Cuaca Buruk Lumpuhkan Nelayan Banyuwangi, Gurita 1 Ton Kini Tinggal 40 Kilogram

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 00:00 WIB
Cuaca buruk membuat nelayan Banyuwangi berhenti melaut lebih dari 10 hari. Hasil tangkapan anjlok, sebagian kini mencari kerja serabutan. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
Cuaca buruk membuat nelayan Banyuwangi berhenti melaut lebih dari 10 hari. Hasil tangkapan anjlok, sebagian kini mencari kerja serabutan. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Cuaca buruk yang melanda perairan Banyuwangi dan Selat Bali lebih cepat dari biasanya memaksa puluhan nelayan menghentikan aktivitas melaut. Selama lebih dari 10 hari, deretan perahu hanya bersandar di bibir pantai, sementara para nelayan harus memutar otak mencari penghasilan lain karena hasil tangkapan anjlok drastis.

Gelombang tinggi dan angin timur yang menguat membuat nelayan memilih menepi demi keselamatan. Kondisi ini mulai dirasakan sejak pertengahan Juli, lebih awal dibanding pola musim sebelumnya yang umumnya baru terjadi pada Agustus hingga September.

Ketua Kelompok Nelayan Janur Kuning Bulusan, Husain, mengatakan sedikitnya 20 perahu di wilayahnya tidak lagi beroperasi karena kondisi laut yang dinilai terlalu berisiko.

"Ini lebih cepat. Biasanya Agustus sampai September baru tinggi ombaknya," ujarnya.

Selama tidak melaut, para nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal dan perlengkapan tangkap. Mereka berharap ketika cuaca kembali bersahabat, armada sudah siap beroperasi tanpa harus menunggu perbaikan tambahan.

Meski kondisi gelombang mulai menunjukkan penurunan, keputusan kembali melaut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Para nelayan terus memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Perikanan sebelum berangkat ke laut.

"Kita juga memantau informasi BMKG dan kabar dari Dinas Perikanan. Saat ini mulai landai sebenarnya, mungkin setelah ini ada beberapa yang mencoba melaut," kata Husain.

Dampak cuaca buruk juga dirasakan Nanang, 56, nelayan asal Kampung Mandar. Bersama tujuh anak buah kapalnya, ia sudah tujuh hari menghentikan aktivitas melaut. Waktu yang biasanya dihabiskan berhari-hari di tengah laut kini digunakan untuk membenahi kapal.

"Dua bulan ini angin timur. Dalam dua minggu ini anginnya makin kencang, jadi kami libur melaut," ujarnya.

Bukan hanya kehilangan waktu melaut, penghasilan mereka juga terjun bebas. Dalam kondisi normal, kapal yang dinakhodai Nanang mampu membawa pulang hingga satu ton gurita setelah sekitar 10 hari menangkap ikan di perairan Plengkung, kawasan selatan Banyuwangi.

Namun pada pelayaran terakhir, hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Selama 10 hari berada di laut, Nanang bersama tujuh ABK hanya berhasil menangkap sekitar 40 kilogram gurita.

"Artinya sehari cuma dapat empat kilo. Sangat tidak cukup untuk menutup operasional dan penghasilan," keluhnya.

Hasil tangkapan yang minim itu masih harus dibagi kepada tujuh anak buah kapal. Padahal biaya operasional, logistik, hingga risiko menghadapi gelombang tinggi tetap harus ditanggung selama berada di laut.

Agar dapur tetap mengepul, Nanang terpaksa meninggalkan rutinitasnya sebagai nelayan dan mencari pekerjaan serabutan di darat. Keahlian sebagai tukang bangunan menjadi tumpuan sementara, mulai dari mengecat rumah hingga mengerjakan pekerjaan fisik ringan.

"Kalau terus-terusan tidak ada pemasukan, ya mau tidak mau cari pinjaman," katanya.

Kondisi ini menjadi gambaran beratnya kehidupan nelayan saat cuaca ekstrem melanda. Selain mengancam keselamatan di laut, gelombang tinggi juga memukul penghasilan keluarga nelayan yang selama ini bergantung penuh pada hasil tangkapan.

Para nelayan berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa kembali melaut dengan aman. Mereka juga berharap informasi prakiraan cuaca terus diperbarui sehingga dapat menjadi pedoman sebelum memutuskan berlayar, demi menjaga keselamatan sekaligus mengembalikan roda perekonomian masyarakat pesisir Banyuwangi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Gelombang Tinggi hasil tangkapan nelayan banyuwangi cuaca buruk selat bali