RADAR BANYUWANGI – Semangat pendidikan inklusif terasa kuat dalam peringatan Hari Anak Nasional yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Festival Memengan Tradisional di Taman Blambangan, Sabtu (25/7). Anak-anak berkebutuhan khusus tampil percaya diri di atas panggung, berkolaborasi dengan siswa lainnya dalam pertunjukan seni yang menyita perhatian ratusan penonton.
Kolaborasi tersebut menjadi pesan kuat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkarya, berprestasi, dan memperoleh ruang dalam dunia pendidikan. Tanpa memandang perbedaan kemampuan, para peserta tampil membawakan tarian daerah hingga musik tradisional dengan penuh semangat.
Festival melibatkan siswa dari berbagai sekolah yang dibagi berdasarkan lima daerah pemilihan (dapil) di Banyuwangi. Mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia, mereka tampil kompak dan harmonis, mencerminkan nilai kebersamaan sekaligus keberagaman.
Momentum Hari Anak Nasional itu sekaligus menjadi panggung bagi implementasi pendidikan inklusif di Banyuwangi. Anak berkebutuhan khusus mendapat kesempatan yang sama untuk menunjukkan bakat dan kemampuan mereka bersama teman-teman lainnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Festival Memengan Tradisional merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah melestarikan permainan tradisional sekaligus memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda.
"Festival Memengan Tradisional ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Banyuwangi untuk melestarikan kurikulum pendidikan karakter yang dibangun leluhur," ujarnya.
Selain pertunjukan seni, festival juga menghadirkan beragam permainan tradisional yang mengajak anak-anak kembali mengenal warisan budaya lokal. Melalui aktivitas tersebut, peserta diajak belajar membangun kecerdasan sosial, kerja sama tim, kemampuan memecahkan masalah, hingga kedisiplinan.
"Melalui festival ini, anak-anak belajar tentang kecerdasan sosial, kerja sama tim, kemampuan memecahkan masalah hingga disiplin," tambah Ipuk.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menegaskan, peringatan Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, anak merupakan subjek pembangunan yang harus mendapatkan ruang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang.
"Bagi kami, esensi Hari Anak Nasional bukan hanya sekadar seremonial. Anak adalah subjek pembangunan. Karena itu, kami terus memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh, berkembang, serta memperoleh pendidikan yang berkualitas," katanya.
Alfian menilai setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menemukan, membina, dan mengembangkan setiap potensi tersebut, termasuk pada anak berkebutuhan khusus.
"Kita harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk mengembangkan potensinya. Kami percaya setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda, hanya cara, waktu, dan bidang pengembangannya yang tidak sama," ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh siswa jenjang TK dan SD dilibatkan dalam Festival Memengan Tradisional, termasuk anak berkebutuhan khusus dan anak istimewa yang tampil bersama peserta lainnya dalam satu panggung.
"Tugas pendidikan adalah menemukan dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri setiap siswa," tegas Alfian.
Melalui kolaborasi tanpa sekat tersebut, Festival Memengan Tradisional tidak hanya menjadi perayaan Hari Anak Nasional, tetapi juga memperlihatkan komitmen Banyuwangi dalam membangun pendidikan yang inklusif. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat: setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, belajar, dan bersinar sesuai potensinya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin