Dari Kebun hingga Cangkir, Perjalanan Panjang Kopi Banyuwangi yang Menjaga Tradisi dan Meningkatkan Nilai Ekonomi

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:44 WIB
Perjalanan kopi Banyuwangi dimulai dari kebun rakyat di Gombengsari dan Kalibaru, melalui proses pascapanen yang ketat hingga menjadi produk bernilai ekonomi. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)
Perjalanan kopi Banyuwangi dimulai dari kebun rakyat di Gombengsari dan Kalibaru, melalui proses pascapanen yang ketat hingga menjadi produk bernilai ekonomi. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Secangkir kopi yang tersaji di meja menyimpan cerita panjang sebelum akhirnya dinikmati. Di Banyuwangi, perjalanan itu dimulai dari perkebunan rakyat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun, terutama di kawasan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, hingga Kalibaru yang dikenal sebagai sentra penghasil kopi.

Bagi masyarakat Gombengsari, kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Tanaman tersebut telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Hamparan kebun kopi tumbuh berdampingan dengan permukiman warga, bahkan halaman rumah dimanfaatkan untuk menjemur biji kopi setelah melalui proses pengolahan.

Di Dusun Lerek, hampir setiap rumah memiliki tanaman kopi. Salah seorang pemilik kebun, Mastridin, menyebut keberadaan kopi telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

"Hampir setiap rumah memiliki pohon kopi. Ini sudah ada turun temurun. Pohon-pohon kopi di sini sudah berusia puluhan tahun," ujarnya.

Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa kopi tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga membentuk identitas masyarakat di kawasan penghasil kopi Banyuwangi.

Namun, menghasilkan kopi berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan panen. Perjalanan kopi masih berlanjut melalui serangkaian proses pascapanen yang menentukan mutu biji hingga cita rasa saat diseduh.

Buah kopi dipetik ketika telah matang sempurna, ditandai warna merah tua. Selanjutnya buah menjalani tahapan pengupasan, pencucian, fermentasi, pengeringan, penyimpanan, hingga penggilingan sebelum akhirnya memasuki proses penyangraian atau roasting.

Seluruh tahapan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas kopi. Kesalahan dalam proses pascapanen dapat memengaruhi aroma maupun karakter rasa yang dihasilkan.

Pakar kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Ninik Purwaningsih, menegaskan kualitas kopi sangat ditentukan sejak awal pengolahan.

"Agar aroma dan rasa terbaiknya muncul, perlu perlakuan yang sangat ketat sejak awal, baik proses fermentasi pemerapan, pencucian dan pengeringan," jelasnya.

Menurut Ninik, setiap jenis kopi memiliki karakter cita rasa yang berbeda. Karena itu, proses pengolahan hingga penyimpanan harus dilakukan secara tepat agar karakter khas kopi tetap terjaga.

Di Gombengsari, proses penyangraian secara tradisional masih dipertahankan. Biji kopi disangrai menggunakan wajan tanah liat di atas tungku batu bata hingga menghasilkan aroma khas. Setelah itu, kopi ditumbuk atau digiling menjadi bubuk yang siap diseduh.

Proses tradisional tersebut kini juga menjadi daya tarik wisata. Pengunjung dapat menyaksikan secara langsung perjalanan kopi mulai dari kebun hingga menjadi minuman siap konsumsi.

Perkembangan industri kopi Banyuwangi juga mendorong petani meningkatkan nilai tambah hasil panen. Jika sebelumnya sebagian besar hanya menjual kopi dalam bentuk biji mentah atau ose, kini berbagai kelompok tani mulai mengolah hasil panen menjadi kopi bubuk dalam kemasan dengan merek lokal.

Salah seorang petani kopi, Mohamad Suwandi, mengaku pelatihan pengolahan kopi memberinya pemahaman baru untuk meningkatkan nilai jual hasil panen.

"Ikut ini supaya lebih tahu bagaimana mengolah kopi yang benar sehingga saya tidak hanya menjual kopi secara ose (gelondongan)," katanya.

Langkah tersebut membuka peluang bagi petani memperoleh keuntungan lebih besar melalui proses pengolahan dan pemasaran secara mandiri.

Di sisi lain, perkembangan industri kopi Banyuwangi juga semakin banyak melibatkan generasi muda. Mereka tidak hanya menjadi petani, tetapi juga mengembangkan usaha sebagai coffee roaster, barista, hingga pelaku bisnis kopi lokal.

Fenomena itu terlihat di Gombengsari maupun Kalibaru yang terus menghadirkan produk kopi kemasan hasil olahan anak muda. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus memperkenalkan kopi Banyuwangi kepada konsumen yang lebih luas.

Di Kalibaru, kelompok tani bahkan mengelola proses produksi secara terpadu mulai dari penanaman hingga pemasaran.

"Kami tergabung di kelompok tani dengan luasan lahan sekitar 15 hektar. Kami melakukan penanaman sekaligus pemrosesan kopi hingga melakukan pemasaran sendiri," ujar pegiat kopi muda Kalibaru, Muchamad Shodiq.

Berbagai festival kopi yang digelar di Banyuwangi turut menjadi ruang promosi bagi petani dan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk lokal sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Petani kalipuro Gombengsari banyuwangi kopi