Sumur Mengering, 100 Rumah di Banyuwangi Mulai Krisis Air Bersih

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 03:00 WIB
Petugas menyalurkan air bersih di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Jumat (31/7). (Ismanto for Radar Banyuwangi)
Petugas menyalurkan air bersih di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Jumat (31/7). (Ismanto for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Banyuwangi. Sedikitnya 100 rumah di dua dusun di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, mengalami kesulitan air bersih setelah sumur-sumur warga mulai mengering. Kondisi tersebut mendorong pemerintah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat.

Dua wilayah yang terdampak adalah Dusun Sendangrejo dan Dusun Kebonrejo, yang berada di kawasan lereng Gunung Srawet. Total terdapat sekitar 380 kepala keluarga (KK) di kedua dusun tersebut, dengan sekitar 100 rumah telah merasakan dampak langsung kekeringan.

Sumur Warga Mulai Mengering

Camat Bangorejo Khoirul Anam mengatakan, memasuki puncak musim kemarau, debit air sumur warga mulai menurun drastis hingga sebagian tidak lagi dapat dimanfaatkan.

"Sumur warga di dua dusun yang berada di lereng Gunung Srawet mulai mengering. Sekitar 100 rumah sudah terdampak," ujarnya.

Untuk mengatasi kebutuhan air bersih, pemerintah telah menyiapkan tandon darurat di lokasi terdampak.

Setiap dusun diperkirakan membutuhkan pasokan sekitar 2.000 liter air bersih per hari agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Bantuan 5.000 Liter Air Bersih

Sebagai langkah tanggap darurat, BPBD bersama Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi mulai mendistribusikan bantuan air bersih sejak Jumat (31/7/2026).

Agen Informasi Bencana BPBD Provinsi Jawa Timur, Ismanto, menjelaskan bahwa masing-masing dusun menerima sekitar 5.000 liter air bersih yang disalurkan sesuai kebutuhan warga.

"Bantuan air bersih sudah mulai dikirim sejak kemarin. Air tersebut berasal dari PUDAM dan BPBD Banyuwangi," katanya.

Distribusi akan terus dilakukan apabila kebutuhan masyarakat meningkat selama musim kemarau berlangsung.

Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang

Selain penanganan darurat, Pemerintah Kecamatan Bangorejo juga telah mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai solusi permanen mengatasi krisis air bersih di kawasan tersebut.

Menurut Khoirul Anam, usulan itu telah diajukan karena wilayah lereng Gunung Srawet memang kerap mengalami penurunan debit air saat kemarau.

Namun, pembangunan sumur bor diperkirakan tidak mudah karena sumber air berada pada kedalaman sekitar 120 meter.

"Sumur bor sudah diajukan dan diharapkan menjadi solusi ke depan. Diperkirakan kedalaman pengeboran mencapai 120 meter untuk mendapatkan sumber air," jelasnya.

Wilayah Lain Mulai Terdampak

Kekeringan tidak hanya melanda Kecamatan Bangorejo.

BPBD juga mencatat Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, mulai mengalami persoalan serupa akibat berkurangnya pasokan air bersih.

Sementara itu, sejumlah wilayah lain, termasuk Kecamatan Tegaldlimo, masih menjalani proses asesmen untuk mengetahui tingkat kerawanan kekeringan dan kebutuhan bantuan air bersih.

Antisipasi Dampak Kemarau

Pemerintah daerah memperkirakan jumlah wilayah terdampak dapat bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Karena itu, distribusi air bersih akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan sembari menunggu realisasi pembangunan sumur bor dan infrastruktur penyediaan air bersih lainnya.

Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak kekeringan yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
kekeringan Banyuwangi bpbd banyuwangi Desa Kebondalem bangorejo air bersih