang belakang. Cedera serius itu membuat aktivitasnya terhenti dan harus menjalani masa pemulihan yang panjang.
Namun, keterbatasan ekonomi membuat pengobatan yang seharusnya dijalani secara intensif belum bisa dilakukan secara maksimal. Selama lebih dari satu tahun, Pak Ponidi hanya mengandalkan perawatan sederhana di rumah. Sesekali, seorang mantri kesehatan setempat datang membantu memberikan penanganan medis sesuai kemampuan.
Kepedulian Warga NU Menjadi Jalan Harapan
Kabar mengenai kondisi Pak Ponidi akhirnya sampai ke telinga warga Nahdliyin. Informasi tersebut diteruskan dari Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) MWCNU Blimbingsari kepada Pengurus Cabang LAZISNU Banyuwangi.
Sebagai tindak lanjut, melalui program Sambang Dhuafa, jajaran Pengurus Cabang LAZISNU Banyuwangi mendatangi kediaman Pak Ponidi pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.
Ketua PC LAZISNU Banyuwangi, Selamet Rahmat, didampingi Bendahara Imron Rosyadi, menyerahkan amanah donasi dari para muzakki sekaligus memastikan langkah pendampingan bagi proses pengobatan Pak Ponidi.
"Kami berikhtiar mendampingi pengurusan BPJS dan penanganan medis lanjutan agar Pak Ponidi bisa mendapatkan perawatan yang lebih optimal," ujar Selamet Rahmat.
Berjuang Pulih Setelah 14 Bulan
Bantuan yang diterima bukan hanya berupa dukungan materi, tetapi juga harapan agar Pak Ponidi memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih baik.
Pendampingan pengurusan BPJS diharapkan dapat membuka jalan bagi penanganan medis lanjutan, sehingga peluang pemulihan kondisi fisiknya semakin besar setelah lebih dari 14 bulan menjalani perawatan seadanya.
Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Pak Ponidi bersama keluarga tidak mampu menyembunyikan rasa haru atas perhatian yang datang dari masyarakat.
Dedikasi Marbot yang Menginspirasi
Bagi warga sekitar, Pak Ponidi dikenal sebagai sosok yang selama ini mengabdikan diri sebagai marbot masjid. Tugas membersihkan, merawat, hingga memastikan lingkungan rumah ibadah tetap nyaman dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Musibah yang menimpanya saat merawat area sekitar masjid menjadi pengingat bahwa pengabdian sering kali dilakukan tanpa pamrih, bahkan dengan risiko yang tidak kecil.
Pemulihan Masih Membutuhkan Dukungan
Meski bantuan awal telah disalurkan, perjuangan Pak Ponidi untuk kembali sehat masih panjang. Penanganan medis lanjutan, rehabilitasi, hingga kebutuhan sehari-hari masih memerlukan dukungan berbagai pihak.
Melalui program Sambang Dhuafa, LAZISNU Banyuwangi berharap kepedulian masyarakat terus mengalir agar Pak Ponidi dapat memperoleh kesempatan menjalani pengobatan yang lebih optimal dan suatu saat kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Kisah Pak Ponidi menjadi potret bahwa kepedulian sosial dapat menjadi penyambung harapan bagi mereka yang sedang menghadapi ujian hidup. Di balik pengabdian seorang marbot yang selama ini menjaga rumah ibadah, kini hadir uluran tangan banyak orang yang berusaha mengembalikan semangat dan harapan untuk masa depannya. (*)
Editor : Ali Sodiqin