RADAR BANYUWANGI – Riuh tawa ribuan anak menggema di Taman Blambangan, Banyuwangi, Sabtu (25/7). Mereka berlarian memainkan gobak sodor, engklek, lompat tali, egrang, hingga semprongan dalam Festival Memengan Tradisional. Di tengah era digital, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengajak generasi Alpha kembali mengenal permainan warisan leluhur sebagai sarana membangun karakter sekaligus mengurangi ketergantungan pada gawai.
Festival yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional itu diikuti hampir seribu siswa jenjang TK dan SD dari 25 kecamatan di Banyuwangi. Mereka diberi ruang untuk merasakan keseruan berbagai permainan tradisional yang kini mulai jarang dimainkan.
Salah satunya dirasakan Amelia, siswi kelas VI SDN 1 Segobang, Kecamatan Licin. Bersama tiga temannya, ia tampak antusias memainkan semprongan, permainan meniup karet gelang yang diawali dengan hompimpa untuk menentukan giliran bermain.
Amelia mengaku baru pertama kali mengenal permainan tersebut. Meski begitu, ia langsung menikmati keseruannya.
"Saya tidak pernah tahu mainan ini, tapi asyik. Orang tua saya kadang ikut main kalau saya mencoba di rumah. Ibu juga pernah main," ujarnya sambil tersenyum setelah berhasil mengalahkan teman-temannya.
Tak hanya semprongan, anak-anak juga mencoba berbagai permainan tradisional lain seperti congklak, bekel, terompah, hula hoop, bedil-bedilan, mobil-mobilan dari kulit buah pomelo, kiling, tarik tambang, hingga gobak sodor. Permainan-permainan itu menghadirkan suasana penuh keceriaan sekaligus menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Festival Memengan Tradisional merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah melestarikan kurikulum pendidikan karakter yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai penting seperti kecerdasan sosial, kerja sama, kemampuan memecahkan masalah, disiplin, hingga sportivitas saat menerima kekalahan.
"Semua permainan tersebut mengandung nilai positif. Ini bisa kita lihat lewat permainan tradisional yang dimainkan hari ini," ujar Ipuk saat membuka Festival Memengan Tradisional.
Lebih jauh, Ipuk berharap festival tersebut mampu menjadi penyeimbang di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Anak-anak, kata dia, tetap perlu berinteraksi langsung dengan teman sebaya agar tumbuh dengan karakter yang kuat.
"Teknologi tidak bisa kita hindarkan dari anak-anak. Namun, kita bisa mencari penyeimbang agar teknologi tidak sampai merusak karakter mereka. Salah satunya dengan diberikan ruang berinteraksi semacam ini," katanya.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjelaskan, Festival Memengan menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Anak Nasional yang melibatkan hampir seribu peserta dari jenjang TK dan SD di seluruh Banyuwangi.
Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi Alpha sekaligus memastikan warisan budaya itu tetap lestari di tengah perubahan zaman.
"Kegiatan ini untuk mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak dan melestarikannya," ujarnya.
Selain Festival Memengan Tradisional, peringatan Hari Anak Nasional di Banyuwangi juga diramaikan Pameran Karya Pelajar yang menampilkan beragam inovasi teknologi hasil kreasi siswa. Salah satunya automatic fish feeder buatan siswa SMPN 1 Banyuwangi yang mampu mengatur jadwal dan jumlah pakan ikan secara otomatis.
Berbagai kegiatan lain seperti lomba story telling dan Padang Ulanan yang menampilkan potensi seni dan budaya pelajar turut melengkapi perayaan tersebut.
Melalui perpaduan permainan tradisional dan inovasi teknologi, Banyuwangi ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan kemajuan zaman dapat berjalan beriringan. Anak-anak diajak tetap akrab dengan teknologi, namun tidak melupakan nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan karakter yang tumbuh dari permainan tradisional. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin