RADAR BANYUWANGI – Sepekan setelah tragedi kapal jurek KMN Inovasi yang menewaskan empat nelayan di Perairan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, bangkai kapal hingga kini masih belum berhasil dievakuasi. Kapal yang terbalik dihantam gelombang pada Senin dini hari (20/7) itu bahkan telah bergeser sekitar 0,5 hingga 1 kilometer dari lokasi awal sebelum akhirnya tertanam di dasar laut, membuat proses pengangkatan semakin sulit.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi nelayan maupun petugas yang sejak beberapa hari terakhir berupaya mengangkat badan kapal. Material pasir yang terus masuk ke dalam lambung kapal diduga membuat bobotnya bertambah, sementara sebagian badan kapal telah menancap di dasar perairan.
Diketahui, KMN Inovasi mengalami kecelakaan laut di kawasan Plawangan, Perairan Grajagan, saat membawa 31 nelayan yang baru kembali melaut. Dalam insiden tersebut, 27 orang berhasil selamat, sedangkan empat nelayan meninggal dunia.
Komandan Pos TNI AL Grajagan Peltu Andik Karvianto mengatakan, posisi bangkai kapal yang telah bergeser setelah tenggelam kini relatif tidak berubah lagi hingga Sabtu (26/7).
"Sudah banyak pasir yang masuk dan bagian kapal juga sudah menancap ke dasar laut, jadi sulit untuk dievakuasi," ujarnya.
Menurut Andik, kondisi dasar laut yang dipenuhi endapan pasir membuat upaya menarik kapal dengan tenaga dari permukaan belum membuahkan hasil.
Keterangan serupa disampaikan salah seorang nelayan Grajagan, Mualif. Ia menyebut para nelayan telah beberapa kali mencoba mengevakuasi bangkai kapal, namun seluruh upaya belum berhasil menggerakkan badan kapal sedikit pun.
Percobaan pertama dilakukan pada Rabu siang (22/7) menggunakan dua kapal jurek dengan ukuran yang sama. Namun, tarikan tersebut tidak mampu mengangkat kapal dari dasar laut.
Pada malam harinya, upaya kembali dilakukan dengan melibatkan empat kapal jurek secara bersamaan. Meski tenaga yang dikerahkan lebih besar, hasilnya tetap nihil.
"Pada Rabu malam (22/7), ditarik menggunakan empat kapal, tali tampar malah sempat putus. Padahal kondisi air sudah pasang," terang Mualif.
Ia memperkirakan peluang evakuasi baru akan lebih besar ketika air laut mencapai pasang tertinggi saat bulan purnama. Ketinggian permukaan air dinilai dapat membantu mengurangi beban tarikan terhadap bangkai kapal yang kini tertanam di pasir.
"Semoga bisa dievakuasi pada tanggal 15 kalender Jawa atau saat bulan purnama," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kecelakaan laut tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WIB, Senin dini hari (20/7). KMN Inovasi, kapal jurek berukuran sekitar 25–30 Gross Tonnage (GT), sedang dalam perjalanan pulang usai melaut menuju Pelabuhan Grajagan.
Saat memasuki jalur sempit Plawangan, kawasan yang dikenal memiliki arus deras dan gelombang tinggi, kapal dihantam ombak setinggi sekitar 1 hingga 2 meter. Benturan gelombang membuat kapal kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik.
Tragedi itu merenggut nyawa empat nelayan, sementara 27 penumpang lainnya berhasil diselamatkan.
Hingga kini, proses evakuasi bangkai KMN Inovasi masih menunggu kondisi alam yang lebih mendukung. Nelayan berharap pasang air saat bulan purnama dapat menjadi momentum untuk mengangkat kapal dari dasar laut, sekaligus mengakhiri proses penanganan kecelakaan yang menyita perhatian masyarakat pesisir selatan Banyuwangi. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin