RADAR BANYUWANGI – Puluhan peserta Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU) yang diselenggarakan PCNU Banyuwangi mengikuti ziarah ke maqbarah para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses kaderisasi untuk menyambung sanad perjuangan, mengenalkan sejarah perjuangan ulama perintis, sekaligus menanamkan semangat pengabdian kepada generasi penerus NU.
Ziarah dilaksanakan sebagai rangkaian pendidikan kader yang tidak hanya menitikberatkan pada penguatan wawasan organisasi dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, tetapi juga membangun ikatan emosional kader dengan para ulama yang meletakkan fondasi Nahdlatul Ulama di Banyuwangi.
Rombongan memulai perjalanan dengan berziarah ke kompleks pemakaman keluarga di Kelurahan Singonegaran untuk mendoakan KH. Syamsuri dan KH. Ma'shum. Setelah itu, rombongan melanjutkan ziarah ke maqbarah KH. Sholeh di Kelurahan Lateng.
Di setiap lokasi, peserta mengikuti pembacaan tahlil, doa bersama, serta mendengarkan pemaparan mengenai sejarah perjuangan para tokoh NU Banyuwangi yang berperan besar dalam membangun dan mengembangkan organisasi sejak masa awal berdirinya.
Kader Rasakan Pengalaman Spiritual
Salah seorang peserta, Hikmatul Kamilah, yang sehari-hari bertugas sebagai Penyuluh Agama di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, mengaku memperoleh pengalaman yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memberikan penguatan spiritual.
Menurutnya, ziarah tersebut semakin menumbuhkan semangat untuk mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.
"Saya merasa terpanggil untuk lebih banyak berbuat yang terbaik bagi Nahdlatul Ulama. Beruntung saya mengikuti kegiatan ini karena memberikan dampak yang sangat besar terhadap pemahaman dan hikmah perjuangan saya di NU," ungkapnya.
Kesan serupa disampaikan Hidayat, peserta putra yang juga menjabat sebagai Sekretaris MWCNU Kalipuro.
Ia menilai konsep kaderisasi PDPKPNU yang diterapkan PCNU Banyuwangi menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan pendidikan dan pelatihan organisasi pada umumnya.
"Sebagai pengurus struktural, rasanya belum lengkap jika belum mengikuti PDPKPNU. Selain memang menjadi kewajiban bagi fungsionaris sebagaimana diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama, saya juga merasa masih harus terus belajar. Kalau bisa, setiap bulan saya ingin ikut lagi," ujarnya.
Mengenalkan Kembali Jejak Muassis NU Banyuwangi
Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Haikal Kafili, yang turut mendampingi peserta dan merupakan dzuriyah KH. Syamsuri, menjelaskan bahwa ziarah memiliki posisi penting dalam proses pembentukan karakter kader.
Menurutnya, kunjungan ke maqbarah KH. Ma'shum yang pernah menjabat Rais PCNU Banyuwangi dan KH. Syamsuri sebagai Katib pertama PCNU Banyuwangi bertujuan memperkenalkan kembali kiprah para ulama yang selama ini belum banyak diketahui generasi muda.
Haikal menyebut masyarakat selama ini lebih akrab dengan nama KH. Sholeh Lateng karena pernah menjadi salah satu pengurus pusat Nahdlatul Ulama sekaligus Mustasyar pertama PCNU Banyuwangi. Padahal, KH. Ma'shum dan KH. Syamsuri juga memiliki kontribusi besar dalam merintis dan mengembangkan NU di Banyuwangi.
"Selama ini masyarakat lebih banyak mengenal perjuangan KH. Sholeh Lateng karena beliau pernah menjadi salah satu pengurus pusat Nahdlatul Ulama sekaligus Mustasyar pertama PCNU Banyuwangi. Padahal KH. Ma'shum dan KH. Syamsuri juga memiliki jasa yang sangat besar dalam membangun, merintis, dan menggerakkan NU di Banyuwangi. Melalui ziarah ini, para kader diharapkan dapat meneladani keilmuan, keikhlasan, dan semangat pengabdian beliau-beliau sebagai bekal melanjutkan estafet perjuangan Nahdlatul Ulama," jelasnya.
Menyiapkan Kader Berbasis Sanad Keilmuan
Melalui kegiatan ziarah ini, PCNU Banyuwangi berharap proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan kader yang memahami tata kelola organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, akhlak, serta keterikatan terhadap sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama.
Dengan mengenal langsung jejak para muassis, para peserta diharapkan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan NU berlandaskan sanad keilmuan, keteladanan, dan nilai-nilai pengabdian yang diwariskan para ulama pendahulu. Bagi PCNU Banyuwangi, kader yang kuat bukan hanya lahir dari pemahaman organisasi, tetapi juga dari penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin